Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 12 Februari 2026
Trending
  • Kepala KUA Ongky Nyong Dianiaya 3 Pria, Kini Dibela 43 Pengacara, Korban Muntah Darah
  • Hasil Survei: 79,8% Warga Kalimantan Puas pada Kinerja Prabowo
  • Keuangan Melesat! 3 Zodiak Ini Akan Masuk Masa Keemasan Mulai 11 Februari 2026
  • Bhayangkara FC Kehilangan Tahanan, Persija Jakarta Terancam?
  • Jet tempur KAAN akan menyatukan militer negara Muslim?
  • Peluang Uang Mendadak! 6 Shio Paling Beruntung di Februari 2026 Menjelang Imlek
  • 5 rute terindah Yogyakarta-Magelang: Jalan-jalan santai tanpa bosan
  • Mengapa Kim Won Hae Disebut ‘Penglaris’ di Drakor?
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Pembangkit Nuklir Baru AS: Big Tech, AI, dan Aliansi TerraPower Oklo Merombak Arsitektur Energi Global
Teknologi

Pembangkit Nuklir Baru AS: Big Tech, AI, dan Aliansi TerraPower Oklo Merombak Arsitektur Energi Global

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover12 Februari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Indonesiadiscover.com

– Gelombang baru kebijakan energi Amerika Serikat (AS) sedang bergeser dari logika transisi hijau yang lambat menuju logika daya saing teknologi. Di titik temu antara kecerdasan buatan (AI), pusat data raksasa, dan keamanan energi, nuklir generasi baru kembali diposisikan bukan sekadar sumber listrik, melainkan instrumen kekuatan ekonomi dan geopolitik.

Seiring melonjaknya kebutuhan listrik perusahaan pengelola pusat data dalam skala sangat besar, terutama Meta, pasar energi AS bergeser ke fase yang lebih strategis. Big Tech kini bukan lagi pembeli listrik pasif, melainkan aktor utama yang membentuk infrastruktur energi masa depan melalui aliansi jangka panjang dengan pengembang nuklir generasi baru.

Titik balik ini lahir dari pertemuan tiga kekuatan sekaligus: inovasi reaktor modular kecil (small modular reactors/SMR), ledakan kebutuhan listrik akibat ekspansi AI, dan pelonggaran perizinan nuklir di era Donald Trump, kombinasi yang secara efektif menghidupkan kembali industri nuklir AS setelah bertahun-tahun stagnan.

Pada Januari 2026, Meta mengumumkan kemitraan strategis dengan TerraPower milik Bill Gates dan Oklo yang pernah dipimpin Sam Altman untuk mengembangkan sekitar 4 gigawatt proyek SMR, cukup untuk memasok listrik hampir tiga juta rumah serta mendukung kampus AI raksasa “Prometheus” di Ohio.

Langkah Meta dipandang sebagai tembakan pembuka bagi industri teknologi besar. Kepala riset teknologi Wedbush Securities, Dan Ives, menegaskan, “Ini adalah tembakan pertama melintasi haluan; saya akan terkejut jika setiap perusahaan Big Tech tidak membuat langkah strategis di bidang nuklir pada 2026, baik lewat kemitraan maupun akuisisi.”

Sementara itu, TerraPower, di bawah kepemimpinan Chris Levesque, tengah membangun pembangkit SMR berkapasitas 345 megawatt di Kemmerer, Wyoming, yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2031. Melalui kesepakatan dengan Meta, perusahaan ini juga berencana mengoperasikan dua reaktor tambahan pada 2032, dengan opsi enam unit modular berikutnya sehingga total potensi kapasitasnya dapat mencapai 2,8 gigawatt.

Levesque menilai perubahan ini menuntut pergeseran cara berpikir industri nuklir. “Rekor keselamatan nuklir Amerika Serikat memang sangat baik, tetapi kultur itu justru membuat inovasi terasa berisiko. Kini kami memilih bertanya apa yang memungkinkan menurut ilmu pengetahuan dan hukum alam, bukan sekadar mengulang metode lama,” katanya.

Oklo, yang didirikan oleh Jacob dan Caroline DeWitte pada 2013, berencana membangun fasilitas nuklir besar di Pike County, Ohio, dengan kapasitas hingga 1,2 gigawatt pada 2034. Dalam konteks ini, DeWitte melihat peran perusahaan pusat data skala besar sebagai penggerak utama perubahan. “Perusahaan pengelola pusat data adalah konsumen listrik terbesar saat ini, dan mereka mulai menyadari bahwa pasar energi nuklir benar-benar nyata serta bisa dipercepat,” ujarnya.

Secara teknis, baik TerraPower maupun Oklo beralih dari reaktor berpendingin air ke sistem berpendingin sodium bertekanan rendah yang lebih aman dan lebih efisien biaya. Levesque menekankan bahwa prinsip dasarnya tetap sama, tetapi desainnya berubah. “Kami masih menggunakan fisi nuklir untuk menghasilkan panas dan listrik, namun dengan pendingin logam cair yang membuat fasilitas lebih ringan, lebih sederhana, dan lebih efisien,” jelasnya.

Di sisi lain, AS masih bergantung pada pasar pengayaan uranium global yang hampir separuhnya dikuasai Rusia. Karena itu, Oklo mengembangkan teknologi daur ulang bahan bakar dan membangun fasilitas senilai USD 1,7 miliar atau sekitar Rp 25,36 triliun dengan kurs Rp 16.870 per dolar AS di Oak Ridge, Tennessee. Bagi DeWitte, langkah ini bersifat strategis. “Dengan daur ulang, cadangan uranium domestik Amerika bisa menopang kebutuhan energi negara ini selama lebih dari 150 tahun,” katanya.

Namun, percepatan nuklir ini juga memicu kekhawatiran keselamatan. Pemerintah federal memang melonggarkan aturan untuk mempercepat proyek, tetapi Edwin Lyman dari Union of Concerned Scientists memperingatkan risiko tersebut. “Departemen Energi telah merombak prinsip dasar keselamatan nuklir tanpa keterbukaan publik yang memadai, dan berisiko mengabaikan pelajaran tragis dari Chernobyl dan Fukushima,” tegasnya.

Meski begitu, momentum industri terus menguat. Selain Meta, Google dan Amazon mulai mengamankan proyek SMR masing-masing, sementara Westinghouse kembali mengembangkan reaktor besar tipe AP1000.

Dengan demikian, pergeseran ini menandai perubahan mendasar dalam arsitektur energi global: nuklir bukan lagi simbol masa lalu, melainkan fondasi daya saing AI abad ke-21, dan Amerika Serikat berupaya menempatkan diri sebagai pemimpinnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Jet tempur KAAN akan menyatukan militer negara Muslim?

12 Februari 2026

TRAVL Gunakan IoT untuk Keamanan, Pengemudi Dapat Peringatan Saat Lampaui Batas Kecepatan

11 Februari 2026

3 HP Samsung Harga 2 Juta, Spesifikasi Lengkap & Harga Terbaru

11 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Kepala KUA Ongky Nyong Dianiaya 3 Pria, Kini Dibela 43 Pengacara, Korban Muntah Darah

12 Februari 2026

Hasil Survei: 79,8% Warga Kalimantan Puas pada Kinerja Prabowo

12 Februari 2026

Keuangan Melesat! 3 Zodiak Ini Akan Masuk Masa Keemasan Mulai 11 Februari 2026

12 Februari 2026

Bhayangkara FC Kehilangan Tahanan, Persija Jakarta Terancam?

12 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?