Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 27 Agustus 2026
Trending
  • Hongqi memulai perjalanan di Indonesia, menghadirkan nama yang terbentuk dari sejarah
  • Dokter Hewan: Merawat Kucing untuk Kesehatan Keluarga
  • Profil dan Biodata Asta RAN, Musisi yang Aktif Sejak SMA
  • Kementerian PKP Butuh Rp106 Triliun, Dana Terbesar untuk Bedah Rumah
  • 7 fakta misteri rumah kosong di Flex X Cop 2, temukan 5 mayat!
  • Kalender Liturgi Katolik Hari Ini: Jumat, 21 Agustus 2026, Pesta Wajib St Pius X
  • Hasil D Academy 8 Top 31 Grup 5, Wakil Cirebon dan Garut Lolos
  • Jangan terkena panas, kunjungi 10 destinasi dingin di Indonesia ini
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Dedi Mulyadi usulkan 2 solusi penting atasi banjir Bandung Raya, butuh Rp7 miliar
Politik

Dedi Mulyadi usulkan 2 solusi penting atasi banjir Bandung Raya, butuh Rp7 miliar

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover30 April 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya Gubernur Dedi Mulyadi, telah mengungkapkan dua solusi utama untuk mengatasi masalah banjir yang sering terjadi di wilayah Bandung Raya. Solusi tersebut mencakup penggunaan lahan seluas 1.000 hektare dan alokasi anggaran sebesar Rp7 triliun.

Banjir yang baru saja melanda Bandung Raya disebabkan oleh luapan sungai Citarum dan anak-anak sungainya. Selain itu, hujan deras dengan intensitas tinggi yang terus-menerus mengguyur wilayah Kota dan Kabupaten Bandung sejak Jumat (10/4/2026) juga menjadi faktor utama. Akibatnya, beberapa wilayah di Bandung Raya terkena dampak banjir.

Menurut Dedi Mulyadi, dana sebesar Rp7 triliun diperlukan untuk membuat danau-danau sebagai tempat penampungan air. Hal ini dianggap sebagai solusi jangka panjang untuk mencegah banjir saat musim hujan tiba.

“Hitungan untuk penanganan banjir itu, diperlukan 1.000 hektare itu ya. Bandung Raya itu, untuk membuat danau-danau. Nilainya dulu, Rp7 triliun. Jadi kalau ingin bebas banjir, ya pakai alokasi itu,” ujar Dedi, Kamis (23/4/2026).



Dana sebesar Rp7 triliun yang disebutkan Dedi, menurutnya hanya mencakup biaya pembebasan lahan berdasarkan harga lama. Namun, total kebutuhan anggaran bisa jauh lebih besar karena belum termasuk biaya konstruksi dan pembangunan infrastruktur lainnya.

Untuk itu, Dedi meminta semua pihak untuk serius dalam menangani masalah banjir. Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama pemerintah daerah di Bandung Raya harus segera berkumpul untuk membahas skema pendanaan.

Wilayah yang terlibat dalam penanganan ini mencakup Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat yang semuanya kerap terdampak banjir.

“Dari sekarang harus dibicarakan, Rp7 triliun nanti kita dapat dari mana, kalau ingin bebas banjir,” ucapnya.

Penyebab Banjir di Bandung Barat

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkap penyebab banjir di Bandung Barat. Menurutnya, hal itu karena banyaknya alih fungsi lahan di Kawasan Bandung Utara (KBU).

Dedi menjelaskan bahwa pembukaan lahan hutan untuk perkebunan sayur yang tidak ramah lingkungan menyebabkan lahan kritis dan mempercepat pendangkalan sungai.

“Penyebabnya pendangkalan sungai dan kerusakan hulu. Hutannya kan sudah jadi kebon sayur, kebon sayurnya menanam pakai plastik,” ujar Dedi saat ditemui di Cipatat, Bandung Barat, Rabu (19/3/2025).

Oleh karena itu, Dedi berencana melakukan penertiban serupa dengan yang telah diterapkan di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.

“Saya akan beresin sama seperti (kawasan) Puncak, Bogor,” katanya.

Zulkifli (58), warga Kampung Cibarengkok, RT 03 RW 13, Desa Nyalindung, mengaku bahwa banjir baru terjadi dalam dua tahun terakhir. Ia menduga bencana ini bukan sekadar akibat hujan deras, melainkan dampak dari perubahan tata guna lahan dan proyek pembangunan di wilayah hulu.

“Hampir 60 tahun saya tinggal di sini, gak pernah ada banjir. Tapi dua tahun terakhir ini banjir jadi tiap tahun,” ujarnya.

“Saya duga ini akibat ada pengerasan di atas sana macam kereta cepat, jalan tol, dan pembangunan lain. Imbasnya penyerapan air berkurang,” kata Zulkifli.

“Harapan saya bagaimana di wilayah hulu pembangunan bisa dikendalikan. Agar warga yang tinggal di hilir gak menderita kena banjir,” tandasnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Kalender Liturgi Katolik Hari Ini: Jumat, 21 Agustus 2026, Pesta Wajib St Pius X

25 Agustus 2026

Prabowo Undang Paskibraka HUT ke-81 RI ke Hambalang, Beri Pesan Spesial Ini

25 Agustus 2026

UNIMMA kuatkan wisata halal dan UMKM Sumberarum dengan KriPaya dan digitalisasi

25 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Hongqi memulai perjalanan di Indonesia, menghadirkan nama yang terbentuk dari sejarah

25 Agustus 2026

Dokter Hewan: Merawat Kucing untuk Kesehatan Keluarga

25 Agustus 2026

Profil dan Biodata Asta RAN, Musisi yang Aktif Sejak SMA

25 Agustus 2026

Kementerian PKP Butuh Rp106 Triliun, Dana Terbesar untuk Bedah Rumah

25 Agustus 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?