Seruan Toba Ekologis untuk Membangun Kesadaran Lingkungan
Indonesia kini sedang menghadapi berbagai tantangan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Dalam konteks ini, seruan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat tentang tobat ekologis mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Salah satu tokoh yang menyambut baik ajakan tersebut adalah Toto Izul Fatah, Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA.
Menurut Toto, istilah “tobat ekologis” memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan slogan lingkungan hidup yang selama ini sering digaungkan. Ia menilai bahwa ajakan tersebut sangat relevan dengan kondisi kerusakan lingkungan yang saat ini terjadi di Indonesia.
Makna dan Pentingnya Toba Ekologis
Toto menjelaskan bahwa kata “tobat” mengandung makna pengakuan atas kesalahan yang telah dilakukan, disertai penyesalan, penghentian perbuatan yang salah, serta komitmen untuk tidak mengulanginya. Dalam konteks lingkungan hidup, tobat ekologis berarti pengakuan kolektif bahwa manusia telah banyak melakukan kerusakan terhadap alam.
Selama ini, manusia cenderung memandang alam sebagai objek eksploitasi semata. Berbagai aktivitas seperti penebangan hutan tanpa pemulihan yang memadai, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, pencemaran sungai dan laut, hingga alih fungsi lahan produktif menjadi bukti bahwa pembangunan sering kali mengabaikan keseimbangan lingkungan.
Bencana yang Mengancam
Banyak bencana yang kini semakin sering terjadi, mulai dari banjir, longsor, kekeringan, krisis air bersih, pencemaran udara, kebakaran hutan, kerusakan pesisir hingga peningkatan suhu bumi, tidak muncul begitu saja. Di balik berbagai persoalan tersebut terdapat faktor keserakahan, kelalaian, pembiaran, hingga kebijakan yang kurang berpihak pada kelestarian lingkungan.
Meski demikian, Toto menegaskan bahwa tobat ekologis tidak boleh berhenti pada tataran retorika. Seperti halnya konsep tobat dalam ajaran agama, perubahan harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan kebijakan yang konkret.
Langkah Strategis untuk Menjaga Lingkungan
Ia mendorong pemerintah untuk segera menerjemahkan gagasan tersebut dalam langkah-langkah strategis, seperti mengevaluasi izin usaha yang berpotensi merusak lingkungan, menindak perusahaan pencemar, mempercepat rehabilitasi kawasan kritis, serta menghentikan pembangunan yang melampaui daya dukung alam.
Selain itu, Toto mengingatkan agar tanggung jawab menjaga lingkungan tidak hanya dibebankan kepada masyarakat. Menurutnya, dunia usaha dan industri besar juga harus menjadi bagian penting dalam gerakan tobat ekologis. Jangan sampai masyarakat diminta mengurangi penggunaan plastik dan menanam pohon, sementara industri besar terus membuang limbah, merusak hutan, dan mengeruk sumber daya alam tanpa pengawasan yang tegas.
Program Penanaman Pohon
Toto juga menyambut positif gagasan penanaman dua miliar pohon yang disampaikan Menteri Jumhur. Program tersebut dinilai berpotensi memperbaiki tutupan lahan, meningkatkan penyerapan karbon, menjaga sumber daya air, mengurangi risiko banjir dan longsor, serta memulihkan ekosistem yang rusak.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program penghijauan tidak boleh hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam. Pemerintah perlu menjelaskan secara rinci jenis pohon yang akan ditanam, lokasi penanaman, luas lahan yang tersedia, mekanisme perawatan, hingga sumber pendanaannya.
Keberhasilan Program Penghijauan
Pengalaman menunjukkan bahwa menanam pohon relatif mudah dilakukan, tetapi memastikan pohon tersebut tumbuh dan bertahan dalam jangka panjang merupakan tantangan yang jauh lebih besar. Ukuran keberhasilan bukan berapa banyak bibit yang ditanam dalam seremoni, tetapi berapa banyak pohon yang masih hidup setelah satu tahun, tiga tahun, bahkan sepuluh tahun.
Pemilihan Jenis Pohon yang Sesuai
Toto juga menekankan pentingnya pemilihan jenis pohon yang sesuai dengan karakteristik wilayah. Di kawasan sumber air, misalnya, diperlukan tanaman yang mampu memperkuat fungsi hidrologis. Sementara di daerah rawan longsor dibutuhkan pohon dengan sistem perakaran yang kuat, sedangkan di kawasan perkotaan diperlukan pohon peneduh sekaligus penyerap polusi.
Untuk wilayah pedesaan, Toto mendorong pengembangan tanaman produktif yang tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat.
Dengan pendekatan yang terukur dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, Toto berharap gagasan tobat ekologis dapat menjadi gerakan nasional yang mendorong perubahan perilaku sekaligus memperkuat komitmen Indonesia dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.



