Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 26 Mei 2026
Trending
  • Bukayo Saka Jawab Kritikan Pengkritik Arsenal
  • 7 tempat romantis untuk ngedate di Semarang
  • 6 Drama Korea Park Eun Bin Tanpa Romansa, Termasuk The Wonderfools
  • Mualem Minta BPJS Buka Blokir JKA
  • 5 cara mudah jaga keuangan di tengah kenaikan dolar
  • 31 Tahun Melayani Indonesia, Telkomsel Kuatkan Ekosistem Digital Nasional
  • Jaecoo J5 EV: Desain Modern, Teknologi Canggih, Cek Harga Sekarang
  • Persiapan Konser dan Rencana Karier, Afgan Siap Tampil di Layar Lebar?
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Perang dan Penonton Perang
Politik

Perang dan Penonton Perang

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover21 Maret 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perang dan Damai dalam Sejarah Manusia

Perang yang sedang berlangsung antara Amerika-Israel versus Iran kini menjadi tontonan bagi banyak orang. Rudal-rudal terbang cepat, menyala, dan bercahaya seperti komet-komet di langit malam. Awalnya kita kagum melihat kecanggihan teknologi, namun seiring waktu, kita menjadi ngeri ketika melihat kepulan asap ledakan, mayat-mayat bergelimpangan, serta puing-puing kehancuran.

Alangkah cerdasnya manusia dalam menciptakan senjata, namun alangkah kejamnya mereka saat menggunakan senjata tersebut untuk menghancurkan sesama manusia. Mayoritas dari kita, termasuk warga Amerika, Israel, dan Iran, bukanlah pembuat senjata atau para pemimpin yang memutuskan penggunaannya dalam perang. Kita hanyalah penonton. Namun, baik secara langsung maupun tidak langsung, kita akan terkena dampaknya.

Dampak ekonomi yang umum adalah kenaikan harga minyak yang akan memicu kenaikan harga-harga lainnya. Mereka yang tinggal di kawasan perang akan lebih terdampak, dengan rasa takut yang menghantui, kerusakan tempat tinggal, fasilitas umum yang rusak, hingga keluarga yang terbunuh.

Sebagai penonton yang terdampak perang ini, apa yang bisa kita lakukan? Tentu sangat sedikit. Kita bisa bersimpati pada para korban melalui pesan di media sosial, media cetak, atau elektronik, atau menyumbang sedikit uang untuk bantuan kemanusiaan. Namun jangan berharap banyak akan hasilnya. Bahkan resolusi Dewan Keamanan PBB saja tidak dihiraukan oleh Israel dan Amerika. Bantuan kemanusiaan yang dikirim pun tidak selalu sampai ke tujuan. Akhirnya, kita hanya bisa berdoa untuk para korban itu.

Mengapa Perang Terjadi?

Sejak ribuan tahun yang lalu, manusia hidup dalam dua keadaan: perang dan damai. Namun, mengapa pada satu masa, manusia memilih perang? Jawabannya tidak tunggal. Bisa karena ingin memperluas wilayah kekuasaan, balas dendam, membela diri, mengalihkan perhatian publik, atau ingin terlepas dari penindasan dan ketidakadilan.

Hasil akhir perang juga tidak selalu sesuai harapan para pembuat keputusan. Perilaku manusia sulit diramal karena dia dianugerahi kebebasan untuk memilih. Selain itu, tidak semua hal bisa dikendalikan manusia, meskipun dia berkuasa, bersenjata, dan kaya raya.

Meskipun Amerika memiliki persenjataan hebat, mereka kalah dalam perang Vietnam dan tidak sepenuhnya bisa mengendalikan Afghanistan. Apalagi, kekuatan militer dan ekonomi dunia tidak hanya dimonopoli oleh Amerika. Masih ada Cina, Rusia, dan negara-negara Eropa.

Pertanyaan Filsafat: Manusia Ciptaan atau Pembuat Sejarah?

