Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 19 Agustus 2026
Trending
  • Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan
  • Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Pilot AS Akui Lihat Drone Iran Bentuk ‘Ubur-ubur’ Sebelum F-15 Dihancurkan
Nasional

Pilot AS Akui Lihat Drone Iran Bentuk ‘Ubur-ubur’ Sebelum F-15 Dihancurkan

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover29 Juni 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Pengalaman Pilot AS yang Menyaksikan Formasi Drone Unik di Udara Iran

Seorang pilot jet tempur F-15 Amerika Serikat (AS) mengaku melihat pemandangan tak biasa sebelum pesawatnya ditembak jatuh di wilayah Iran pada April lalu. Dalam kesaksian kepada pejabat intelijen AS setelah berhasil diselamatkan, pilot tersebut menyebutkan bahwa ia melihat sekumpulan drone Iran bergerak serempak membentuk pola menyerupai ubur-ubur di udara.

Laporan ini langsung memicu perdebatan di kalangan intelijen AS. Jika pengamatan tersebut akurat, maka Iran diduga telah mengembangkan kemampuan drone canggih yang belum pernah terdeteksi sebelumnya oleh badan intelijen AS.

Menurut empat sumber yang mengetahui proses debriefing pilot tersebut, formasi drone yang dilihat tidak bergerak secara terpisah seperti drone pada umumnya. Sebaliknya, sejumlah drone tampak saling terhubung dan bergerak sebagai satu kesatuan. “Beberapa drone saling terhubung dan bergerak sebagai satu dengan drone yang lebih kecil di bawah drone yang lebih besar seperti kaki,” kata salah satu sumber yang mengetahui kesaksian sang pilot kepada CNN.

Sumber yang sama bahkan menggambarkan pemandangan itu sebagai ‘Real alien sh*t’. Sumber lain menyebut pilot F-15 tersebut menggambarkan situasi di udara sebagai ‘minefield of drones’ atau ladang ranjau drone yang memenuhi langit.

Apakah Drone Itu Berperan Menjatuhkan Jet Tempur AS?

Hingga kini penyebab pasti jatuhnya F-15 masih dalam penyelidikan. Namun laporan awal menyebut ada kemungkinan formasi drone tersebut berkontribusi dalam membantu Iran menjatuhkan pesawat tempur Amerika. Insiden itu menjadi salah satu momen paling serius dalam konflik Iran dan Amerika Serikat karena menandai pertama kalinya pesawat militer AS ditembak jatuh di atas wilayah Iran selama perang berlangsung.

Yang jelas, saat itu, pesawat F-15 yang jatuh membawa dua awak, yakni pilot dan petugas sistem persenjataan (weapons systems officer). Operasi penyelamatan segera dilakukan oleh pasukan khusus AS. Pilot berhasil dievakuasi beberapa jam setelah melontarkan diri dari pesawat. Sementara rekannya bertahan di pegunungan selama lebih dari sehari untuk menghindari penangkapan pasukan Iran sebelum akhirnya berhasil diselamatkan.

Belum diketahui apakah petugas sistem persenjataan tersebut juga melihat formasi drone yang sama. Dalam operasi penyelamatan itu, sebuah pesawat A-10 milik AS juga dilaporkan jatuh. Namun pilotnya berhasil keluar dari pesawat dengan selamat di luar wilayah udara Iran.

Intelijen AS Terbelah Menanggapi Kesaksian Pilot

Kesaksian pilot F-15 tersebut tidak langsung diterima bulat-bulat oleh komunitas intelijen Amerika Serikat. Beberapa pejabat mempertanyakan akurasi pengamatannya karena sang pilot mengalami gegar otak akibat insiden jatuhnya pesawat. Selain itu, ini merupakan kali kedua dirinya ditembak jatuh selama konflik berlangsung. Sebelumnya, ia juga menjadi korban insiden salah tembak (friendly fire) yang melibatkan pasukan Kuwait pada fase awal perang.

Keraguan itu memunculkan berbagai kemungkinan. Apakah pilot benar-benar menyaksikan teknologi baru Iran yang belum diketahui intelijen AS? Apakah itu hanya uji coba sistem baru? Ataukah sekadar ilusi optik di tengah kondisi perang dan tekanan ekstrem?

Menurut salah satu sumber, tim intelijen bahkan sempat bertanya kepada pilot dengan nada skeptis. “Apakah kamu yakin melihat apa yang kamu katakan kamu lihat?” ujar sumber tersebut menirukan pertanyaan yang diajukan saat proses debriefing.

Hingga kini Angkatan Udara AS mengarahkan seluruh pertanyaan kepada Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), sementara Kantor Direktur Intelijen Nasional AS belum memberikan komentar resmi.

Dugaan Teknologi Jaringan Drone Canggih

Meski belum dapat diverifikasi, kemampuan yang digambarkan pilot tersebut memiliki istilah teknis yang dikenal sebagai ‘one-to-many meshed networking’ atau ‘jaringan satu-ke-banyak yang terhubung’. Teknologi ini memungkinkan sejumlah drone saling terhubung dalam satu jaringan dan bergerak secara terkoordinasi. Operator dapat mengendalikan banyak drone sekaligus, bahkan memungkinkan mereka berbagi data dan menyesuaikan pergerakan secara otomatis.

Menurut sumber yang memahami persoalan tersebut, kemampuan seperti ini sebelumnya lebih banyak dikaitkan dengan negara-negara besar seperti Rusia dan Tiongkok. Sejumlah laporan intelijen juga menunjukkan bahwa Iran diduga menerima bantuan teknologi dari Rusia dan Tiongkok untuk mengembangkan program drone militernya.

Jika benar telah menguasai kemampuan meshed networking, maka hal itu dapat menjadi lompatan besar bagi program perang drone Iran yang selama ini sudah dikenal cukup maju. Selain kepentingan militer, teknologi serupa secara teoritis juga dapat digunakan untuk kebutuhan sipil, seperti menyediakan konektivitas internet di wilayah terpencil yang belum memiliki infrastruktur telekomunikasi.

Sebagaimana diketahui juga, selama konflik berlangsung, Iran secara agresif memanfaatkan drone serang sebagai senjata asimetris untuk menghadapi pasukan AS, Israel, dan sejumlah negara Teluk.

Pakar perang drone dan modernisasi pertahanan, Emma Bates, menilai kemampuan koordinasi semacam itu dapat menjadi ancaman serius jika benar-benar telah dimiliki Iran. “Kami akan menghabiskan banyak uang, seperti banyak darah dan harta karun, melindungi diri kami dari sesuatu yang dapat berkoordinasi seperti itu,” kata Bates kepada CNN.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan

2 Agustus 2026

Inggris Tuduh Iran Serang di Selat Hormuz, 3 Kapal Jadi Korban

11 Juli 2026

Gubernur Khofifah Dianugerahi Penghargaan atas Penurunan Stunting Jatim 14,7 Persen

11 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan

2 Agustus 2026

Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026

14 Juli 2026

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?