Indonesiadiscover.com.CO.ID, JAKARTA — Selama bertahun-tahun, banyak orang di Barat mengira bahwa Tiongkok ingin segera menggantikan Amerika Serikat sebagai penguasa dunia. Namun, pandangan Beijing terhadap Amerika jauh lebih kompleks dari yang diperkirakan.
Tiongkok memang melihat Amerika sedang menghadapi berbagai tekanan internal seperti polarisasi politik, fragmentasi sosial, utang yang besar, serta kecenderungan Washington untuk menggunakan tarif, sanksi, dan tekanan ekonomi terhadap lawan maupun sekutunya sendiri. Semua hal ini membuat sebagian elit Tiongkok percaya bahwa dominasi global Amerika mulai retak. Namun, menariknya, Beijing tidak melihat Amerika sebagai negara yang lemah.
Sebaliknya, dalam berbagai analisis strategis Tiongkok, Amerika dipandang sebagai kekuatan yang masih sangat besar, tetapi kini semakin gelisah karena merasa posisinya mulai ditantang. Bagi Beijing, Amerika yang cemas justru bisa lebih berbahaya dibanding Amerika yang percaya diri. Negara hegemon yang merasa dominasinya terganggu cenderung bertindak lebih keras, lebih impulsif, dan lebih sulit diprediksi.
Pandangan ini terlihat dalam kolom Chaguan di The Economist edisi 9 Mei 2026 berjudul On American Decline. Dalam artikel tersebut, Tiongkok digambarkan melihat Amerika bukan sebagai kekuatan yang runtuh, melainkan sebagai hegemon yang masih kuat tetapi semakin agresif dalam mempertahankan posisinya.
Pandangan ini membantu menjelaskan mengapa Tiongkok terlihat cukup hati-hati. Meskipun retorika Beijing sering keras, terutama soal Taiwan dan Laut China Selatan, dibanding Rusia, Tiongkok relatif lebih kalkulatif dalam menggunakan kekuatan militer. Beijing tampaknya sadar bahwa Amerika masih memiliki terlalu banyak keunggulan untuk diremehkan.
Amerika masih memiliki jaringan aliansi global terbesar. Dolar masih mendominasi sistem keuangan internasional. Universitas dan perusahaan teknologinya tetap menjadi pusat inovasi global. Dalam bidang artificial intelligence, semikonduktor, aerospace, dan kekuatan militer global, Amerika masih berada di garis depan.
Karena itu, sejumlah pemikir Tiongkok seperti Wang Jisi dan Da Wei sering mengingatkan agar Beijing tidak terjebak dalam rasa percaya diri berlebihan. Wang Jisi, misalnya, pernah menulis tentang US power/US decline dan mengingatkan bahwa kemunduran hegemoni Amerika tidak otomatis berarti hilangnya kekuatan Amerika. Da Wei dari Tsinghua juga menekankan bahwa Tiongkok tidak perlu dan tidak ingin sekadar “menggantikan” Amerika sebagai hegemon baru.
Pandangan ini juga sejalan dengan beberapa analis Barat. Graham Allison (Destined for War, 2017), misalnya, melihat rivalitas AS-China sebagai kompetisi struktural antara kekuatan mapan (ruling power) dan kekuatan yang sedang naik (rising power). Sementara Michael Beckley dan Hal Brands dalam berbagai tulisan di Foreign Affairs berargumen bahwa meskipun dominasi relatif Amerika menghadapi tekanan, kekuatan fundamental negara itu masih sangat besar.
Karena itu, Beijing tampaknya membedakan antara menurunnya hegemoni dan pengaruh moral Amerika dengan tetap besarnya kekuatan Amerika itu sendiri. Dalam pandangan ini, pengaruh dan legitimasi global Washington mungkin mengalami erosi di berbagai kawasan, tetapi kapasitas Amerika dalam bidang militer, teknologi, finansial, dan jaringan aliansinya masih sangat besar. Dalam bahasa sederhana, Tiongkok mungkin percaya era dominasi tunggal Amerika perlahan mulai retak, tetapi mereka juga percaya Amerika masih sangat mampu “mengacaukan keadaan”.
Cara pandang ini membantu menjelaskan sikap Tiongkok terhadap Donald Trump. Di satu sisi, Beijing mungkin melihat Trump sebagai simbol polarisasi dan fragmentasi politik Amerika. Tarif tinggi, tekanan terhadap sekutu, perang dagang, dan pendekatan transaksional Washington dianggap menunjukkan retaknya model globalisasi liberal yang dahulu dipimpin Amerika sendiri.
Namun di sisi lain, Beijing juga melihat bahwa Amerika di bawah Trump semakin siap menggunakan kekuatan secara terbuka: tarif, pembatasan teknologi, kontrol investasi, tekanan terhadap supply chain, hingga sanksi finansial. Dengan kata lain, Tiongkok mungkin melihat Amerika bukan sedang mundur secara damai, tetapi sedang memasuki fase yang lebih keras dalam mempertahankan posisinya.
Akibatnya, hubungan AS-China kini semakin bergeser dari sekadar kompetisi ekonomi menjadi kompetisi strategis menyeluruh. Perang dagang bercampur dengan perebutan teknologi, artificial intelligence, logam tanah jarang (rare earths), keamanan maritim, hingga Taiwan. Interdependensi ekonomi yang dahulu dipandang sebagai sumber stabilitas kini justru semakin dilihat sebagai kerentanan strategis. IMF bahkan beberapa kali mengingatkan risiko geoeconomic fragmentation, yakni terpecahnya ekonomi global ke dalam blok-blok strategis yang saling bersaing.
Meski demikian, Beijing tampaknya belum ingin mengambil risiko konfrontasi langsung berskala besar dengan Amerika. Banyak langkah Tiongkok tetap berada di wilayah abu-abu: tekanan militer terbatas di sekitar Taiwan, penguatan teknologi domestik, ekspansi pengaruh ekonomi, dan diplomasi yang semakin aktif di Global South. Tiongkok tampaknya masih percaya bahwa waktu berada di pihaknya.
Bagi negara-negara menengah seperti Indonesia, cara Beijing membaca Amerika penting dipahami. Sebab rivalitas kedua negara tampaknya tidak akan berubah menjadi perang terbuka dalam waktu dekat, tetapi juga tidak akan kembali ke optimisme globalisasi lama. Dunia tampaknya sedang bergerak menuju era persaingan jangka panjang: saling terhubung, tetapi sekaligus saling curiga.
Dalam situasi seperti itu, tantangan bagi banyak negara bukan memilih salah satu pihak, melainkan menjaga ruang gerak strategisnya sendiri. Karena baik Beijing maupun Washington tampaknya semakin melihat hubungan internasional bukan lagi sekadar soal kerja sama, tetapi juga soal pengaruh, kemampuan bertahan, dan perimbangan kekuatan.



