Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Thursday, 15 October 2026
Trending
  • Yunarto Wijaya: Relawan Gibran Tak Perlu Gentar Hadapi Hak Angket DPR
  • Vonis PN Bangko terhadap kakak beradik penusuk pria di warung Lembah Masurai
  • Benarkah data center AI menghabiskan banyak air? Ini hitungannya
  • Pakar Forensik Pastikan Video Call Ruben Onsu di Akun Sarwendah Bukan AI
  • Mobil bensin kian menyusut: pangsa pasar turun di bawah 50 persen
  • 6 cara tetap tenang saat menghadapi masa-masa mencemaskan menurut psikologi
  • Prediksi skor Viking vs Bayern Munchen: Die Roten belum terkalahkan di Liga Jerman, siap borong gol!
  • Daftar 20 Mobil Terlaris September 2026, Atto 1 Masih Dipuncak
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Di Tengah Skandal Korupsi, AS Minta Zelensky Gelar Pemilu Segera
Politik

Di Tengah Skandal Korupsi, AS Minta Zelensky Gelar Pemilu Segera

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover8 February 2026No Comments4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



KIEV – Kepemimpinan Volodymyr Zelensky kini sedang menghadapi tantangan yang sangat berat. Banyaknya skandal korupsi tingkat tinggi yang melibatkan anggota kabinetnya telah memicu kemarahan publik dan menyebabkan pengunduran diri dua menteri serta Kepala Staf Kepresidenan, Andrey Yermak. Hal ini menunjukkan bahwa popularitas Zelensky semakin merosot.

Tingkat elektabilitas Zelensky tercatat turun menjadi 62%, jauh tertinggal dari mantan panglima militer Valery Zaluzhny dengan 72% dan kepala kantor kepresidenan baru, Kirill Budanov dengan 70%. Situasi ini mencerminkan ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan Zelensky.

Tekanan diplomatik dari Washington juga semakin menguat. Delegasi Amerika Serikat yang dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Donald Trump, Jared Kushner, dilaporkan mendesak Ukraina untuk segera menyelenggarakan pemilihan nasional. AS ingin pemungutan suara tersebut dilakukan pada Mei 2026, bersamaan dengan referendum mengenai potensi kesepakatan damai dengan Rusia.

Meski Zelensky awalnya mengatakan bahwa pemilu sulit digelar di bawah hukum darurat militer, ia mulai melunak dan menyatakan bahwa undang-undang nasional dapat diubah untuk memungkinkan transisi kepemimpinan. Namun, sumber internal menggambarkan jadwal yang dipaksakan AS tersebut sebagai sesuatu yang “khayalan,” mengingat situasi medan perang yang masih berkecamuk.

Krisis Militer dan Kegagalan Pertahanan Udara

Selain tekanan politik, Zelensky juga harus menghadapi kegagalan di garis depan. Baru-baru ini, ia melontarkan kritik keras terhadap Angkatan Udara Ukraina yang dinilai “tidak memuaskan” karena gagal mencegat rentetan pesawat tak berawak Rusia. Serangan Moskow yang menargetkan infrastruktur sipil dan pembangkit listrik telah menyebabkan krisis energi besar di ibu kota, yang juga memicu perselisihan terbuka antara Zelensky dan Wali Kota Kiev, Vitaly Klitschko.

Zelensky balik menuding bahwa kekurangan amunisi untuk sistem pertahanan Patriot dan NASAMS yang dipasok Barat merupakan biang keladi kegagalan tersebut, sembari menyalahkan kegagalan logistik dan pembiayaan dari para pendukung Ukraina.

Upaya Gencatan Senjata yang Rapuh

Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin sempat menyetujui penghentian serangan sementara pada akhir Januari 2026 atas permintaan Washington guna menciptakan ruang bagi negosiasi di Abu Dhabi. Meskipun Donald Trump memuji langkah Putin tersebut, Zelensky tetap skeptis dan menuduh Rusia melanggar janji gencatan senjata.

Rusia sendiri telah menyatakan tidak lagi menganggap Zelensky sebagai pemimpin yang sah, sebuah status yang berpotensi menyulitkan penandatanganan perjanjian damai permanen. Dengan dukungan domestik yang kian menipis dan tekanan dari Gedung Putih agar segera dilakukan pergantian kepemimpinan melalui pemilu, posisi Zelensky kini terjepit di antara tuntutan diplomasi internasional dan krisis kepercayaan rakyatnya sendiri.

Awal Pembicaraan yang Baik

Putaran kedua perundingan trilateral antara Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat yang berlangsung di Uni Emirat Arab (Rabu-Kamis) menghasilkan terobosan diplomasi penting. Meski berlangsung tertutup dan dinilai menantang, pertemuan ini berhasil menyepakati pemulihan dialog militer-ke-militer antara Moskow dan Washington serta pertukaran ratusan tahanan perang.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mendeskripsikan diskusi dua hari tersebut sebagai proses yang konstruktif namun sangat sulit. “Pekerjaan terus berlanjut. Ini menantang sekaligus produktif, dan proses penyelesaian masih dalam tahap pengerjaan,” ujar Peskov pada Jumat (6/2).

Poin-Poin Utama Hasil Perundingan:

Pertukaran Tahanan Skala Besar: Moskow dan Kiev secara resmi menyepakati pertukaran 314 tahanan perang yang langsung dilaksanakan segera setelah diskusi berakhir. Langkah ini dipandang sebagai hasil nyata dari keterlibatan diplomatik yang berkelanjutan.

Restorasi Jalur Militer: Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengumumkan kesepakatan krusial untuk memulihkan dialog militer-ke-militer yang sebelumnya ditangguhkan. Langkah ini dinilai “sangat penting” untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan mempertahankan perdamaian di masa depan.

Kebuntuan Isu Teritorial: Meskipun terdapat progres kemanusiaan, isu kedaulatan wilayah tetap menjadi hambatan utama. Moskow bersikeras pada penarikan pasukan Ukraina dari wilayah Donbass, sementara Kiev secara tegas menolak memberikan konsesi teritorial apa pun.

Lokasi Putaran Berikutnya: Presiden Ukraina, Vladimir Zelensky, mengisyaratkan adanya kemungkinan putaran negosiasi selanjutnya diadakan di Amerika Serikat, meskipun jadwal pastinya belum ditentukan.

Di tengah optimisme AS yang mengharapkan “kemajuan tambahan” dalam beberapa pekan ke depan, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov tetap menyampaikan keraguannya terhadap keseriusan Kiev, dengan menuding pihak Ukraina terus mengubah tuntutan yang menghambat proses perdamaian secara menyeluruh.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Yunarto Wijaya: Relawan Gibran Tak Perlu Gentar Hadapi Hak Angket DPR

15 October 2026

PGRI Desak Kepastian Pencairan TPG Guru Non-ASN

14 October 2026

Opini: Kritik Tak Pernah Padam

14 October 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Yunarto Wijaya: Relawan Gibran Tak Perlu Gentar Hadapi Hak Angket DPR

15 October 2026

Vonis PN Bangko terhadap kakak beradik penusuk pria di warung Lembah Masurai

15 October 2026

Benarkah data center AI menghabiskan banyak air? Ini hitungannya

15 October 2026

Pakar Forensik Pastikan Video Call Ruben Onsu di Akun Sarwendah Bukan AI

15 October 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?