Energi Nuklir Kembali Jadi Prioritas Strategis di Dunia Barat
Dunia Barat kembali menempatkan energi nuklir sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam kebijakan energi. Setelah puluhan tahun mengalami penurunan karena biaya tinggi dan risiko finansial yang sulit diterima pasar, pemerintah di Amerika Utara dan Eropa kembali mengambil peran dominan dalam pembangunan reaktor nuklir.
Pergeseran ini didorong oleh beberapa faktor. Pertama, agenda transisi menuju energi rendah karbon semakin mendesak. Kedua, lonjakan kebutuhan listrik dari industri dan teknologi global, termasuk pusat data besar yang menjadi fondasi pengembangan kecerdasan buatan.
Sebelumnya, pembangunan reaktor nuklir diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar dan modal swasta. Namun, pendekatan ini tidak berhasil membangun banyak reaktor baru. Kini, negara kembali menjadi penanggung risiko utama, yang berdampak langsung pada keuangan publik dan para pembayar pajak.
Perkembangan di Kanada
Di Kanada, pergeseran tersebut terlihat jelas. Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan kepala pemerintahan Provinsi Ontario, Doug Ford, berkomitmen untuk menyalurkan dana gabungan sebesar 3 miliar dolar Kanada (sekitar 36,8 triliun dengan kurs Rp 12.270 per dolar Kanada) untuk pembangunan pembangkit nuklir baru di Clarington, Ontario. Proyek ini berdekatan dengan Darlington Nuclear Generating Station dan menjadi tanda kembalinya negara sebagai penjamin utama pembangunan reaktor nuklir di Kanada.
Namun, skala intervensi negara tersebut masih relatif kecil jika dibandingkan dengan kebijakan Amerika Serikat (AS). Pemerintah AS mengumumkan pembiayaan sedikitnya USD 80 miliar, setara sekitar Rp 1.340 triliun dengan kurs Rp 16.750 per dolar AS, untuk pembangunan reaktor Westinghouse di dalam negeri. Pendanaan ini berasal dari pemerintah Jepang, yang juga menjanjikan tambahan hingga USD 100 miliar untuk reaktor besar serta USD 100 miliar lainnya bagi reaktor modular kecil dari GE Vernova Hitachi.
Dukungan Kebijakan dari IEA
Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) mencatat penguatan dukungan kebijakan terhadap nuklir. Dalam laporan November, IEA menyatakan bahwa energi nuklir kembali mendapatkan dukungan yang kuat di banyak pasar.
Meski energi surya dan angin tetap memimpin pertumbuhan pembangkit listrik di negara maju, investasi nuklir telah meningkat lebih dari 70 persen dalam lima tahun terakhir. Diperkirakan, nuklir bisa memenuhi lebih dari sepersepuluh tambahan permintaan listrik dalam satu dekade ke depan.
Pengalaman Masa Lalu yang Mengingatkan
Namun, pengalaman masa lalu menjadi pengingat serius. Reaktor besar di Darlington yang dibangun pada 1980–1990-an akhirnya menelan biaya 14,5 miliar dolar Kanada, hampir dua kali lipat dari estimasi awal 7,4 miliar dolar Kanada. Keterlambatan rata-rata lima tahun per unit membuat beban utang Ontario Hydro melonjak tajam dan memicu restrukturisasi besar-besaran pada 1990-an.
Upaya mengalihkan risiko ke sektor swasta pun terbukti rapuh. Proyek Hinkley Point C di Inggris menjadi salah satu dari sedikit proyek nuklir yang lolos ketika pendanaan publik dibatasi. Proyek tersebut dibiayai tanpa dana pemerintah langsung melalui skema contracts for difference atau kontrak perbedaan harga yang memberi kepastian harga listrik bagi investor. Namun, kenaikan biaya dan keterlambatan pembangunan membuat model ini sulit direplikasi dan mengurangi minat investor.
Realita Industri Nuklir
Analis nuklir Tim Judson menilai kondisi tersebut mencerminkan realitas industri. “Industri swasta sebenarnya tidak tertarik membangun reaktor baru. Semua yang terjadi sekarang bergantung pada keputusan politik pemerintah negara bagian dan federal,” ujarnya.
Di Kanada, Ontario Power Generation (OPG) menghadapi tantangan serupa. “Kami telah mencoba banyak cara untuk menggandeng investor institusional, namun belum berhasil,” kata CFO OPG, Aida Cipolla. Negara akhirnya turun tangan melalui pinjaman dan penyertaan modal, dengan harapan kepemilikan tersebut dapat dilepas setelah proyek beroperasi dan risikonya menurun.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan
Pada akhirnya, kebangkitan kembali energi nuklir di Barat mencerminkan pilihan strategis di tengah lonjakan kebutuhan energi global dan keterbatasan investasi swasta. Namun satu hal tetap konsisten: jika pengendalian biaya dan jadwal gagal dijaga, risiko terbesar hampir pasti kembali bermuara pada publik.



