Pemain Sepak Bola Muslim Berpuasa Selama Ramadan di Liga-Liga Top Eropa
Di tengah tuntutan kompetisi sepak bola tingkat atas, banyak pemain sepak bola Muslim di liga-liga top Eropa tetap menjalankan ibadah puasa selama Ramadan. Dari Inggris hingga Spanyol, Prancis, Jerman, dan Italia, para pemain berusaha menyeimbangkan antara kewajiban spiritual dan kebutuhan profesional mereka.
Banyak klub telah mengambil langkah-langkah untuk membantu pemain yang berpuasa. Di Liga Primer Inggris, misalnya, terdapat 55 pemain Muslim di 20 klub. Klub-kab ini menerapkan protokol “Jeda Alami” agar pemain bisa minum atau makan sedikit saat matahari terbenam. Wasit juga memiliki rencana permainan yang jelas: jika pertandingan masih berlangsung saat Iftar, mereka akan mencari jeda singkat dalam pertandingan, seperti tendangan gawang atau lemparan ke dalam. Proses ini biasanya hanya memakan waktu sekitar satu menit.
Beberapa bintang sepak bola seperti Mohamed Salah, Noussair Mazraoui, dan Amad Diallo menjalani puasa sambil bermain. Mazraoui menyatakan bahwa imannya adalah prioritas utama baginya. “Bermain sambil berpuasa sama seperti bermain di bulan-bulan lainnya, tetapi tanpa makanan atau air,” ujarnya. Sementara itu, Diallo menambahkan bahwa ia melakukannya karena Allah dan merasa senang berpuasa.
Di Liga Premier, pemain Muslim lainnya termasuk William Saliba (Arsenal FC), Wesley Fofana (Chelsea FC), Amadou Onana (Aston Villa FC), Mohammed Kudus (Tottenham), Yves Bissouma (Tottenham), dan Idrissa Gueye (Everton). Mereka semua tetap menjalankan ibadah puasa meskipun dalam kondisi fisik yang berat.
La Liga: Penyesuaian Nutrisi dan Perencanaan Performa
La Liga memiliki 34 pemain Muslim musim ini. Klub-klub di Spanyol mengandalkan departemen ilmu olahraga untuk mengelola atlet yang berpuasa dengan rencana nutrisi dan pemulihan khusus. Di FC Barcelona, Lamine Yamal mengikuti rencana nutrisi pribadi yang fokus pada pengisian kembali glikogen semalaman. Yamal berkata bahwa puasa tidak memengaruhi performanya, karena klub sepenuhnya siap untuk ini.
Meskipun tidak ada jeda khusus untuk berbuka puasa, wasit tidak keberatan jika seorang pemain minum dengan cepat selama lemparan ke dalam. Pemain Muslim Barcelona lainnya adalah Ansu Fati. Di Real Madrid, Antonio Rüdiger, Arda Güler, dan Brahim Díaz sedang menjalankan Ramadhan.
Pemain Muslim lainnya di La Liga antara lain Vedat Muriqi (RCD Mallorca), Pape Gueye (Villarreal CF), Lucien Agoumé (Sevilla FC), dan Pathé Ciss (Rayo Vallecano).
Ligue 1 / Ligue 2: Tidak Ada Jeda Resmi
Prancis tetap menjadi pengecualian pada tahun 2026. FFF mempertahankan posisinya pada tahun 2024–2025: jeda resmi untuk berbuka puasa dilarang sepenuhnya, dengan alasan “netralitas.” Akibatnya, pemain seperti Achraf Hakimi (PSG) atau Ilan Kebbal (Paris FC) harus menunggu hingga babak pertama atau akhir pertandingan, kecuali jika terjadi penghentian secara alami, seperti cedera atau intervensi VAR.
Pemain puasa Ligue 1 lainnya antara lain Sofiane Diop (OGC Nice), Eliesse Ben Seghir (AS Monaco), Amine Gouiri (Stade Rennais), dan Lamine Camara (AS Monaco). Mereka harus mengatur puasa sendiri tanpa jeda resmi.
Bundesliga dan Serie A: Pendekatan Fleksibel
Di Jerman dan Italia, pendekatan terhadap pemain yang berpuasa lebih fleksibel. Di Bundesliga, wasit mengizinkan penghentian singkat jika diperlukan, dan klub menyediakan dukungan medis tingkat lanjut, termasuk minuman isotonik yang dikonsumsi sebelum fajar untuk menjaga daya tahan tubuh.
Pemain seperti Granit Xhaka (Bayer Leverkusen) dan Serhou Guirassy (Borussia Dortmund) berbuka puasa di pinggir lapangan jika diperlukan. Di Serie A Italia, wasit juga menunjukkan toleransi informal. Pemain-pemain ternama seperti Hakan Çalhanoğlu (Inter Milan), Ismaël Bennacer (AC Milan), dan Youssouf Fofana (AC Milan) diizinkan istirahat singkat dan diam-diam untuk menghidrasi dan mengisi kembali energi, biasanya selama jeda alami atau dengan koordinasi staf.
Klub-klub di kedua negara tersebut dengan cermat merencanakan nutrisi sebelum subuh untuk membantu menjaga performa sepanjang pertandingan.
Pemain Muslim Terkenal yang Tetap Berpuasa Meski Bermain di Luar Negeri
Banyak pemain Muslim terkenal yang telah meninggalkan liga-liga top Eropa tetap berpuasa selama Ramadan meskipun bermain di luar negeri. Karim Benzema baru-baru ini bergabung dengan Al Hilal, yang terkenal karena mempertahankan performa yang kuat selama Ramadan, termasuk penampilan luar biasa dan tak terlupakan untuk Real Madrid pada tahun 2022. Pemain lain adalah Sadio Mané di Al Nassr, Riyad Mahrez (Al Ahli), Kalidou Koulibaly (Al Hilal), dan Youssef En-Nesyri dari Maroko (Al Ittihad).



