Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya Gubernur Dedi Mulyadi, telah mengungkapkan dua solusi utama untuk mengatasi masalah banjir yang sering terjadi di wilayah Bandung Raya. Solusi tersebut mencakup penggunaan lahan seluas 1.000 hektare dan alokasi anggaran sebesar Rp7 triliun.
Banjir yang baru saja melanda Bandung Raya disebabkan oleh luapan sungai Citarum dan anak-anak sungainya. Selain itu, hujan deras dengan intensitas tinggi yang terus-menerus mengguyur wilayah Kota dan Kabupaten Bandung sejak Jumat (10/4/2026) juga menjadi faktor utama. Akibatnya, beberapa wilayah di Bandung Raya terkena dampak banjir.
Menurut Dedi Mulyadi, dana sebesar Rp7 triliun diperlukan untuk membuat danau-danau sebagai tempat penampungan air. Hal ini dianggap sebagai solusi jangka panjang untuk mencegah banjir saat musim hujan tiba.
“Hitungan untuk penanganan banjir itu, diperlukan 1.000 hektare itu ya. Bandung Raya itu, untuk membuat danau-danau. Nilainya dulu, Rp7 triliun. Jadi kalau ingin bebas banjir, ya pakai alokasi itu,” ujar Dedi, Kamis (23/4/2026).

Dana sebesar Rp7 triliun yang disebutkan Dedi, menurutnya hanya mencakup biaya pembebasan lahan berdasarkan harga lama. Namun, total kebutuhan anggaran bisa jauh lebih besar karena belum termasuk biaya konstruksi dan pembangunan infrastruktur lainnya.
Untuk itu, Dedi meminta semua pihak untuk serius dalam menangani masalah banjir. Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama pemerintah daerah di Bandung Raya harus segera berkumpul untuk membahas skema pendanaan.
Wilayah yang terlibat dalam penanganan ini mencakup Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat yang semuanya kerap terdampak banjir.
“Dari sekarang harus dibicarakan, Rp7 triliun nanti kita dapat dari mana, kalau ingin bebas banjir,” ucapnya.
Penyebab Banjir di Bandung Barat
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkap penyebab banjir di Bandung Barat. Menurutnya, hal itu karena banyaknya alih fungsi lahan di Kawasan Bandung Utara (KBU).
Dedi menjelaskan bahwa pembukaan lahan hutan untuk perkebunan sayur yang tidak ramah lingkungan menyebabkan lahan kritis dan mempercepat pendangkalan sungai.
“Penyebabnya pendangkalan sungai dan kerusakan hulu. Hutannya kan sudah jadi kebon sayur, kebon sayurnya menanam pakai plastik,” ujar Dedi saat ditemui di Cipatat, Bandung Barat, Rabu (19/3/2025).
Oleh karena itu, Dedi berencana melakukan penertiban serupa dengan yang telah diterapkan di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.
“Saya akan beresin sama seperti (kawasan) Puncak, Bogor,” katanya.
Zulkifli (58), warga Kampung Cibarengkok, RT 03 RW 13, Desa Nyalindung, mengaku bahwa banjir baru terjadi dalam dua tahun terakhir. Ia menduga bencana ini bukan sekadar akibat hujan deras, melainkan dampak dari perubahan tata guna lahan dan proyek pembangunan di wilayah hulu.
“Hampir 60 tahun saya tinggal di sini, gak pernah ada banjir. Tapi dua tahun terakhir ini banjir jadi tiap tahun,” ujarnya.
“Saya duga ini akibat ada pengerasan di atas sana macam kereta cepat, jalan tol, dan pembangunan lain. Imbasnya penyerapan air berkurang,” kata Zulkifli.
“Harapan saya bagaimana di wilayah hulu pembangunan bisa dikendalikan. Agar warga yang tinggal di hilir gak menderita kena banjir,” tandasnya.



