Pengalaman Pilu Mbah Kirno di Kerangkeng Besi
Di belakang rumah Sarti, warga Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, masih terdapat sebuah kerangkeng besi yang menjadi saksi bisu penderitaan Mbah Kirno (60). Kerangkeng berukuran sekitar setengah meter lebar, satu meter tinggi, dan dua meter panjang itu menjadi tempat hidupnya selama bertahun-tahun sebelum akhirnya dievakuasi untuk menjalani perawatan medis.
Mbah Kirno dulunya dikenal sebagai seniman reog, karawitan, dan MC pengantin dengan suara merdu. Ia aktif dalam berbagai acara kesenian dan sering menjadi pembawa acara pernikahan. Suaranya yang khas membuat semua orang mengagumi kepiawaiannya. Namun, di balik bakat seni tersebut, ia juga memiliki ketertarikan mendalam terhadap ilmu kebatinan dan kanuragan. Ia kerap menjalani ritual puasa dan mencari guru spiritual di daerah Malang dan Tulungagung.
Kondisi kejiwaan Mbah Kirno mulai menunjukkan penurunan drastis setelah perceraiannya dengan sang istri. Perilaku sehari-harinya berubah, termasuk kebiasaan tidak tidur di malam hari. Keluarga sempat membawanya ke Trenggalek pada awal 2000-an, tetapi kondisinya justru semakin memburuk. Ia kerap mengamuk dan mengancam keselamatan anggota keluarga. Situasi semakin membahayakan ketika Mbah Kirno pernah mengancam akan membunuh anggota keluarga, termasuk ayah Adi, yang bahkan sempat diajak berkelahi di area persawahan.
Demi mencegah jatuhnya korban, pada tahun 2006 keluarga akhirnya mengambil langkah berat dengan memasukkan Mbah Kirno ke dalam kerangkeng besi. Uniknya, kerangkeng tersebut diberi ganjal kayu agar tidak menyentuh tanah atas saran “orang pintar”. “Saran orang pintar tidak boleh menyentuh tanah agar kekuatannya berkurang. Kalau bagi kami, itu agar lebih mudah membersihkan bekas buang air besar,” jelas Adi Prayitno, keponakan korban.
Saking kuatnya, Mbah Kirno dikabarkan sering merusak sambungan las besi dengan piring, bahkan sempat memakan besi yang berhasil dicongkelnya. Hal inilah yang membuat keluarga memberikan lapisan jeruji besi hingga tiga lapis.
Harapan Baru di Yayasan Purnomo
Kepala Desa Temon, Suwata, mengakui pihaknya telah berupaya memberikan bantuan melalui Dana Desa dan mencoba membuatkan KTP agar Mbah Kirno bisa mendapatkan layanan medis gratis. Namun, kendala di lapangan sering terjadi, termasuk ketakutan tenaga kesehatan saat hendak menyuntik pasien.
Kini, melalui tangan Ipda Purnomo, Mbah Kirno mulai menunjukkan perkembangan positif. Dalam video di akun Instagram @purnomopolisibaik, Mbah Kirno terlihat sudah bisa diajak berolahraga, menghafal surat pendek, hingga melaksanakan shalat Jumat berjamaah. “Kayaknya dia memang belajar ilmu. Tapi jangan sampai gara-gara punya ilmu, dia dipasung. Dia harus mendapatkan pengobatan medis dan rukyah, serta perhatian anak-anaknya,” tutur Purnomo dalam unggahannya.
Keluarga besar Mbah Kirno menyimpan harapan besar terhadap proses pemulihan yang kini dijalaninya. Adi Prayitno berharap pamannya dapat kembali menjalani kehidupan normal seperti dahulu. “Kita berharap yang terbaik, Mbah Kirno bisa sembuh dan beraktivitas seperti biasa,” ujar Adi saat ditemui di rumahnya, Minggu (31/1/2026).



