Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 29 Juni 2026
Trending
  • Kemendikdasmen Percepat Pembangunan Sekolah di Aceh Bersama TNI
  • Prancis vs Norwegia Live TVRI Pagi, Jadwal Grup I Pildun 2026 dan Nonton Bareng Kalsel
  • Diskon Tiket Jakarta-Surabaya-Makassar: Jadwal Kapal Pelni 8 Kali dengan KM Labobar, Tidar, Ciremai, Nggapulu
  • Bisa Kebanyakan Serat Gangguhi Pencernaan?
  • Taufik Hidayat Akui Tahan Pacar di Bandung, 3 Ucapan Jitu Mantan Bos Bocor
  • 20 Soal PPPK Tendik Terbaru dengan HOTS dan Pembahasan
  • Afrika Selatan Ciptakan Sejarah Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Korsel
  • Daftar Peralatan Wajib di Mobil Saat Liburan Keluarga
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Hiburan»5 Fakta Menarik Guanajuato, Kota Arwah di Film Coco
Hiburan

5 Fakta Menarik Guanajuato, Kota Arwah di Film Coco

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover5 April 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kota Berwarna-Warni yang Dibangun Bertingkat



Salah satu ciri paling mencolok dari Guanajuato adalah deretan bangunannya yang berwarna cerah dan dibangun bertingkat mengikuti kontur perbukitan. Rumah-rumah di kota ini tidak berdiri di lahan datar, melainkan menyesuaikan medan yang naik turun, sehingga banyak bangunan tampak saling berhimpitan dan berlapis. Karena itu, pemandangan Guanajuato dari kejauhan terlihat padat dan berwarna, dengan struktur kota yang tumbuh ke atas alih-alih melebar.

Visual semacam ini mengingatkan pada penggambaran Land of the Dead dalam Coco, yang juga menampilkan kota berlapis dengan bangunan warna-warni tersusun vertikal. Tentu saja, versi dalam film dibuat lebih dramatis dan artistik untuk kebutuhan animasi. Namun, Guanajuato menunjukkan bahwa konsep kota bertingkat seperti itu bukanlah sepenuhnya rekaan. Dengan mengamati tata kotanya yang sangat unik, wajar jika Pixar terinspirasi dari kota nyata satu ini, lalu menerjemahkannya ke dalam dunia fantasi yang lebih ekspresif.

Kota Tambang yang Tumbuh di Bawah Tanah



Guanajuato dulunya merupakan kota tambang perak yang sangat vital bagi Spanyol. Aktivitas pertambangan ini membuat banyak terowongan digali di bawah kota, yang lambat laun berkembang menjadi jalur penghubung antarkawasan. Hingga kini, jaringan jalan bawah tanah tersebut masih difungsikan, baik untuk kendaraan maupun pejalan kaki. Jadi, kehidupan Guanajuato memang tak sepenuhnya berlangsung di permukaan. Ada “lapisan lain” kota yang berjalan diam-diam di bawahnya.

Konsep kota bertingkat ini terasa selaras dengan narasi Coco. Land of the Dead digambarkan sebagai dunia yang penuh lorong, jalan sempit, dan ruang-ruang tersembunyi di balik gemerlap kota. Salah satu contohnya terlihat pada adegan saat Imelda akhirnya mengakui kecintaannya pada musik dan menyanyikan sepenggal lagu “La Llorona” kepada Miguel, bukan di ruang terbuka, melainkan di area sempit yang lebih privat, jauh dari keramaian. Adegan tersebut menegaskan bahwa emosi paling jujur justru muncul di ruang-ruang tersembunyi. Maka, ketika Guanajuato memiliki “kehidupan kedua” di bawah tanahnya, kesan mistis dan emosional itu terasa nyambung, seolah kota ini memang terbiasa menyimpan cerita penting di balik permukaannya.

