
Idul Fitri menjadi momen penting bagi masyarakat untuk kembali ke kampung halaman. Setiap tahunnya, banyak orang melakukan perjalanan mudik menjelang lebaran. Namun, momen ini juga sering kali diiringi dengan risiko kecelakaan lalu lintas yang tinggi.
Dalam rangka memahami tren kecelakaan lalu lintas selama periode mudik dan arus balik, kami mengumpulkan data dari berbagai sumber. Data tersebut mencakup rentang waktu H-8 hingga H+9 lebaran atau sebanyak 18 hari. Data yang digunakan berasal dari prediksi mudik dan arus balik yang dikeluarkan Kemenhub. Berikut rincian tanggal periode mudik:
- 2022: 24 April – 11 Mei
- 2023: 14 April – 1 Mei
- 2024: 2 April – 19 April
- 2025: 23 Maret – 9 April
Berdasarkan data yang kami analisis, terdapat total 30.056 kecelakaan lalu lintas selama periode mudik antara tahun 2022 hingga 2025. Kerugian materil mencapai Rp 65,1 miliar.
Tren Kecelakaan Tahunan:
– 2022: 7.432 kecelakaan dengan kerugian materil Rp 13,3 miliar.
– 2023: 7.901 kecelakaan dengan kerugian materil Rp 20 miliar.
– 2024: 7.565 kecelakaan dengan kerugian materil Rp 17 miliar.
– 2025: 7.158 kecelakaan dengan kerugian materil Rp 14,8 miliar.
Selain itu, kecelakaan juga menimbulkan korban. Total korban mencapai 47.564 orang. Rinciannya:
– Luka ringan: 38.922 orang (81,83%)
– Meninggal dunia: 4.747 orang (9,98%)
– Luka berat: 3.895 orang (8,19%)
Mayoritas Kecelakaan karena Faktor Manusia
Mayoritas kecelakaan lalu lintas selama mudik disebabkan oleh faktor manusia. Dari total 30.056 kecelakaan, sebanyak 24.490 kecelakaan (81,48%) disebabkan oleh kesalahan manusia. Sementara itu:
– Kendaraan: 982 kecelakaan (3,27%)
– Jalan: 171 kecelakaan (0,57%)
– Alam: 19 kecelakaan (0,06%)
– Penyebab tidak diketahui: 4.394 kecelakaan (14,62%)
Pada tahun 2025, kecelakaan akibat faktor manusia mencapai 95,07% dari total kecelakaan. Pola ini konsisten setiap tahunnya.
Cuaca dan Kondisi Jalan
Sebagian besar kecelakaan terjadi saat cuaca cerah. Selama periode mudik 2022–2025, tercatat 28.382 kecelakaan (94,43%) pada kondisi cuaca cerah. Rincian lainnya:
– Hujan gerimis: 595 kecelakaan (1,98%)
– Berawan: 403 kecelakaan (1,34%)
– Berkabut: 50 kecelakaan (0,17%)
– Hujan disertai angin kencang: 11 kecelakaan (0,04%)
– Hujan es: 8 kecelakaan (0,03%)
– Hujan es: 1 kecelakaan (0,03%)
Kecelakaan juga lebih sering terjadi di jalan dengan kondisi baik. Sebanyak 28.903 kecelakaan (96,16%) terjadi di jalan yang baik. Sementara:
– Jalan berlubang: 430 kecelakaan (1,43%)
– Jalan berombak: 247 kecelakaan (0,82%)
Kecepatan dan Cahaya
Mayoritas kecelakaan terjadi pada kecepatan normal. Dari total 30.056 kecelakaan, sebanyak 23.836 kecelakaan (79,31%) melibatkan kendaraan dengan kecepatan di bawah 50 km/jam. Sementara:
– Kecepatan 40 km/jam: 10.051 kecelakaan
– Kecepatan 20 km/jam: 5.955 kecelakaan
– Kecepatan 30 km/jam: 2.639 kecelakaan
– Kecepatan 50 km/jam: 5.191 kecelakaan
Kecelakaan juga lebih sering terjadi saat cahaya memadai. Sebanyak 24.657 kecelakaan (82,04%) terjadi dalam kondisi cahaya terang. Sementara:
– Cahaya redup: 3.521 kecelakaan (11,71%)
– Gelap: 1.802 kecelakaan (6%)

Jenis Jalan dan Geometri
Kecelakaan paling banyak terjadi di jalan lurus, yaitu sebanyak 25.871 kecelakaan (86,08%). Sementara:
– Tikungan: 1.539 kecelakaan (5,12%)
– Simpang empat: 1.002 kecelakaan (3,33%)
– Simpang tiga T: 990 kecelakaan (3,29%)
– Simpang tiga Y: 301 kecelakaan (1,00%)
Jalan arteri menjadi lokasi kecelakaan terbanyak, yaitu sebanyak 12.932 kecelakaan (43,03%). Sementara:
– Jalan kolektor: 10.346 kecelakaan (34,42%)
– Jalan lokal: 6.462 kecelakaan (21,50%)
– Jalan tol: 316 kecelakaan (1,05%)
Jalan arteri biasanya digunakan untuk perjalanan jarak jauh, sedangkan jalan kolektor berfungsi sebagai penghubung antara jalan arteri dan jalan lokal. Jalan lokal umumnya digunakan oleh masyarakat setempat dengan lebar badan jalan sekitar 5 meter.



