Kenaikan Harga Elpiji Nonsubsidi 12 Kilogram Mengganggu Kondisi Ekonomi Warga
Harga elpiji (LPG) nonsubsidi 12 kilogram mengalami kenaikan dari Rp192.000 menjadi Rp228.000 per tabung. Kenaikan ini memicu keluhan warga ibu kota yang telah lama menggunakan LPG nonsubsidi. Kenaikan harga ini terjadi bersamaan dengan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan pokok lainnya, sehingga memberatkan masyarakat.
Michael (24), warga Kalideres, Jakarta Barat, mengatakan bahwa ia baru saja mengetahui kenaikan harga tersebut. Ia merasa kenaikan sebesar Rp40.000 cukup signifikan. Menurut Michael, kenaikan harga energi ini akan diikuti oleh kenaikan harga kebutuhan lainnya di pasaran.
“Sebenarnya sudah expected sih, karena lumayan ngikutin harga tiket pesawat yang bergantung sama avtur. Terus harga baru Pertamax Dex dan Pertamax Turbo yang naiknya jauh banget, jadi pasti gas nyusul,” ujar Michael.
Pudji (50), yang telah menggunakan gas nonsubsidi selama lebih dari 30 tahun, juga merasa terkejut dengan kenaikan harga yang cukup tinggi. Ia mengaku bahwa kondisi ekonomi saat ini semakin berat, dan kenaikan harga gas terasa semakin membebani.
“Kalau begini kan berat ya, pengeluaran jadi membengkak, menyulitkan lah gitu,” kata Pudji.
Perubahan Pola Konsumsi Gas
Terhimpit kondisi ekonomi yang semakin mahal, Michael mulai mempertimbangkan kembali menggunakan gas subsidi 3 kg yang sempat ia tinggalkan setahun lalu. Sebelumnya, ia beralih ke gas 12 kg karena kesulitan mendapatkan gas melon yang langka dan distribusinya dinilai belum optimal.
“Saya punya juga tabung subsidi, jadi sementara berganti ke subsidi dulu. Tapi kalau subsidi kan sering kosong, jadi mau enggak mau tetap pakai yang 12 kg. Kalau ganti ke 5,5 kg harus beli tabungnya lumayan, jadi kalau hitung-hitungan, masih efisien yang 12 kg,” tutur Michael.
Senada dengan Michael, Pudji mengaku harus memutar otak untuk mencari alternatif lain. Ia kini mempertimbangkan beralih ke gas elpiji 5,5 kg agar pengeluaran rutinnya tidak terus membengkak.
“Mau enggak mau harus cari alternatif yang lebih meringankan. Bisa jadi (pindah ke gas 5,5 kg). Yang jelas sih ya harus dihemat-hemat gasnya,” ucap Pudji.
Penjelasan dari Menteri ESDM
Berdasarkan laman resmi Pertamina Patra Niaga, harga elpiji nonsubsidi Bright Gas 12 kg di tingkat agen distribusi untuk wilayah Jawa Tengah, DKI Jakarta, hingga Jawa Timur kini mencapai Rp 228.000 per tabung. Harga tersebut naik cukup signifikan dari sebelumnya sekitar Rp 192.000 per tabung. Sementara itu, di wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga Jambi, harga elpiji nonsubsidi bahkan mencapai sekitar Rp 230.000 per tabung.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa LPG 12 kg merupakan elpiji nonsubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat mampu. Ia menjelaskan bahwa negara hadir untuk seluruh rakyat, tetapi bantuan energi diprioritaskan bagi masyarakat kurang mampu.
“Gini loh, negara itu hadir untuk membantu semua rakyat, tetapi prioritasnya itu adalah kepada saudara-saudara kita yang tidak mampu. Kalau yang mampu, ya harusnya dia berkontribusi untuk saling membantu, itu saja kok,” ujar Bahlil.
Ia memastikan bahwa harga LPG 3 kg bersubsidi tidak mengalami kenaikan di tengah gejolak global, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. “Kalau yang subsidi (harganya) tetap. Saya hanya bisa menjamin harga subsidi karena itu adalah perintah Presiden dan perintah aturan,” kata Bahlil.
Namun, ia menegaskan bahwa harga LPG nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar sehingga dapat mengalami penyesuaian. Bahlil juga mengingatkan masyarakat berpenghasilan tinggi agar tidak menggunakan LPG subsidi 3 kg.



