Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Wednesday, 28 October 2026
Trending
  • Klasemen Persebaya Surabaya melorot! Tavares bongkar 2 kesalahan jelang lawan PSM Makassar
  • Dua tahun Prabowo-Gibran, Kemenpora percepat transformasi dan ukir prestasi olahraga
  • DPRD NTT sebut ekonomi warga picu menjamurnya pengecer BBM
  • Bahaya Air Sabun untuk Wiper: Awas Kaca Mobil Rusak!
  • Kisah Awal Buya Hamka: Pencarian Jati Diri Sang Ulama Besar
  • Jadwal Pelni KM Tilongkabila hingga 26 November: Rute Bitung-Benoa & Singgahannya
  • Minta dipeluk permintaan terakhir Kamaruddin Simanjuntak sebelum meninggal, 2 tahun cuci darah
  • Gledson Paixao siap unjuk gigi bersama Persebaya Surabaya, waspadai ledakan PSM Makassar!
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Hobi»7 Tren Gaya Hidup yang Ditinggalkan Gen Z, Mengapa?
Hobi

7 Tren Gaya Hidup yang Ditinggalkan Gen Z, Mengapa?

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover23 May 2026No Comments4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perubahan Gaya Hidup Gen Z di Tengah Tantangan Ekonomi dan Kesehatan Mental

Gaya hidup generasi muda Indonesia, khususnya Gen Z, terus mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, tren gaya hidup lama yang kurang relevan mulai ditinggalkan secara perlahan. Berikut beberapa perubahan signifikan yang terjadi.

1. Mengurangi Budaya Hustle dan Glorifikasi Burnout

Dulu, sibuk sering dianggap sebagai tanda sukses. Budaya lembur, kerja tanpa henti, hingga kebiasaan membanggakan jam tidur minim sempat menjadi bagian dari hustle culture yang populer di media sosial. Namun, banyak Gen Z kini mulai mempertanyakan pola hidup tersebut karena dianggap mengorbankan kesehatan mental dan kualitas hidup.

Sebagai gantinya, generasi muda mulai lebih menghargai work-life balance, fleksibilitas kerja, dan waktu istirahat yang cukup. Kesuksesan kini tidak lagi selalu diukur dari seberapa sibuk seseorang, tetapi juga dari kemampuan menjaga hidup tetap seimbang.

2. Mengurangi Gaya Hidup Pamer dan Konsumtif

Budaya flexing sempat mendominasi media sosial beberapa tahun terakhir. Mulai dari pamer barang branded, staycation mewah, sampai gaya hidup konsumtif demi konten, semuanya pernah jadi simbol gaya hidup sukses. Namun di tengah biaya hidup yang semakin tinggi dan kondisi ekonomi yang tak menentu, banyak Gen Z mulai mengubah prioritas finansial mereka.

Riset menunjukkan bahwa 56% Gen Z mulai menerapkan gaya hidup frugal living. Generasi muda kini lebih aktif mencari promo, memanfaatkan diskon, hingga menekan pengeluaran yang dianggap tidak terlalu penting. Alih-alih membeli barang demi validasi sosial, Gen Z kini cenderung lebih selektif dalam mengeluarkan uang.

3. Menjaga Privasi Digital dan Membatasi Aktivitas Online

Era oversharing tampaknya mulai bergeser. Jika dulu media sosial dipenuhi update kehidupan sehari-hari secara real time, sekarang semakin banyak Gen Z yang memilih menjaga privasi digital mereka dan membatasi aktivitas online. Fenomena digital detox, private account, sampai dump account menjadi semakin umum.

Gen Z juga mulai meningkatkan kesadaran akan dampak negatif screen time berlebihan, mulai dari digital fatigue, kecemasan, hingga burnout akibat terus-menerus terkoneksi dengan dunia digital. Alih-alih benar-benar meninggalkan teknologi, banyak Gen Z kini mencoba membangun hubungan yang lebih sehat dengan media sosial.

4. Mengurangi Budaya Serba Cepat dan Distraksi

Gen Z tumbuh di era serba instan. Paparan berita tanpa henti, media sosial, hingga arus informasi yang terus bergerak cepat membuat banyak orang merasa overwhelmed dan sulit benar-benar beristirahat. Namun, belakangan ini banyak Gen Z mulai merasa lelah dengan ritme hidup yang terlalu cepat dan penuh distraksi.

Alih-alih terus terbawa arus, banyak Gen Z kini menerapkan slow living dan mindful lifestyle. Aktivitas seperti journaling, membaca buku fisik, solo date, olahraga ringan, hingga mengikuti kelas meditasi kini mulai dipandang sebagai cara untuk menenangkan pikiran.

5. Beralih dari Party Culture ke Wellness Lifestyle

Kombinasi gaya hidup baru Gen Z yang lebih mengutamakan frugal living dan mindfulness membuat budaya party atau clubbing mulai ditinggalkan. Tren seperti running club, pilates, yoga, bersepeda, hingga wellness event makin populer di kota besar seperti Jakarta dan Bandung.

Nongkrong di coffee shop dengan suasana tenang juga mulai menggantikan kebiasaan party yang terlalu intens.

6. Mengurangi Konsumsi Konten Pendek dan Brain Rot

Konten serba cepat memang masih mendominasi media sosial, terutama lewat TikTok, Reels, dan YouTube Shorts. Namun di saat yang sama, banyak Gen Z mulai merasa lelah dengan pola konsumsi konten yang terlalu instan dan repetitif. Kini Gen Z mulai menikmati konten yang lebih bermakna, informatif, dan punya kedalaman.

Di Indonesia sendiri, tren ini ikut mendorong naiknya popularitas podcast dan konten audio-visual berdurasi panjang. Banyak Gen Z kini menikmati podcast 30–60 menit yang bisa menemani perjalanan, kerja, atau waktu istirahat mereka. Topik seperti self-development, kesehatan mental, motivasi, hingga obrolan reflektif jadi salah satu genre favorit karena dianggap lebih relate dengan realitas hidup sehari-hari.

7. Beralih ke Transaksi Tanpa Uang Tunai

Di media sosial, banyak konten yang menyebutkan bahwa salah satu ketakutan terbesar Gen Z adalah tidak bisa melakukan pembayaran via QRIS. Hal ini menunjukkan bahwa transaksi menggunakan uang cash sudah mulai ditinggalkan. Buat Gen Z, kemudahan jadi alasan utama.

Mulai dari bayar transportasi, beli kopi, belanja online, sampai split bill bareng teman kini bisa dilakukan hanya lewat smartphone. Mobile banking dan dompet digital dianggap lebih sesuai dengan ritme hidup yang cepat dan fleksibel. Membawa uang tunai dalam jumlah besar mulai terasa kurang praktis bagi Gen Z.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Cara Naykilla dan Tenxi Tunjukkan Karakter Melalui Belanja di Shopee 9.9

31 August 2026

Shopee Rayakan 9.9 Super Shopping Day Bersama Naykilla dan Tenxi

31 August 2026

Komentar deras! Iklan Shopee bersama Naykilla & Tenxi jadi sorotan netizen

31 August 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Klasemen Persebaya Surabaya melorot! Tavares bongkar 2 kesalahan jelang lawan PSM Makassar

26 October 2026

Dua tahun Prabowo-Gibran, Kemenpora percepat transformasi dan ukir prestasi olahraga

26 October 2026

DPRD NTT sebut ekonomi warga picu menjamurnya pengecer BBM

26 October 2026

Bahaya Air Sabun untuk Wiper: Awas Kaca Mobil Rusak!

26 October 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?