Penyelesaian Teka-Teki Kematian Widyastuti
Kasus kematian Widyastuti di jalan Al Mumin, Babakan, Curug, Kabupaten Tangerang akhirnya terungkap. Setelah sekian lama menjadi misteri, kini diketahui bahwa korban dibunuh oleh anak tirinya berinisial N yang telah ditangkap oleh pihak kepolisian.
Kejadian ini berawal dari penemuan jenazah korban di kawasan Binong, Curug, Kabupaten Tangerang, pada Jumat (17/4/2026) malam. Setelah dilakukan penyelidikan intensif, Polres Tangerang berhasil menangkap pelaku dalam waktu singkat setelah melakukan pembunuhan terhadap ibu tirinya.
Menurut informasi yang diperoleh, pelaku dan korban memiliki hubungan tidak harmonis. Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan AKP Wira Graha Setiawan menjelaskan bahwa motif pembunuhan diduga berasal dari konflik pribadi yang telah berlangsung sebelumnya.
“Motifnya adalah dendam pribadi terhadap ibu tirinya,” ujar AKP Wira saat memberikan keterangan di Serpong, Tangsel, Sabtu (18/4/2026).
Awal dari kejadian itu terjadi ketika korban sedang beraktivitas di dalam rumah, tepatnya saat sedang memotong sayur. Pelaku datang dan meminta untuk meminjam handphone milik korban. Namun, korban menolak permintaan tersebut, sehingga memicu amarah pelaku.
Dengan kondisi yang sudah gelap mata, pelaku langsung melakukan tindakan kekerasan terhadap korban. Aksi pembunuhan dilakukan dengan menggunakan alat seperti palu dan pisau di lokasi kejadian.
Setelah kejadian, pelaku sempat melarikan diri, namun akhirnya berhasil ditangkap oleh polisi di wilayah Periuk, Kota Tangerang, dalam waktu kurang dari 24 jam. Saat ini, pelaku telah diamankan di Polres Tangerang Selatan untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut.
Kesaksian dari Ketua RT
Sebelumnya, Ketua RT 001/06 Satiri mengungkapkan bahwa korban pertama kali ditemukan oleh suaminya setelah pulang kerja. Menurutnya, kejadian itu diketahui sekitar sore hari saat sang suami tiba di rumah kontrakan.
“Yang menemukan bukan warga, tapi suaminya langsung,” ujar Satiri. Ia menjelaskan bahwa kejadian itu diketahui sekitar jam setengah enam. Sang suami pulang kerja, masuk ke rumah, dan kaget karena istrinya dalam keadaan seperti itu.
Awalnya, suami korban tidak langsung curiga. Seperti biasa, ia sempat bersantai sebelum masuk ke dalam rumah. “Biasanya ada kopi, ini kok nggak ada. Pas masuk, dia kaget, korban sudah berlumuran darah,” ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, suami korban langsung meminta pertolongan. Laporan kemudian diteruskan ke pemilik kontrakan hingga akhirnya sampai ke Ketua RT. “Dari yang punya kontrakan, laporan ke saya. Saya langsung ke lokasi,” kata Satiri.
Saat tiba di tempat kejadian perkara (TKP), Satiri mendapati korban sudah tidak bernyawa dengan luka di bagian kepala. “Lukanya di sekitar kepala. Dari pintu masuk juga langsung kelihatan,” ujarnya. Ia segera mengambil langkah untuk mengamankan lokasi dan meminta warga tidak mendekat.
“Saya minta warga jangan terlalu dekat, karena TKP harus steril,” katanya. Laporan kemudian diteruskan ke pihak berwenang, termasuk aparat keamanan setempat. Polisi disebut datang tidak lama setelah laporan diterima.
“Sekitar habis Maghrib, polisi sudah datang. Kita buat garis polisi dulu, baru olah TKP,” jelasnya. Proses olah TKP berlangsung hingga malam hari dengan melibatkan tim kepolisian dan forensik.
“Sampai sekitar jam sembilan malam baru selesai,” ujar Satiri. Terkait dugaan pelaku, Satiri menyebut informasi yang beredar mengarah pada anak tiri korban, meski masih dalam penyelidikan. “Itu baru isu, tapi memang mengarah ke sana. Untuk pastinya masih misteri,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa hubungan antara korban dan anak tirinya diduga tidak harmonis. “Katanya kurang komunikasi, namanya juga bukan anak kandung. Tapi selama ini nggak ada laporan ke saya,” tutup Satiri.



