Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 23 Mei 2026
Trending
  • Enam Karoseri Perkenalkan Bus Double Decker, Listrik hingga Sleeper di Busworld 2026
  • Seniman Bandung Ukir Legenda Persib dalam Patung
  • Mengenal Gracious Aging sebagai Arti Baru Kecantikan Matang
  • Keterampilan yang Perlu Anda Kuasai untuk Diperhatikan Perusahaan Besar
  • Kecepatan 246 KM/Jam! Pengakuan Veda Ega Usai Finis P8 di Moto3 Catalunya 2026
  • Kisah Ari Lasso: Tetap Eksis dan Berkarya Meski Pernah Terpuruk
  • 7 Tren Gaya Hidup yang Ditinggalkan Gen Z, Mengapa?
  • Lebih Suka SMS Daripada Telepon? Ini 8 Ciri Kepribadian Spesifik Menurut Psikologi
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Analisis Perdagangan BEI (9 Feb 2026): Jejak Strategi Serok Bawah
Ekonomi

Analisis Perdagangan BEI (9 Feb 2026): Jejak Strategi Serok Bawah

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover12 Februari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Analisis Perdagangan Saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Februari 2026

Pada tanggal 9 Februari 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan total perputaran likuiditas sebesar Rp15,84 triliun di pasar reguler. Fenomena yang menarik adalah adanya anomali dalam ticket size rata-rata pasar yang berada di angka Rp1,37 juta. Namun, beberapa emiten mencatatkan ticket size hingga puluhan juta rupiah. Hal ini menunjukkan kehadiran investor dengan modal besar yang memberikan jejak kaki yang sangat nyata di tengah fluktuasi harga saham.

Arus likuiditas menunjukkan dinamika yang kontras antara tekanan jual pada perusahaan-perusahaan besar dan akumulasi senyap pada sejumlah sektor infrastruktur serta energi. Berdasarkan data ringkasan saham harian, pasar reguler mencatatkan total transfusi likuiditas sebesar Rp15,84 triliun, sementara pasar non-reguler (negosiasi) menyumbang Rp1,97 triliun.

The Real Giants: Perang Foreign Flow vs Domestik

Di barisan saham berkapitalisasi pasar jumbo (Big Caps), Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) mengukuhkan posisinya sebagai monster likuiditas dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp1.076,98 triliun. BREN ditutup pada harga Rp8.050 per saham dengan foreign net flow positif sebesar 1,22 juta saham. Closing Strength Index (CSI) BREN yang berada di angka 0,67 mengindikasikan adanya perlawanan beli yang cukup kuat menjelang penutupan sesi.

Kontras dengan BREN, Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi sasaran distribusi masif. Dengan foreign net flow negatif sebesar 94,88 juta saham, BBCA tertekan ke level Rp7.500 per saham. Angka CSI yang rendah (0,18) menunjukkan dominasi penjual hingga akhir sesi, di mana harga penutupan sangat dekat dengan harga terendah harian.

Hal serupa menimpa Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang mencatatkan arus keluar asing sebesar 70,34 juta saham. Di sisi lain, Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) menunjukkan dominasi pembeli yang solid. DSSA mencatatkan CSI hampir sempurna (0,93), menandakan akumulasi agresif di harga atas, sementara AMMN bertahan dengan CSI 0,91 meskipun volume asing cenderung tipis.

Perburuan di Saham Lapis Kedua dan Ketiga

Pada segmen Mid-Small Cap, terdeteksi jejak kaki institusi pada saham-saham dengan ticket size jauh di atas median pasar (Rp1,37 juta). Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) mencuri perhatian dengan rata-rata nilai transaksi (ticket size) mencapai Rp19,57 juta per transaksi dan CSI sempurna 1,0. Ini mengindikasikan adanya tangan besar yang menyapu bersih penawaran hingga harga penutupan tertinggi.

Arkora Hydro Tbk. (ARKO) dan Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) juga masuk dalam radar hidden gems. ARKO mencatatkan nilai transaksi Rp40,11 miliar dengan ticket size Rp13,30 juta dan CSI 1,0. Aktivitas ini mencerminkan strategi akumulasi yang sangat terukur oleh pemodal besar tanpa memicu volatilitas berlebih di awal sesi.

Melacak Jejak Strategi Serok Bawah

Fenomena bottom fishing terlihat jelas pada saham Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC). Meskipun harga terkoreksi 5 poin ke Rp1.475 per saham, asing justru menyuntikkan likuiditas dengan akumulasi bersih sebanyak 16,90 juta saham. Pola serupa terjadi pada Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Meskipun harga TLKM melemah ke Rp3.350 per saham, tetap mengantongi net buy asing sebesar 5,46 juta. Investor nampaknya memanfaatkan pelemahan harga untuk membangun posisi pada aset-aset yang dianggap terdiskon.

BNBR (Bakrie & Brothers Tbk.) pun demikian: Meskipun terkoreksi, terdapat aliran masuk asing sebesar 9,96 juta saham. Ini menunjukkan adanya akumulasi di area support.

Penjelasan Istilah

Ticket Size:

Ticket Size adalah rata-rata nilai uang yang dikeluarkan dalam setiap satu kali transaksi. Cara Hitung: Total Nilai Transaksi dibagi Total Frekuensi.

– Ticket size Kecil: Biasanya didominasi oleh investor ritel yang bertransaksi dalam jumlah sedikit-sedikit.

– Ticket size Besar: Menandakan adanya “Smart Money” atau investor dengan dana besar yang masuk. Mereka tidak mungkin membeli saham hanya Rp1-2 juta sekali klik; mereka biasanya masuk dengan “tiket” bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah per transaksi.

CSI (Closing Strength Index):

CSI mengukur seberapa kuat harga penutupan sebuah saham dibandingkan dengan rentang harganya sepanjang hari itu.

– Logika Angka: Rentang angkanya adalah 0.0 sampai 1.0.

– CSI 1 (Sangat Kuat): Artinya saham tersebut ditutup di harga tertingginya hari itu (Closed at High). Ini menandakan pembeli sangat agresif sampai akhir sesi, tidak memberi ruang harga untuk turun.

– CSI 0.0 (Sangat Lemah): Artinya saham ditutup di harga terendahnya hari itu (Closed at Low). Penjual sangat dominan menekan harga hingga pasar tutup.

– CSI 0,5: Harga ditutup tepat di tengah-tengah antara harga tertinggi dan terendah.

Kenapa Penting?

CSI membantu kita melihat psikologi pasar. Jika sebuah saham punya CSI tinggi (misal di atas 0.8), berarti ada kepercayaan diri tinggi dari pelaku pasar untuk “menginapkan” saham tersebut karena ekspektasi harga masih akan naik besok.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Prabowo, Dolar, dan Kekacauan Komunikasi Publik

20 Mei 2026

Ramalan Zodiak Besok Senin 18 Mei 2026: Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces

20 Mei 2026

5 Peluang Bisnis Tarot yang Lebih dari Sekadar Prediksi

20 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Enam Karoseri Perkenalkan Bus Double Decker, Listrik hingga Sleeper di Busworld 2026

23 Mei 2026

Seniman Bandung Ukir Legenda Persib dalam Patung

23 Mei 2026

Mengenal Gracious Aging sebagai Arti Baru Kecantikan Matang

23 Mei 2026

Keterampilan yang Perlu Anda Kuasai untuk Diperhatikan Perusahaan Besar

23 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?