Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 3 April 2026
Trending
  • Dua Mayat Penuh Belatung di Atap Masjid Menggegerkan, Polisi Ungkap Penyebab Kematian
  • Trigol Beto Bawa PSIS Raih Kemenangan Terbesar Musim Ini
  • Ekonom: Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Akibat Konflik Timur Tengah
  • Kejati Banten Selidiki Dugaan Korupsi Aset UIN Syarif Hidayatullah
  • Uni Eropa hapus bea masuk untuk belanja murah dari Tiongkok
  • Ericsson umumkan portofolio inovatif berbasis AI untuk tingkatkan kinerja jaringan
  • 5 tempat belanja baju lebaran murah dan berkualitas di Malang!
  • 6 inspirasi kanopi minimalis untuk teras rumah subsidi, bikin fasade makin rapi dan fungsional
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Indonesia Jadi Negara Pertama Hapus Aplikasi Grok Elon Musk
Ragam

Indonesia Jadi Negara Pertama Hapus Aplikasi Grok Elon Musk

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover17 Januari 2026Tidak ada komentar2 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Indonesia kembali mengambil langkah tegas dalam menjaga keamanan dan etika di ruang digital. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) melakukan pemutusan akses sementara terhadap aplikasi chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) Grok yang dimiliki oleh Elon Musk.

Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara pertama di dunia yang mengambil tindakan tersebut. Keputusan ini dilakukan untuk memastikan ruang digital tetap aman dan beretika, serta melindungi masyarakat dari risiko konten berbahaya yang menggunakan teknologi AI.

Alasan Pemutusan Akses

Menurut Menteri Meutya, pemutusan akses Grok dilakukan karena adanya dugaan penyalahgunaan teknologi AI untuk membuat dan menyebarkan konten pornografi palsu berbasis deepfake. Konten-konten ini dapat merusak martabat dan hak asasi manusia, terutama bagi perempuan dan anak-anak.

Ia menegaskan bahwa praktik deepfake bermuatan seksual tanpa persetujuan merupakan pelanggaran serius. Untuk itu, pemerintah mengambil langkah proaktif dengan memutus akses aplikasi tersebut sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat.

Pemerintah juga menilai bahwa ruang digital tidak boleh menjadi wilayah bebas hukum. Penyalahgunaan AI untuk membuat konten seksual nonkonsensual dianggap sebagai ancaman nyata terhadap keamanan publik, privasi individu, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Tindakan Lanjutan

Selain memutus akses Grok, Kemkomdigi juga meminta X selaku pengelola platform untuk segera memberikan klarifikasi dan bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan. Evaluasi lanjutan akan dilakukan berdasarkan komitmen perbaikan yang diajukan oleh penyelenggara sistem elektronik.

Langkah ini dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat. Aturan ini mewajibkan setiap platform untuk memastikan layanannya tidak memuat atau memfasilitasi konten yang dilarang oleh hukum Indonesia.

Tanggapan Pakar

Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menilai langkah pemerintah sudah tepat dan patut diapresiasi. Ia menilai Indonesia bisa menjadi pelopor dalam memastikan platform digital yang aman.

Menurutnya, jika suatu platform terbukti memberikan ancaman serius terhadap perempuan dan anak melalui eksploitasi pornografi digital, maka pemblokiran adalah pilihan yang wajar.

Alfons menegaskan bahwa penyedia platform digital tidak bisa hanya berfokus pada keuntungan bisnis tanpa memperhatikan nilai moral, etika, serta hukum di negara tempat mereka beroperasi.

“Nilai-nilai moral tiap negara berbeda. Apa yang mungkin dianggap wajar di negara lain, belum tentu cocok di Indonesia. Platform global tidak bisa menerapkan satu standar untuk seluruh dunia,” ujar Alfons.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

5 tempat belanja baju lebaran murah dan berkualitas di Malang!

3 April 2026

Ericsson umumkan portofolio inovatif berbasis AI untuk tingkatkan kinerja jaringan

3 April 2026

6 inspirasi kanopi minimalis untuk teras rumah subsidi, bikin fasade makin rapi dan fungsional

3 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Dua Mayat Penuh Belatung di Atap Masjid Menggegerkan, Polisi Ungkap Penyebab Kematian

3 April 2026

Trigol Beto Bawa PSIS Raih Kemenangan Terbesar Musim Ini

3 April 2026

Ekonom: Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Akibat Konflik Timur Tengah

3 April 2026

Kejati Banten Selidiki Dugaan Korupsi Aset UIN Syarif Hidayatullah

3 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?