Berita Terkini dari Provinsi Riau
Pekanbaru menjadi pusat perhatian beberapa berita menarik dalam 24 jam terakhir. Dari aksi demonstrasi warga Rohingya hingga keluhan seorang dokter IGD yang viral di media sosial, berikut adalah rangkuman lengkapnya.
Aksi Demo Warga Rohingya di Pekanbaru
Seratusan warga Rohingya di Pekanbaru melakukan aksi demo di samping kantor International Organization for Migration (IOM) pada hari Senin (19/1/2026). Mereka menggelar spanduk untuk menyampaikan aspirasinya terkait kebutuhan hidup yang semakin sulit.
Warga Rohingya ini merupakan keluarga yang kini tinggal sebagai imigran di Pekanbaru. Mereka menuntut bantuan yang layak untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, susu anak, dan pengobatan. Sejak tahun 2023, bantuan kemanusiaan dari IOM disebut semakin berkurang. Bahkan, akses rumah sakit dan kebutuhan papan tidak lagi ditangani oleh IOM.
“Bagaimana kami hidup. Kebutuhan makan, susu anak sampai kesehatan di rumah sakit tidak lagi mencukupi uang yang diberikan,” ujar Muhammad Shobi, salah satu warga Rohingya kepada Indonesiadiscover.com.
Menurutnya, IOM sudah tidak lagi memfasilitasi rumah tempat tinggal yang layak. Dengan bantuan yang makin dikurangi, ia kemudian menggunakannya untuk biaya kontrak rumah. “Kontrak rumah saja sudah Rp 800 sampai 900 ribu per bulan. Belum lagi untuk biaya kesehatan dan susu anak. Sementara bantuan yang diberikan hanya Rp 2.350.000 rupiah. Itu sama sekali tidak memadai,” ujarnya.
Dokter IGD RSUD Bangkinang Menjerit, Intensif Turun 83 Persen
Seorang dokter jaga IGD RSUD Bangkinang Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, viral di media sosial setelah menyampaikan keluh kesahnya terkait pemotongan intensif hingga 83 persen.

Postingan tersebut diunggah ke akun Instagram @medicstory.id pada Selasa (13/1/2026). Dokter tersebut menyampaikan bahwa insentif daerah yang sebelumnya diterimanya sebesar 5,6 juta rupiah, kini dipangkas hingga menjadi 850 ribu rupiah dengan alasan efisiensi. Hal ini membuat para dokter merasa dizalimi.
Selain itu, jasa medis yang belum cair mulai dari Maret 2025 hingga saat ini juga menjadi masalah. Alasan yang diberikan adalah untuk membayar hutang obat dan bahan habis pakai, meskipun anggaran tersebut seharusnya sudah ada sendiri.
Uang jaga malam juga dihapuskan untuk tahun ini, yang dinilai lebih tidak manusiawi. Shift dokter akan dikurangi, meski sebelumnya jaga dilakukan oleh tiga atau dua orang dokter.
Ketua IDI Kampar, dr. Ari Wirasto, M.H., CMC, menyatakan bahwa IDI memahami dinamika kebijakan keuangan pemerintah yang sedang berlangsung. Termasuk kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat yang berdampak hingga ke daerah.
IDI Cabang Kampar memandang hal ini sebagai isu yang perlu disikapi secara bijaksana, dialogis, dan komprehensif. Menurut dia, sektor kesehatan memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan sektor lainnya. Dokter dan tenaga kesehatan bekerja dengan beban kerja yang tinggi, tanggung jawab profesional yang besar, serta risiko medis dan tuntutan hukum yang tidak ringan dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
IDI Kampar berharap agar setiap kebijakan yang diambil dapat melalui komunikasi yang terbuka, pertimbangan yang matang, serta memperhatikan aspek keadilan dan keberlangsungan pelayanan kesehatan.



