Proyek Tol Getaci: Tantangan dan Peluang di Tengah Pembangunan Infrastruktur
Proyek Tol Getaci kini memasuki fase yang sangat penting. Pada tanggal 8 Januari 2026, pembebasan tanah di Kabupaten Bandung dan Garut telah mencapai hampir 95%, dengan lebih dari 3.000 lahan yang sudah diselesaikan—angka ini melonjak dari 2.200 pada akhir November 2025. Pekerjaan konstruksi tahap awal sudah dimulai di awal bulan ini, terutama di bagian fondasi di beberapa lokasi strategis di Bandung.
Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) melaporkan bahwa jadwal operasional penuh pada 2029 masih realistis, dan ada kemungkinan percepatan jika kondisi cuaca tetap mendukung. Proyek ini juga telah menciptakan ribuan lapangan kerja lokal, memberikan dorongan positif bagi perekonomian regional. Mari kita eksplorasi lebih dalam tentang proyek ini, dengan pandangan segar dan detail tambahan untuk memahami dampaknya.
Bayangkan sebuah arteri utama yang akan merevolusi perjalanan di Pulau Jawa. Tol Getaci, yang direncanakan menghubungkan Jawa Barat dengan Jawa Tengah, bukanlah sekadar jalan tol biasa. Dengan total panjang 206,65 kilometer, ia akan membentang dari Gedebage di Kota Bandung hingga Cilacap, membuka pintu bagi mobilitas yang lebih cepat dan efisien.
Proyek ini dijadwalkan mulai beroperasi secara keseluruhan pada 2029, namun segmen pertama dari Gedebage ke Tasikmalaya—yang mencapai 95,52 kilometer—akan lebih dulu rampung. Ini adalah langkah besar untuk mengatasi masalah lalu lintas yang sering macet, terutama di rute menuju destinasi populer seperti Pangandaran atau pantai selatan Jawa.
Dalam forum ICI 2025 di Jakarta, pimpinan BPJT, Willan Oktavian, menekankan prioritas pada bagian awal ini. “Kami fokus dulu pada Gedebage-Tasikmalaya, kemudian baru melanjutkan ke Cilacap,” katanya. Mulai dari Gedebage, Kota Bandung, jalur tol ini akan melewati Kabupaten Bandung, Garut, Tasikmalaya, dan berakhir di Kota Tasikmalaya. Ini bukan hanya tentang infrastruktur fisik, melainkan juga tentang membangun koneksi sosial dan ekonomi yang lebih kuat antarwilayah.
Untuk mewujudkan visi ini—dengan konstruksi dimulai 2026 dan selesai 2029—tim proyek sedang menggenjot pembebasan lahan. Prioritas utama saat ini adalah Kabupaten Bandung dan Garut, sebagai titik awal trase. Koordinator proyek, Muhammad Hidayat Satria Adi dari PPK Tol Getaci II, menyatakan bahwa setelah dua kabupaten ini selesai, fokus akan bergeser ke Tasikmalaya. Hingga November 2025, sekitar 2.200 lahan di Garut telah dibebaskan, dan hingga 8 Januari 2026, angka ini bertambah 800 lagi, menunjukkan laju yang menggembirakan.
Namun, proyek ini juga membawa tantangan. Banyak warga terdampak, dengan 97 desa dan kelurahan di segmen Gedebage-Tasikmalaya yang akan menerima kompensasi uang ganti rugi (UGR). Mari kita bahas detailnya per daerah, sambil menambahkan konteks tentang potensi manfaat dan tantangan lokal.
Kabupaten Bandung: 28 Desa di Enam Kecamatan
Di Kabupaten Bandung, tol ini akan melintasi 28 desa yang tersebar di enam kecamatan, meliputi area pertanian subur dan pemukiman padat penduduk. Pembebasan lahan di sini sedang dipercepat untuk memastikan konstruksi tidak tertunda. Daftar desa yang terpengaruh meliputi:
- Kecamatan Bojongsoang
- Desa Tegalluar dan Sukamanah, di mana lahan pertanian menjadi fokus utama.
- Kecamatan Rancaekek
- Desa Bojongloa, Tegal Sumedang, dan Sukamanah, dengan potensi pengembangan akses ke pasar lokal.
- Kecamatan Solokan Jeruk
- Desa Cibodas, Langensari, Padamukti, dan Panyadap, yang bisa membuka peluang wisata baru.
- Kecamatan Paseh
- Desa Tangsimekar, Cijagra, Cipedes, Cigentur, dan Karangtunggal, di mana kompensasi sedang didistribusikan.