Di sinilah muncul pertanyaan filsafat: Apakah manusia menciptakan atau diciptakan oleh sejarah? Apakah manusia seperti gabus yang tak berdaya dihempaskan ombak, atau seperti kapal yang melawan gelombang? Dalam menjawab soal ini, para pemikir umumnya menyatakan bahwa manusia adalah kedua-duanya: dia menciptakan dan diciptakan oleh sejarah. Manusia bebas sekaligus terbatas.

Dalam kebebasan, manusia harus memilih antara yang baik dan buruk, benar dan salah. Dalam keterbatasan, manusia hanya bisa pasrah. Jika pasrah menunjukkan sikap realistis dan pengakuan akan kelemahan, maka kebebasan menuntut tanggung jawab. Seorang pemimpin yang memutuskan untuk berperang atau netral, semua keputusannya harus berdasarkan pertimbangan kemaslahatan masyarakat yang dipimpinnya bahkan umat manusia sebagai wujud tanggung jawab.

Perang dalam Diri Sendiri

Sekilas, apa yang dikemukakan di atas tampak sederhana dan mudah diterapkan. Namun, mengapa dalam kenyataan tidak demikian? Saya kira karena sebelum membuat keputusan, baik sebagai pemimpin ataupun masyarakat, manusia sebagai pribadi harus memutuskan terlebih dahulu di dalam dirinya sendiri. Inilah perang yang paling dasar: apakah dia mengikuti hawa nafsu atau menuruti suara nurani kemanusiaan?

Apakah dia takut atau berani menyatakan kebenaran? Apakah dia siap menerima resiko terburuk akibat keputusannya itu? Mungkin inilah maksud sabda Nabi ketika pulang dari sebuah peperangan: “Kita pulang dari jihad yang kecil kepada jihad yang besar”. “Apa jihad yang besar itu?” tanya sahabat. “Jihad melawan hawa nafsu,” kata Nabi.

Perang Nafsu yang Tak Kasat Mata

Tak mudah mengendalikan hawa nafsu. Tanpa nafsu, kita tidak bisa hidup, tetapi menuruti nafsu tanpa kendali moral akan membuat kita lebih buruk dari binatang. Nafsu mendorong manusia untuk mendapat kenikmatan fisik (makan-minum, seks, dan sarana hidup) dan kesuksesan (kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran). Nafsu ini, jika terkendali, merupakan penggerak kebudayaan.

Karena itu, terlepas kita adalah pemimpin atau orang biasa, kita semua menghadapi perang setiap hari di dalam diri kita. Perang terhadap musuh yang tak boleh dibunuh, tetapi harus ditundukkan dan dikendalikan. Jika kita tak mengendalikannya, maka dialah yang akan mengendalikan kita.

Itulah nafsu, dorongan-dorongan hewani dan egoistik dalam diri kita. Perang nafsu ini tak kasat mata, tetapi hasilnya tampak dalam sikap, keputusan, dan perilaku kita. Hasil perang inilah yang membuat bom atom diledakkan, rudal-rudal ditembakkan, dan genosida dilakukan atas sesama manusia. Jadi, jika nafsu menguasai diri kita, secara potensial kita pun bisa menjadi Trump dan Netanyahu!

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Melihat perjuangan Prabowo lindungi aset negara melalui Satgas PKH

20 Mei 2026

Pemantauan Hilal di Medan Saat Sidang Isbat Idul Adha 17 Mei 2026

20 Mei 2026

Siswi SMAN 1 Pontianak Diancam, Tolak Tanding Ulang Cerdas Cermat MPR

20 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Bukayo Saka Jawab Kritikan Pengkritik Arsenal

26 Mei 2026

7 tempat romantis untuk ngedate di Semarang

26 Mei 2026

6 Drama Korea Park Eun Bin Tanpa Romansa, Termasuk The Wonderfools

26 Mei 2026

Mualem Minta BPJS Buka Blokir JKA

26 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?