Indonesiadiscover.com –
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia dan keterkaitan dengan kartel narkoba menarik perhatian dunia internasional. Peristiwa ini berpotensi memengaruhi stabilitas politik dan ekonomi Venezuela, termasuk hubungan dagang dengan negara lain. Di tengah situasi tersebut, nasib ekspor kendaraan Toyota ke Venezuela menjadi pertanyaan besar.
Terkait hal itu, Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, memastikan bahwa hingga saat ini komunikasi dengan pihak Venezuela masih berjalan normal.
“Tapi so far, sampai dengan kemarin, kami sudah komunikasi dengan Venezuela, everything oke,” ucap Nandi di Bandung, Kamis (8/1/2026).
Menurutnya, tantangan yang perlu dicermati ke depan bukan hanya kondisi politik di Venezuela, melainkan juga kebijakan perdagangan yang dapat berubah seiring dinamika global. Ia menjelaskan bahwa isu utama adalah tarif impor yang bisa berdampak pada bisnis.
“Cuman yang jadi isu kan sebenarnya nanti itu tarif-tarif (kebijakan impor suatu negara) itu. Tapi sebenarnya kalau tarif itu kan bukan hanya kita yang kena,” ujar Nandi.
Sementara itu, Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azzam, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap dampak geopolitik terhadap rantai pasok dan logistik industri otomotif, termasuk ekspor kendaraan.
“Perkembangan geopolitik ini yang kita harus waspadai karena terkait dengan supply chain dan logistik,” kata Bob.
Ia menjelaskan, dalam kondisi geopolitik yang tidak stabil, biaya logistik berpotensi meningkat signifikan. Bob mencontohkan krisis di Timur Tengah yang sebelumnya mengganggu jalur pelayaran global.
“Biasanya, kalau ada gonjang ganjing, biaya logistik itu akan naik, ya. Seperti waktu krisis Timur Tengah sehingga tidak bisa menggunakan terusan Suez, sehingga arus logistik itu memutar sampai ke Tanjung Harapan. Itu juga membuat harga logistik menjadi dua kali itu lebih mahal,” katanya.
Selain logistik, Bob juga menyoroti ketergantungan industri otomotif global terhadap rantai pasok lintas negara. Menurutnya, saat ini tidak ada lagi industri yang bisa berdiri sendiri tanpa dukungan negara lain, termasuk pada sektor otomotif.
Ia memberi contoh material kritis pada baterai kendaraan elektrifikasi yang berasal dari berbagai negara di dunia, mulai dari China, Ukraina, kawasan ASEAN, hingga Amerika Selatan.
“Jadi, sekali terjadi ketegangan, arus barang itu terganggu, otomatis supply chain juga akan terganggu. Jadi, itu yang harus kita perhatikan.”
Bob menambahkan, industri otomotif sejatinya dirancang untuk perdagangan multilateral. Namun, kondisi dunia yang semakin terfragmentasi berpotensi memengaruhi kelancaran logistik dan rantai pasok global.
“Apalagi model-model yang terbaru, elektrifikasi, itu banyak menggunakan material-material seperti magnetik, baterai, yang terus terang kita masih banyak bergantung kepada impor, itu yang harus kita waspadai,” tutupnya.

Jumlah Ekspor Toyota ke Venezuela
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang Januari-November 2025 Toyota telah mengirimkan ribuan unit mobil ke Venezuela. Pada periode tersebut, Toyota mengirimkan dua model yakni Yaris Cross dan Wigo.
Yaris Cross tersalurkan sebanyak 1.008 unit ke Venezuela, sedangkan Wigo mencapai 5.971 unit.