- Kecamatan Cikancung
- Desa Srirahayu, Mekarlaksana, Ciluluk, Cikancung, Mandalasari, dan Cihanyir, dengan harapan meningkatkan konektivitas.
- Kecamatan Cicalengka
- Desa Narawita, Margaasih, Ciherang, Ganjar Sabar, Bojong, Mandalawangi, Citaman, dan Nagreg, yang terkenal dengan budaya lokalnya.
Kabupaten Garut: 37 Desa di Tujuh Kecamatan
Garut, dengan pegunungan indah dan perkebunan luas, akan menjadi bagian vital tol ini. 37 desa di tujuh kecamatan terdampak, dengan beberapa sudah selesai pembebasannya. Ini mencakup:
- Kecamatan Kadungora
- Desa Mandalasari, Karangmulya, Karangtengah, Hegarsari, dan Talagasari, di mana tol bisa mendukung ekspor produk pertanian.
- Kecamatan Leles
- Desa Kandangmukti, Leles, Cangkuang, Margaluyu, dan Sukarame, dengan potensi pariwisata pegunungan.
- Kecamatan Leuwigoong
- Hanya Desa Margacinta, yang mungkin mendapat manfaat dari akses lebih mudah.
- Kecamatan Banyuresmi
- Desa Sukakarya, Sukalaksana, Sukamukti, Sukaratu, Pamekarsari, dan Sukasenang, fokus pada pengembangan UMKM.
- Kecamatan Karangpawitan
- Desa Mekarsari, Kelurahan Lengkongjaya, Desa Jatisari, Kelurahan Karangmulya, Desa Suci, Kelurahan Lebakjaya, Desa Tanjungsari, dan Lebak Agung, dengan harapan peningkatan investasi.
- Kecamatan Garut Kota
- Kelurahan Cimuncang, Kota Kulon, Margawati, dan Sukanegla, sebagai pusat urban yang akan terhubung lebih baik.
- Kecamatan Cilawu
- Desa Ngamplangsari, Ngamplang, Pasanggrahan, Cilawu, Karyamekar, Dayeuhmanggung, Sukatani, dan Sukamaju, yang bisa membawa turis lebih banyak.
Kabupaten Tasikmalaya: 17 Desa di Delapan Kecamatan
Di Kabupaten Tasikmalaya, tol akan menyusuri delapan kecamatan dengan 17 desa. Beberapa di Kecamatan Manonjaya akan terpengaruh di fase kedua, tapi yang berikut adalah prioritas sekarang:
- Kecamatan Salawu
- Desa Sukahurip dan Neglasari, dengan potensi pengembangan pertanian.
- Kecamatan Cigalontang
- Desa Kersamaju, Lengkongjaya, Nanggerang, Nangtang, Pusparaja, Sirnagalih, Sukamanah, Tanjungkarang, dan Tenjonagara, yang bisa meningkatkan akses ke pasar.
- Kecamatan Padakembang
- Hanya Desa Cilampunghilir, fokus pada kompensasi warga.
- Kecamatan Leuwisari
- Hanya Desa Arjasari, dengan harapan konektivitas yang lebih baik.
- Kecamatan Singaparna
- Desa Sukaherang, Cintaraja, Cikunir, dan Cikadongdong, yang terkenal dengan kerajinan tangan.
Kota Tasikmalaya: 15 Kelurahan di Empat Kecamatan
Di Kota Tasikmalaya, tol akan melintasi empat kecamatan dengan 15 kelurahan. Titik akhir fase pertama adalah Kecamatan Kawalu, sehingga kompensasi untuk Cibeureum dan Tamansari akan ditangani nanti. Daftarnya:
- Kecamatan Mangkubumi
- Kelurahan Karikil, Cigantang, dan Sambong Jaya, sebagai area perkotaan yang akan mendapat manfaat langsung.
- Kecamatan Kawalu
- Kelurahan Gunung Tandala, Karang Anyar, Cilamajang, dan Karsamenak, dengan potensi pengembangan bisnis.
- Kecamatan Cibeureum
- Kelurahan Ciherang dan Ciakar, fokus pada pemulihan sosial.
- Kecamatan Tamansari
- Kelurahan Setia Mulya, Taman Jaya, Mulya Sari, Suka Hurip, Mugar Sari, dan Sumelap, yang bisa membawa inovasi urban.
Tol Getaci bukan hanya tentang membangun jalan; ia adalah investasi untuk masa depan. Dengan akses yang lebih mudah, daerah wisata seperti Garut dan Tasikmalaya bisa menarik lebih banyak pengunjung, menduk(***)