Tradisi Kematian yang Diperlakukan dengan Hangat



Berbeda dari banyak budaya lain yang memandang kematian sebagai hal kelam, masyarakat Guanajuato dan Meksiko pada umumnya justru memperlakukannya dengan pendekatan yang lebih hangat. Tradisi Día de los Muertos bukan sekadar ritual mengenang orang meninggal, tapi juga perayaan kehidupan, keluarga, dan ingatan. Hal inilah yang menjadi jantung cerita Coco. Kota para arwah tidak digambarkan menakutkan, melainkan penuh musik, tawa, dan interaksi sosial. Nyatanya, semangat tersebut memang hidup di masyarakat Guanajuato. Orang-orang datang ke pemakaman dengan bunga, makanan, dan cerita, bukan hanya kesedihan. Karena itulah, Land of the Dead terasa begitu “manusiawi”, sebab akarnya memang berasal dari budaya nyata yang masih dijalani hingga sekarang.

Museo de las Momias yang Menguatkan Nuansa Dunia Arwah



Guanajuato juga dikenal memiliki Museo de las Momias, museum yang menyimpan mumi-mumi asli dari abad ke-19 dan awal abad 20. Mumi-mumi ini terawetkan secara alami karena kondisi tanah dan iklim, bukan melalui proses pengawetan buatan seperti di Mesir. Meski terdengar menyeramkan, museum ini justru menjadi bagian dari identitas kota. Keberadaan museum ini memperkuat hubungan Guanajuato dengan tema kematian yang tidak dihindari, melainkan diakui sebagai bagian dari kehidupan. Dalam konteks film animasi Coco, hal ini sejalan dengan bagaimana para arwah tetap “hidup” selama mereka dikenang. Jadi, meskipun mumi di Guanajuato adalah jasad nyata, pendekatan masyarakat terhadapnya tetaplah positif, yakni menghormati, bukan takut terhadapnya.

Kota Tua yang Sarat Musik dan Cerita



Selain arsitektur dan sejarahnya, Guanajuato juga dikenal sebagai kota seni dan musik. Jalan-jalan sempitnya sering diisi pertunjukan musik jalanan, serenata, hingga cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Bahkan, ada tradisi callejoneadas, yaitu tur malam hari sambil menyanyi dan mendengarkan kisah-kisah lama kota. Nuansa ini terasa sangat dekat dengan Coco, yang menjadikan musik sebagai jembatan antara dunia hidup dan dunia arwah. Di Land of the Dead, musik bukan sekadar hiburan, melainkan identitas dan pengikat keluarga. Guanajuato, dengan segala tradisi musiknya, menunjukkan bahwa kota nyata pun bisa hidup melalui nada, cerita, dan kenangan kolektif warganya.

Biarpun Coco adalah film animasi, dunia yang ditampilkannya terasa nyata karena memang berakar dari tempat sungguhan seperti Guanajuato. Kota ini membuktikan bahwa keindahan, sejarah, dan cara memaknai kematian bisa berpadu tanpa harus terasa muram. Jadi, ketika kamu melihat Land of the Dead yang penuh warna dan kehangatan, ingatlah bahwa di dunia nyata, Guanajuato sudah lebih dulu hidup dengan semangat yang serupa.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Saya Ingin Jadi Ustaz, Santri yang Dibakar Tetap Ingin Sekolah

25 Juni 2026

Pemerintah dan PLN Segera Jalankan PLTS 100 GW, Industri Surya Lokal Siap Berkontribusi

25 Juni 2026

Mantan Wakil Kepala BGN Buka Suara Soal Pengadaan CCTV Fiktif Rp 300 Miliar Era Dadan

25 Juni 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Kemendikdasmen Percepat Pembangunan Sekolah di Aceh Bersama TNI

29 Juni 2026

Prancis vs Norwegia Live TVRI Pagi, Jadwal Grup I Pildun 2026 dan Nonton Bareng Kalsel

29 Juni 2026

Diskon Tiket Jakarta-Surabaya-Makassar: Jadwal Kapal Pelni 8 Kali dengan KM Labobar, Tidar, Ciremai, Nggapulu

29 Juni 2026

Bisa Kebanyakan Serat Gangguhi Pencernaan?

29 Juni 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?