Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 27 Februari 2026
Trending
  • Alternatif finansial cerdas dengan pinjaman online Indodana fintech
  • Manny Pacquiao Incar Hancurkan Rekor Mayweather di Las Vegas
  • Hanya Seminggu, AKBP Catur Erwin Diganti, Ini Penggantinya
  • Natalius Pigai Sebut Penolak MBG Lawan HAM, Ketua BEM UGM: Argumen Tidak Tepat
  • Era kebangkitan dimulai! 3 zodiak siap raih kesuksesan mulai 23 Februari 2026
  • BUMN Banyak Jadi Persero, Ini Rekomendasi Sahamnya
  • Kadin Minta Presiden Hentikan Impor 105 Ribu Mobil Niaga dari India
  • Naskah Khutbah Jumat 27 Februari 2026: 7 Amalan Penting di Bulan Ramadan
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Zaman Pahlevi: Wanita Tanpa Hijab, Raja Berjas
Politik

Zaman Pahlevi: Wanita Tanpa Hijab, Raja Berjas

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover15 Januari 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Gelombang Protes Besar di Iran

Gelombang unjuk rasa besar-besaran melanda puluhan kota di Iran. Rakyat marah dengan kepemimpinan teokratis yang dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Dalam protes Iran terbesar yang berlangsung selama dua pekan ini, ribuan warga turun ke jalan. Mereka meneriakkan slogan-slogan dan berbaris di jalan-jalan. Putra mahkota yang diasingkan, Reza Pahlavi, turut menyemangati warga Iran.

Dalam video yang dibagikan oleh para aktivis di media sosial, menunjukkan para pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan menentang pemerintah Iran di sekitar api unggun. Yang lain memuji Putra Mahkota Reza Pahlavi yang diasingkan, sambil berteriak, “Ini pertempuran terakhir! Pahlavi akan kembali!” Putra dari syah terakhir Iran, yang digulingkan oleh Revolusi Islam 1979, Reza Pahlavi yang berbasis di AS, telah menyerukan agar warga Iran turun ke jalan dalam jumlah besar untuk melawan rezim Islam di negara tersebut.

Sejarah Dinasti Pahlavi

Sebelum Revolusi, Iran diperintah oleh Dinasti Pahlavi. Dinasti ini memerintah Iran antara 1925 dan 1979, sebelum monarki digulingkan selama Revolusi Iran, yang mengarah pada pembentukan Republik Islam. Saat pemerintahan Pahlavi, Iran diperintah oleh raja-raja yang mengenakan setelan Barat. Mereka memimpin industrialisasi negara Timur Tengah tersebut. Pada masa itu, para sejarawan mengatakan bahwa ibu kota Iran, Teheran, begitu bebas dan glamor sehingga disebut ‘Paris Timur Tengah.’ Alih-alih berhijab, perempuan berjalan di jalanan mengenakan rok pendek dan modis.

Namun, di balik fasad itu tersembunyi pemerintahan tangan besi Shah dan korupsi kronis yang menguntungkan kekuatan Barat. Represi tersebut menyebabkan raja digulingkan oleh rakyatnya sendiri. Mohammad Reza Shah Pahlavi, ayah Pahlavi, adalah Shah terakhir Iran sebelum pergi ke pengasingan.

Awal Mula Dinasti Pahlavi

Dinasti Pahlavi lahir bukan dari darah bangsawan, melainkan di medan perang. Reza Khan, seorang perwira militer dari keluarga sederhana, naik pangkat di Brigade Cossack Persia Iran, yang dibentuk pada tahun 1879 di bawah bimbingan Rusia. Pada tahun 1921, ia memimpin kudeta dengan bantuan perwira Inggris yang khawatir akan pengaruh Soviet di Iran. Pada 1925, dinasti Qajar digulingkan, dan Reza Khan “dipilih” oleh Majlis, sebuah dewan Islam Arab, untuk menjadi Shah berikutnya. Ia mengadopsi nama Pahlavi untuk menghormati seorang penguasa Persia abad pertengahan, meluncurkan monarki baru dengan ambisi modernisasi dan nasionalisme sekuler.

Plus Minus Sistem Monarki Iran

Reza Shah memprakarsai reformasi besar-besaran seperti pendidikan dan aturan berpakaian ala Barat. Ia melarang penggunaan cadar bagi perempuan di tempat umum, mendirikan bank nasional, sistem kereta api, dan negara pusat yang kuat, serta membatasi pengaruh ulama di pengadilan dan sekolah. Namun pemerintahannya juga otokratis. Perbedaan pendapat politik ditumpas, dan pers bebas dibungkam. Meskipun demikian, banyak yang menganggapnya sebagai bapak Iran modern. Tetapi Perang Dunia II mengubah segalanya.

