Potensi Air Laut sebagai Sumber Air Bersih di Kota Balikpapan
Kota Balikpapan dikelilingi oleh hamparan air laut yang luas, menghadap langsung ke Selat Makassar. Berbeda dengan tipe geografi ibukota Kalimantan Timur, Kota Samarinda yang hanya bersabuk sungai besar, kondisi geografis Balikpapan memberikan peluang unik dalam pengelolaan sumber daya air.
Air laut yang melimpah ruah bisa menjadi potensi sumber air bersih. Hal ini disampaikan oleh Wahyullah, anggota Komisi III DPRD Balikpapan saat ditemui di sela-sela acara Halalbihalal IKA Unhas di Hotel Pacific Balikpapan pada Sabtu 18 April 2026 pagi. Dalam diskusi tersebut, ia menyampaikan keluhan masyarakat terkait ketersediaan air bersih.
Balikpapan dibentuk pada 10 Februari 1897. Seiring pertumbuhan penduduk, kebutuhan akan air bersih semakin meningkat. Namun, hingga tahun 2026, masalah air bersih masih menjadi keluhan warga. PDAM pun memaparkan faktor-faktor penyebab krisis sumber air, seperti sumber air baku yang tidak memenuhi kebutuhan dan jaringan pipa yang rusak.
Lantaran hal itu, DPRD melihat program jangka panjang yang telah dikaji oleh Bappeda mengenai langkah alternatif lain dalam penyediaan air baku, yakni dari air laut, yang kemudian diubah menjadi air tawar untuk konsumsi sehari-hari.
Wahyullah memberikan contoh dari Singapura, yang memiliki tiga sumber air bersih: pipanisasi dari Malaysia, penampungan air hujan, dan desalinasi. Singapura sudah mempersiapkan solusi ini puluhan tahun lalu. Karena itu, Balikpapan perlu mempersiapkan solusi serupa karena jumlah penduduk yang akan terus bertambah.
Strategi Kota Balikpapan untuk mendongkrak sumber air bersih sudah muncul. Selain Bendungan Sepaku Semoi dan Sungai Mahakam, desalinasi juga dilirik. Wahyullah menjelaskan bahwa pihak swasta seperti PT Kutai Refinery Nusantara (KRN) grup Apical dan Pertamina sudah menerapkan desalinasi. Oleh karena itu, DPRD Balikpapan melihat potensi keterlibatan swasta dalam kontribusi memasok air bersih hasil dari proses desalinasi.
“Swasta diajak, punya kewajiban membantu program CSR, masyarakat yang terdekat bisa didukung, pasok air bersih,” ujar Wahyullah. Dia menegaskan bahwa desalinasi tidak harus menggiring ke isu privatisasi investor swasta sebagai pengelola. Cukup rangkul swasta melalui kegiatan sosialnya.
Desalinasi Sudah Diterapkan di Balikpapan
Bicara penyulingan air laut jadi tawar di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur sudah ada yang menerapkan, bukan lagi sekadar teori atau perdebatan wacana. Di PT Kutai Refinery Nusantara (KRN), grup Apical yang ada di Karang Joang Balikpapan, konsep desalinasi air laut sudah tidak di atas kertas lagi.
“Sudah kami terapkan, sudah bisa dirasakan,” kata Rully Andri, Kepala Operasional Desalinasi PT KRN saat ditemui di beranda Hotel Pacific Balikpapan. Produksi air yang dihasilkan dari proses desalinasi mencapai 125 ton per jam atau 375 meter kubik per jam. Hasil olahan tersebut digunakan untuk kebutuhan industri dan kebersihan, tetapi tidak boleh diminum langsung karena tidak ada kandungan mineralnya.
Sumber air laut diambil sekitar 1 kilometer dari tempat pengolahan. Biaya operasional desalinasi sangat besar, terutama listrik. Namun, kini ada solusi menggunakan batu bara dan sawit untuk menghasilkan listrik dan hemat biaya pengeluaran.
Analisis PDAM Disebut Sangat Mahal
Ali Rachman, Direktur Operasional PDAM Balikpapan, membeberkan tentang kajian pembiayaan investasi desalinasi air laut di Kota Balikpapan. Dalam waktu dekat, PDAM Balikpapan tidak menerapkan desalinasi air laut, baru sebatas kajian. Hasilnya ada angka biaya yang sangat fantastis.
“Biayanya besar sekali,” tutur Ali. Hitungan untuk 50 liter per detik untuk infrastruktur saja butuh dana Rp150 miliar hingga Rp300 miliar. “Baru infrastruktur utamanya saja itu, belum pipa jaringan untuk pendistribusiannya, beda lagi,” ujarnya.
Selain itu, ada lagi kajian biaya untuk proses produksi mengubah air laut ke tawar harus mengeluarkan biaya antara Rp14 ribu hingga Rp19 ribu. Prediksi harga jualnya ke konsumen sekitar Rp20 ribu lebih untuk per kubiknya.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Riza Huda Yarizka, Akademisi Teknik Lingkungan dari ITK Balikpapan, menyatakan tantangan saat desalinasi air laut benar-benar sudah terwujud biasanya pada bagian kendala pipa mampet dan penggantian filter yang harus periode tertentu. “Harusnya, biasanya, di negara-negara maju, seperti di Singapura, Australia, desalinasi air laut sudah bisa langsung dikonsumsi,” beber pria kelahiran Aceh ini.
Dia pun merasa sangat setuju bila konsep desalinasi air laut diterapkan secara meluas, tidak hanya sebatas industri tertentu, sebab ke depan, penduduk semakin bertambah, konsumsi air bersih mendesak dibutuhkan banyak. “Kebutuhan air terus meningkat, ada pertumbuhan industri dan aktivitas ekonomi. Apalagi Balikpapan penyangga IKN,” tutur Riza.



