Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Saturday, 3 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Nasional»Politik»Perang dan Penonton Perang
    Politik

    Perang dan Penonton Perang

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover21 March 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Perang dan Damai dalam Sejarah Manusia

    Perang yang sedang berlangsung antara Amerika-Israel versus Iran kini menjadi tontonan bagi banyak orang. Rudal-rudal terbang cepat, menyala, dan bercahaya seperti komet-komet di langit malam. Awalnya kita kagum melihat kecanggihan teknologi, namun seiring waktu, kita menjadi ngeri ketika melihat kepulan asap ledakan, mayat-mayat bergelimpangan, serta puing-puing kehancuran.

    Alangkah cerdasnya manusia dalam menciptakan senjata, namun alangkah kejamnya mereka saat menggunakan senjata tersebut untuk menghancurkan sesama manusia. Mayoritas dari kita, termasuk warga Amerika, Israel, dan Iran, bukanlah pembuat senjata atau para pemimpin yang memutuskan penggunaannya dalam perang. Kita hanyalah penonton. Namun, baik secara langsung maupun tidak langsung, kita akan terkena dampaknya.

    Dampak ekonomi yang umum adalah kenaikan harga minyak yang akan memicu kenaikan harga-harga lainnya. Mereka yang tinggal di kawasan perang akan lebih terdampak, dengan rasa takut yang menghantui, kerusakan tempat tinggal, fasilitas umum yang rusak, hingga keluarga yang terbunuh.

    Sebagai penonton yang terdampak perang ini, apa yang bisa kita lakukan? Tentu sangat sedikit. Kita bisa bersimpati pada para korban melalui pesan di media sosial, media cetak, atau elektronik, atau menyumbang sedikit uang untuk bantuan kemanusiaan. Namun jangan berharap banyak akan hasilnya. Bahkan resolusi Dewan Keamanan PBB saja tidak dihiraukan oleh Israel dan Amerika. Bantuan kemanusiaan yang dikirim pun tidak selalu sampai ke tujuan. Akhirnya, kita hanya bisa berdoa untuk para korban itu.

    Mengapa Perang Terjadi?

    Sejak ribuan tahun yang lalu, manusia hidup dalam dua keadaan: perang dan damai. Namun, mengapa pada satu masa, manusia memilih perang? Jawabannya tidak tunggal. Bisa karena ingin memperluas wilayah kekuasaan, balas dendam, membela diri, mengalihkan perhatian publik, atau ingin terlepas dari penindasan dan ketidakadilan.

    Hasil akhir perang juga tidak selalu sesuai harapan para pembuat keputusan. Perilaku manusia sulit diramal karena dia dianugerahi kebebasan untuk memilih. Selain itu, tidak semua hal bisa dikendalikan manusia, meskipun dia berkuasa, bersenjata, dan kaya raya.

    Meskipun Amerika memiliki persenjataan hebat, mereka kalah dalam perang Vietnam dan tidak sepenuhnya bisa mengendalikan Afghanistan. Apalagi, kekuatan militer dan ekonomi dunia tidak hanya dimonopoli oleh Amerika. Masih ada Cina, Rusia, dan negara-negara Eropa.

    Pertanyaan Filsafat: Manusia Ciptaan atau Pembuat Sejarah?

    Di sinilah muncul pertanyaan filsafat: Apakah manusia menciptakan atau diciptakan oleh sejarah? Apakah manusia seperti gabus yang tak berdaya dihempaskan ombak, atau seperti kapal yang melawan gelombang? Dalam menjawab soal ini, para pemikir umumnya menyatakan bahwa manusia adalah kedua-duanya: dia menciptakan dan diciptakan oleh sejarah. Manusia bebas sekaligus terbatas.

    Dalam kebebasan, manusia harus memilih antara yang baik dan buruk, benar dan salah. Dalam keterbatasan, manusia hanya bisa pasrah. Jika pasrah menunjukkan sikap realistis dan pengakuan akan kelemahan, maka kebebasan menuntut tanggung jawab. Seorang pemimpin yang memutuskan untuk berperang atau netral, semua keputusannya harus berdasarkan pertimbangan kemaslahatan masyarakat yang dipimpinnya bahkan umat manusia sebagai wujud tanggung jawab.

    Perang dalam Diri Sendiri

    Sekilas, apa yang dikemukakan di atas tampak sederhana dan mudah diterapkan. Namun, mengapa dalam kenyataan tidak demikian? Saya kira karena sebelum membuat keputusan, baik sebagai pemimpin ataupun masyarakat, manusia sebagai pribadi harus memutuskan terlebih dahulu di dalam dirinya sendiri. Inilah perang yang paling dasar: apakah dia mengikuti hawa nafsu atau menuruti suara nurani kemanusiaan?

    Apakah dia takut atau berani menyatakan kebenaran? Apakah dia siap menerima resiko terburuk akibat keputusannya itu? Mungkin inilah maksud sabda Nabi ketika pulang dari sebuah peperangan: “Kita pulang dari jihad yang kecil kepada jihad yang besar”. “Apa jihad yang besar itu?” tanya sahabat. “Jihad melawan hawa nafsu,” kata Nabi.

    Perang Nafsu yang Tak Kasat Mata

    Tak mudah mengendalikan hawa nafsu. Tanpa nafsu, kita tidak bisa hidup, tetapi menuruti nafsu tanpa kendali moral akan membuat kita lebih buruk dari binatang. Nafsu mendorong manusia untuk mendapat kenikmatan fisik (makan-minum, seks, dan sarana hidup) dan kesuksesan (kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran). Nafsu ini, jika terkendali, merupakan penggerak kebudayaan.

    Karena itu, terlepas kita adalah pemimpin atau orang biasa, kita semua menghadapi perang setiap hari di dalam diri kita. Perang terhadap musuh yang tak boleh dibunuh, tetapi harus ditundukkan dan dikendalikan. Jika kita tak mengendalikannya, maka dialah yang akan mengendalikan kita.

    Itulah nafsu, dorongan-dorongan hewani dan egoistik dalam diri kita. Perang nafsu ini tak kasat mata, tetapi hasilnya tampak dalam sikap, keputusan, dan perilaku kita. Hasil perang inilah yang membuat bom atom diledakkan, rudal-rudal ditembakkan, dan genosida dilakukan atas sesama manusia. Jadi, jika nafsu menguasai diri kita, secara potensial kita pun bisa menjadi Trump dan Netanyahu!

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Pengamanan Ketat Demo AMPB Pati di DPR, 18.504 Personel Polisi Dikerahkan

    31 August 2026

    Hidup di Dalam Kita! Filosofi Mendalam 3 Jersey Baru Persib Bandung di Super League 2026/2027

    31 August 2026

    Demo Warga Pati di DPR, Dua Tuntutan dan Pengaturan Lalu Lintas

    31 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?