Renungan Harian Katolik: Yesus Pergi Tinggalkan Sukacita Bukan Dukacita
Pada hari Selasa, 12 Mei 2026, kita merayakan Pekan Paskah VI dengan perayaan fakultatif Santo Nereus, Pankrasius, dan Santa Flavia Domitila, Martir, serta Santo Epifanius, Uskup, dan Santo Germanos, Uskup. Warna liturgi yang digunakan adalah putih, simbol dari kekudusan dan kebersihan iman.
Bacaan pertama dari Kitab Kisah Para Rasul 16:22-34 menceritakan kisah Paulus dan Silas yang dipenjarakan karena membawa Injil. Meskipun mengalami penderitaan, mereka tetap berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan. Tiba-tiba terjadi gempa bumi yang membuat pintu penjara terbuka dan belenggu mereka terlepas. Kepala penjara yang takut akan kehilangan tahanan, ingin bunuh diri, tetapi Paulus menenangkannya. Mereka memberitakan Firman Tuhan kepada kepala penjara, dan akhirnya ia serta keluarganya bertobat dan dibaptis.
Mazmur Tanggapan 138:1-2a.2b-3.7c-8 mengingatkan kita bahwa tangan kanan Tuhan menyelamatkan kita. Kita diberi kesempatan untuk memuji nama-Nya, karena kasih-Nya dan kesetiaan-Nya tidak pernah berakhir. Tuhan akan menyelesaikan segalanya bagi kita, dan kita harus percaya bahwa kasih-Nya kekal abadi.
Bait Pengantar Injil menyampaikan pesan bahwa Roh Kebenaran akan datang untuk membimbing kita ke dalam seluruh kebenaran. Ini merupakan bagian dari Injil Yohanes 16:5-11, di mana Yesus mengatakan bahwa jika Ia tidak pergi, Penghibur (Roh Kebenaran) tidak akan datang. Yesus pergi untuk memperkenalkan Roh Kebenaran yang akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman.
Renungan Harian: Yesus Pergi Tinggalkan Sukacita Bukan Dukacita
Yesus berkata, “Adalah lebih berguna bagi kamu jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu.” (Yoh. 16:7a). Ketika para murid merasa sedih karena Yesus akan pergi, Ia menegaskan bahwa Roh Kebenaran akan datang sebagai sahabat baru yang akan menyentuh hati dan keberadaan kita. Roh ini akan membuka hati kita dan mengubah hidup kita menjadi lebih baik.
Sukacita dalam hidup kita bisa ditemukan melalui kepercayaan pada Yesus dan pasrah total kepada Allah. Seperti Santo Paulus, yang setelah dipanggil menjadi rasul, ia mengalami sukacita besar. Meskipun mengalami penderitaan fisik dan perlakuan tidak menyenangkan, jiwanya tetap penuh sukacita. Di Filipi, Paulus dan Silas yang disiksa dan dipenjarakan tetap memuji Tuhan. Berkat pujian mereka, belenggu terlepas dan pintu penjara terbuka melalui gempa bumi yang dahsyat. Kepala penjara pun bertobat dan seisi rumahnya juga menerima iman.
Pemazmur dalam Mazmur 138:7c-8 berkata, “Tangan kanan-Mu menyelamatkan daku, Engkau akan menyelesaikan segalanya bagiku! Ya Tuhan, kasih setia-Mu kekal abadi, janganlah Kautinggalkan buatan tangan-Mu!” Ini mengingatkan kita bahwa cinta kasih Tuhan menyentuh bagian terdalam diri kita. Dengan cinta kasih-Nya, kita diberi jalan keselamatan yang membebaskan kita dari belenggu dosa.
Tanpa cinta kasih, kita akan cenderung terjebak dalam belenggu dosa dan kehilangan kegembiraan dan sukacita dalam hidup. Oleh karena itu, kita harus terus-menerus berbuat baik dan beramal kepada sesama, karena itu adalah wujud dari cinta kasih Tuhan yang kekal abadi.
Kesimpulan
Dari renungan hari ini, kita belajar bahwa meskipun Yesus pergi, Ia meninggalkan sukacita, bukan dukacita. Roh Kebenaran yang datang setelah-Nya akan membimbing kita ke dalam kebenaran dan memberikan sukacita yang sempurna. Mari kita menjalani hidup dengan kepercayaan pada Yesus dan pasrah sepenuhnya kepada Allah, sehingga kita dapat menikmati sukacita yang tak tergantikan.



