Perang Rusia-Ukraina Memasuki Hari ke-1.538 dengan Situasi yang Kembali Memanas
Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.538 pada Senin (11/5/2026), di tengah situasi yang kembali memanas meski upaya gencatan senjata masih terus dibicarakan. Konflik ini telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun, sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.
Perang ini bermula dari ketegangan yang sudah lama berlangsung pasca-aneksasi Krimea pada tahun 2014 dan perang di wilayah Donbas yang melibatkan kelompok separatis pro-Rusia. Hubungan antara Rusia dan Ukraina semakin memburuk ketika Kyiv memperkuat kedekatan dengan NATO dan Uni Eropa, langkah yang dipandang oleh Kremlin sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya. Di sisi lain, Amerika Serikat dan negara-negara Barat terus meningkatkan tekanan terhadap Moskow melalui sanksi ekonomi serta bantuan persenjataan untuk Ukraina.
Hingga saat ini, perang masih berlangsung tanpa kepastian akhir karena kedua pihak belum menemukan titik temu terkait wilayah pendudukan dan jaminan keamanan geopolitik.
Putin Mengusulkan Gerhard Schröder sebagai Mediator
Presiden Rusia Vladimir Putin mengusulkan mantan Kanselir Jerman Gerhard Schröder sebagai mediator dalam pembicaraan damai Rusia-Ukraina. Usulan tersebut langsung memicu respons beragam dari pemerintah dan politikus Jerman di tengah rapuhnya proses negosiasi antara Moskow dan Kyiv.
Pemerintah Jerman merespons hati-hati usulan Putin. AFP melaporkan bahwa para pejabat Jerman menganggap pernyataan Putin sebagai bagian dari “serangkaian tawaran palsu” Rusia terkait upaya damai Ukraina. Sumber pemerintah Jerman menyebut ujian nyata bagi Moskow adalah apakah Rusia bersedia memperpanjang gencatan senjata tiga hari yang sedang berlangsung.
Putin sebelumnya menyatakan perang Rusia-Ukraina kemungkinan akan segera berakhir. Presiden Rusia itu juga membuka peluang bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di negara ketiga apabila tercapai kesepakatan damai jangka panjang.
Nama Gerhard Schröder kemudian muncul sebagai sosok yang diusulkan Putin untuk membantu proses negosiasi. Schröder yang kini berusia 82 tahun diketahui tetap memiliki hubungan dekat dengan Putin bahkan setelah Rusia menginvasi Ukraina pada 2022. Mantan kanselir Jerman itu sebelumnya juga memegang jabatan penting di proyek energi Rusia, termasuk jalur pipa Nord Stream dan perusahaan minyak Rosneft sebelum mundur pada 2022.
Perdebatan di Internal Partai SPD Jerman
Usulan Putin memicu perdebatan di internal Partai Sosial Demokrat (SPD) Jerman. Mantan ketua komite urusan luar negeri Bundestag dari SPD, Michael Roth, menolak gagasan tersebut. Tagesspiegel melaporkan Roth menegaskan mediator perdamaian “tidak boleh menjadi teman Putin”. Ia juga menekankan mediator harus diterima Ukraina.
“Baik Moskow maupun kami tidak dapat memutuskan hal itu atas nama Kyiv,” ujarnya. Namun sejumlah politikus SPD lainnya justru lebih terbuka terhadap usulan Kremlin tersebut. Der Spiegel melaporkan juru bicara urusan luar negeri SPD, Adis Ahmetovic, mengatakan proposal itu perlu dipertimbangkan secara serius bersama negara-negara Eropa lainnya. Politikus SPD lainnya, Ralf Stegner, menyebut Eropa harus memanfaatkan setiap peluang diplomatik sekecil apa pun agar masa depan Ukraina tidak hanya ditentukan Rusia dan Amerika Serikat.
Gencatan Senjata Terancam Gagal
Di tengah pembicaraan damai, situasi di medan perang justru kembali memanas. The Guardian melaporkan Rusia dan Ukraina saling menuduh melanggar gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat. Pejabat Ukraina menyebut sedikitnya tiga orang tewas akibat serangan drone Rusia di dekat garis depan. Lebih dari 200 bentrokan juga dilaporkan terjadi sejak Sabtu (9/5/2026) pagi.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menembak jatuh 57 drone Ukraina dalam 24 jam terakhir dan melakukan serangan balasan.
Kunjungan Utusan Trump ke Moskow
Interfax melaporkan utusan Amerika Serikat Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan mengunjungi Moskow dalam waktu dekat. Kunjungan itu disebut untuk melanjutkan pembicaraan damai dengan Rusia. Pernyataan tersebut disampaikan penasihat Kremlin Yuri Ushakov pada Minggu (10/5/2026).
Rusia Murka ke Armenia
Hubungan Rusia dan Armenia juga memanas di tengah perang Ukraina. Kremlin menuduh Armenia memberi panggung bagi Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk menyampaikan pernyataan anti-Rusia saat berkunjung ke Yerevan pekan lalu. Dalam kunjungan tersebut, Zelenskyy menyindir Rusia khawatir drone akan terbang di atas Lapangan Merah Moskow saat parade Hari Kemenangan 9 Mei.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov meminta Armenia tidak mengambil posisi anti-Rusia dan menunggu penjelasan resmi dari Yerevan.
Menteri Latvia Mundur
Sementara itu, Menteri Pertahanan Latvia Adris Spruds mengundurkan diri setelah insiden masuknya dua drone Ukraina ke wilayah Latvia. Drone tersebut menghantam fasilitas penyimpanan minyak dan memicu kebakaran. Perdana Menteri Latvia Evika Silina menyebut sistem anti-drone gagal dikerahkan dengan cepat sehingga memicu hilangnya kepercayaan publik terhadap sang menteri.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiga mengatakan drone itu masuk ke Latvia akibat gangguan perang elektronik Rusia.


