Peningkatan kinerja penerbangan internasional di Jawa Barat pada April 2026 tercatat signifikan, dipengaruhi oleh keberangkatan jemaah haji. Namun, sebaliknya, kinerja penerbangan domestik mengalami penurunan yang cukup tajam akibat penutupan beberapa rute penting.
Berdasarkan data terbaru, jumlah penumpang angkutan udara komersial internasional dari Jawa Barat pada bulan April 2026 mencapai 6.511 orang. Angka ini meningkat drastis sebesar 711,85% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/m-to-m) dan naik 555,03% dibandingkan April 2025 (year-on-year/y-o-y). Lonjakan ini disebabkan oleh mulainya pengiriman jemaah haji dari Jawa Barat melalui Bandara Kertajati, selain layanan rutin ke Singapura.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menjelaskan bahwa sektor penerbangan domestik mengalami perlambatan dengan hanya 335 penumpang yang terlayani. Angka ini turun 75,35% dibandingkan Maret 2026 dan merosot 93,84% dibandingkan April 2025. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penutupan sementara rute penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara menuju Yogyakarta dan Semarang.
Bandara Nusawiru di Kabupaten Pangandaran kini menjadi dominasi keberangkatan domestik dengan 253 penumpang, diikuti oleh Bandara Husein Sastranegara sebanyak 58 orang, Bandara Wiriadinata 17 orang, dan Bandara Kertajati 7 orang.
Sementara itu, di sektor transportasi darat, kereta api konvensional melayani 2,23 juta penumpang pada April 2026, turun 13,26% dibandingkan bulan sebelumnya. Mayoritas penumpang berasal dari Daop 2 Bandung dengan kontribusi 92,29%, sedangkan Daop 3 Cirebon menyumbang 7,71%. Meski jumlah penumpang menurun, volume logistik yang diangkut kereta api justru meningkat 170,72% menjadi 27,02 ribu ton, yang didominasi oleh pergerakan barang di wilayah Daop 3 Cirebon.
Layanan kereta cepat Whoosh juga mencatat pertumbuhan tipis secara bulanan. Jumlah penumpang Whoosh pada April 2026 mencapai 244 ribu orang, naik 4,64% dibandingkan Maret 2026. Stasiun Padalarang menjadi titik keberangkatan terpadat dengan porsi 71,02%, disusul Stasiun Tegalluar 23,47%, dan Stasiun Karawang 5,51%. Namun, secara tahunan, performa Whoosh masih terkoreksi 6,71% dibandingkan April 2025.
Kondisi kurang menggembirakan juga terlihat pada sektor transportasi laut. Volume muat barang dan peti kemas domestik dari pelabuhan di Jawa Barat tercatat sebesar 79,29 ribu ton, anjlok 80,62% (m-to-m). Penurunan ini terjadi merata di Pelabuhan Patimban, Pelabuhan Cirebon, dan Pelabuhan Indramayu.
Volume muat barang internasional juga mengalami penyusutan sebesar 82,11% secara bulanan menjadi 13,22 ribu ton. Meskipun Pelabuhan Patimban menunjukkan pertumbuhan aktivitas internasional sebesar 14,02% secara bulanan, ketiadaan aktivitas muat barang internasional di Pelabuhan Indramayu menekan performa kumulatif Jawa Barat di sektor maritim.


