Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 24 Maret 2026
Trending
  • Samsung A05s Kamera 50MP, Harga Rp2 Juta di Lebaran 2026
  • Mitos vs Fakta: Pria Lebih Sabar Menghadapi Macet Saat Mudik
  • Hasil FP2 Moto3 Veda Ega Pratama di P12 Jelang Kualifikasi MotoGP Brasil 2026
  • 10 rumah modern dengan tumbuhan dalam ruangan, menginspirasi!
  • Berita Duka: Chuck Norris Meninggal, Legenda Film Bruce Lee dan The Expendables 2
  • Ekonomi Pasca Lebaran: Peluang Tumbuh atau Hanya Peningkatan Sementara?
  • Ubedilah Badrun Beberkan 3 Kemungkinan Pelaku di Balik Kasus Andrie Yunus
  • Harga minyak naik, B50 harus dipercepat implementasinya
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Perayaan Natal Penuh Kemeriahan di RI, Lalu Menghilang Setelah Pengusiran Massal Belanda
Nasional

Perayaan Natal Penuh Kemeriahan di RI, Lalu Menghilang Setelah Pengusiran Massal Belanda

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover27 Desember 2025Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Sejarah Perayaan Hari Sinterklas di Indonesia

Perayaan Natal yang dirayakan pada 24–25 Desember tidak selalu menjadi fokus utama masyarakat Indonesia. Pada masa lalu, terdapat perayaan lain yang juga sangat dinantikan, yaitu Hari Sinterklas, yang dirayakan setiap 5 Desember. Tradisi ini bukan hanya mitos atau cerita lisan, melainkan praktik budaya yang benar-benar pernah hidup dan dirayakan di Indonesia, khususnya pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan.

Hari Sinterklas merupakan warisan budaya dari Belanda. Selama ratusan tahun, masyarakat Belanda merayakan pesta ini sebagai malam penuh hadiah dan kegembiraan bagi anak-anak. Dalam kisahnya, Sinterklas digambarkan datang bersama pembantunya, Zwarte Piet (Piet Hitam), berlayar menggunakan kapal uap menuju Belanda, lalu masuk ke rumah-rumah melalui cerobong asap untuk membagikan hadiah.

Tradisi tersebut ikut dibawa ke Indonesia saat Belanda menjajah Nusantara, dan kemudian dijalankan oleh orang-orang Belanda, Indo-Belanda, serta sebagian umat Kristiani di Hindia Belanda.

Adaptasi Tradisi: Sepatu, Rumput, dan Jendela Rumah

Karena kondisi rumah di Indonesia berbeda dan tidak memiliki cerobong asap, tradisi Sinterklas mengalami penyesuaian. Anak-anak menaruh sepatu berisi rumput di bawah jendela rumah sebagai tanda agar Sinterklas meletakkan hadiah di sana pada malam hari.

Setiap tanggal 5 Desember, perayaan Hari Sinterklas berlangsung meriah. Warga Belanda dan Indo-Belanda menggelarnya dengan pesta keluarga, nyanyian, hingga arak-arakan. Tradisi ini tidak serta-merta hilang setelah Indonesia merdeka pada 1945. Faktanya, perayaan Hari Sinterklas masih bertahan hingga dekade 1950-an, menjadi bagian dari rutinitas tahunan kelompok masyarakat tertentu di Indonesia.

Kenangan Anak-Anak dan Kesaksian Sejarah

Dalam biografi Achmad Yani Tumbal Revolusi (1988), Amelia Yani, putri Jenderal Achmad Yani, mengenang Hari Sinterklas sebagai momen yang paling dinantikan anak-anak pada masa itu. “Kami percaya Sinterklas akan datang tengah malam dan mengirim banyak hadiah,” tulis Amelia. Kesaksian ini menunjukkan bahwa Hari Sinterklas bukan sekadar tradisi orang dewasa, melainkan benar-benar hidup dalam imajinasi dan kebahagiaan anak-anak di Indonesia kala itu.

Namun, kegembiraan tersebut berakhir secara tiba-tiba pada tahun 1957.

Irian Barat, PBB, dan Sentimen Anti-Belanda

Sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (1999) mencatat bahwa memburuknya hubungan Indonesia–Belanda dipicu oleh kegagalan diplomasi Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait status Irian Barat, yang saat itu belum menjadi bagian dari Indonesia. Kegagalan tersebut memicu kemarahan Presiden Soekarno dan melahirkan sentimen anti-Belanda di dalam negeri.

Dua hari setelah keputusan PBB yang tidak menguntungkan Indonesia, Kabinet Djuanda mulai membahas langkah-langkah balasan terhadap Belanda. Pemerintah kemudian:
– Mencabut hak pendaratan pesawat maskapai Belanda
– Melarang peredaran surat kabar dan film Belanda
– Membiarkan serikat buruh mengambil alih perusahaan-perusahaan milik Belanda pada 3 Desember 1957

5 Desember 1957: Sinterklas Hitam

Puncak ketegangan terjadi pada 5 Desember 1957, yang secara simbolik bertepatan dengan Hari Sinterklas. Pada hari itu, Presiden Soekarno, melalui Departemen Kehakiman, mengusir sekitar 46.000 warga Belanda yang masih tinggal di Indonesia. Tanggal yang biasanya diisi dengan pertukaran hadiah dan nyanyian berubah menjadi hari kepanikan dan duka. Peristiwa ini kemudian dikenang dengan sebutan Sinterklas Hitam.

Di tengah tekanan dan situasi yang memburuk, banyak warga Belanda mencairkan tabungan mereka, membeli tiket pesawat, atau berebut tempat di kapal laut untuk segera meninggalkan Indonesia.

Punahnya Sebuah Tradisi

Seiring hengkangnya warga Belanda dari Indonesia, perayaan Hari Sinterklas setiap 5 Desember—yang identik dengan kemunculan Sinterklas dan Zwarte Piet—perlahan menghilang dari kehidupan sosial masyarakat. Tanpa komunitas pendukungnya, tradisi itu akhirnya benar-benar punah dan tidak pernah kembali hingga hari ini.

Hari Sinterklas di Indonesia pun tinggal catatan sejarah: sebuah tradisi yang pernah hidup, dirayakan, lalu hilang karena pergolakan politik dan sejarah nasional.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Mitos vs Fakta: Pria Lebih Sabar Menghadapi Macet Saat Mudik

24 Maret 2026

Ekonomi Pasca Lebaran: Peluang Tumbuh atau Hanya Peningkatan Sementara?

24 Maret 2026

Harga minyak naik, B50 harus dipercepat implementasinya

24 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Samsung A05s Kamera 50MP, Harga Rp2 Juta di Lebaran 2026

24 Maret 2026

Mitos vs Fakta: Pria Lebih Sabar Menghadapi Macet Saat Mudik

24 Maret 2026

Hasil FP2 Moto3 Veda Ega Pratama di P12 Jelang Kualifikasi MotoGP Brasil 2026

24 Maret 2026

10 rumah modern dengan tumbuhan dalam ruangan, menginspirasi!

24 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?