Pada 1941, sekutu Iran sendiri menginvasi negara itu karena takut akan kedekatan Reza Shah dengan Nazi Jerman. Pasukan Inggris dan Soviet memaksanya untuk turun takhta demi putranya, Mohammad Reza Pahlavi yang berusia 22 tahun. Shah muda mewarisi takhta yang rapuh, negara yang terpecah belah, dan sentimen nasionalis yang berkembang. Selama dekade berikutnya, minyak Iran, yang dikendalikan oleh Anglo-Iranian Oil Company (AIOC) milik Inggris, menjadi sumber kebencian yang mendalam. Hal ini menyebabkan titik balik pada 1951, ketika parlemen Iran memilih Mohammad Mosaddegh sebagai perdana menteri.

Revolusi dan Perubahan Politik

Sebagai seorang nasionalis yang gigih, Mosaddegh menasionalisasi industri minyak Iran, secara langsung menantang kendali Inggris. Hal ini membuat marah warga Inggris dan Amerika, yang khawatir Iran akan condong ke Uni Soviet. Pada 1953, Badan Intelijen Pusat Amerika (CIA) mengatur Operasi Ajax, sebuah kudeta yang menggulingkan Mosaddegh dan mengembalikan Mohammad Reza Pahlavi dengan kendali penuh. Ini menandai awal monarki absolut di bawah keluarga Pahlavi dan juga dominasi AS dalam urusan Iran.

Shah bukan lagi sekadar raja. Ia adalah utusan Amerika di Teheran. Pada 1960-an, Mohammad Reza Shah meluncurkan Revolusi Putih, serangkaian reformasi dari atas ke bawah yang bertujuan untuk memodernisasi Iran, seperti redistribusi lahan untuk melemahkan tuan tanah feodal, hak pilih perempuan, program pemberantasan buta huruf dan kesehatan untuk daerah pedesaan, industrialisasi, dan pembangunan militer. Iran mengalami pertumbuhan ekonomi, urbanisasi, dan peningkatan kelas menengah.

Benih Revolusi Mulai Tumbuh

Budaya Barat menyebar dengan cepat, dari mode hingga film. Namun di balik permukaan, para ulama merasa terasingkan oleh sekularisme. Para migran dari pedesaan membanjiri kota-kota tanpa pekerjaan. Partai-partai politik dilarang, dan SAVAK, polisi rahasia Shah, membungkam perbedaan pendapat dengan penyiksaan dan rasa takut. Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang saat itu masih seorang ulama yang relatif tidak dikenal, mengutuk westernisasi yang dilakukan Shah dan diasingkan pada tahun 1964. Namun, benih revolusi telah ditanam.

Inflasi yang meningkat, ketidaksetaraan, pemerintahan otoriter, dan meningkatnya penentangan agama memuncak dalam protes massal pada tahun 1978. Terlepas dari kekuatan militernya yang besar, Shah ragu untuk menggunakan kekuatan penuh. Pada Januari 1979, raja yang dulunya perkasa itu telah melarikan diri dari Iran, dan tidak pernah kembali. Pada 1 Februari 1979, Ayatollah Khomeini kembali dari pengasingan dan disambut bak pahlawan. Dalam beberapa minggu, monarki Pahlavi dibubarkan. Iran menjadi republik Islam di bawah pemerintahan ulama. Mohammad Reza Shah meninggal dalam pengasingan di Mesir pada tahun 1980, meninggalkan warisan yang kompleks.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Natalius Pigai Sebut Penolak MBG Lawan HAM, Ketua BEM UGM: Argumen Tidak Tepat

27 Februari 2026

PKB: Setahun Pramono–Rano Lebih Banyak Persepsi Daripada Solusi

27 Februari 2026

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Pariaman: Puasa Nyaman dan Ngabuburit di Pantai

27 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Alternatif finansial cerdas dengan pinjaman online Indodana fintech

27 Februari 2026

Manny Pacquiao Incar Hancurkan Rekor Mayweather di Las Vegas

27 Februari 2026

Hanya Seminggu, AKBP Catur Erwin Diganti, Ini Penggantinya

27 Februari 2026

Natalius Pigai Sebut Penolak MBG Lawan HAM, Ketua BEM UGM: Argumen Tidak Tepat

27 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?