Rencana Gubernur Papua Maju sebagai Ketua PSSI Papua Mengundang Perdebatan
Rencana yang diumumkan oleh Gubernur Papua, Matius Fakhiri, untuk maju sebagai Ketua PSSI Provinsi Papua kini menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Isu ini muncul setelah beredarnya pamflet yang menyebutkan niat gubernur tersebut untuk memimpin organisasi sepak bola tertinggi di tingkat provinsi.
Sejak saat itu, respons publik terbagi menjadi dua. Sebagian pihak menyambut positif rencana tersebut, dengan menilai bahwa kehadiran seorang kepala daerah dapat memberikan dampak besar bagi kemajuan sepak bola Papua, baik dari sisi pembinaan, fasilitas, maupun dukungan anggaran. Namun, di sisi lain, tidak sedikit pihak yang khawatir akan potensi konflik kepentingan jika jabatan strategis di pemerintahan dirangkap dengan posisi penting dalam organisasi olahraga.
Menanggapi polemik tersebut, Simon Petrus Bame, ketua relawan Mata Matius Haryoko, memberikan penjelasan dari sudut pandang hukum dan organisasi. Menurutnya, Indonesia merupakan negara hukum, sehingga setiap langkah atau pencalonan harus dilihat berdasarkan aturan yang berlaku, bukan sekadar asumsi.
“Kita ini negara hukum. Kalau dalam anggaran dasar organisasi tidak ada larangan kepala daerah mencalonkan diri sebagai Ketua PSSI, maka itu sah-sah saja dan tidak bisa dipersoalkan,” ujar Simon kepada Tribun Papua, Sabtu (25/4/2026).
Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu terlalu khawatir terhadap isu rangkap jabatan, karena dalam struktur organisasi modern, tugas dan tanggung jawab telah dibagi secara jelas.
“Dalam organisasi itu ada ketua, ada sekretaris, bendahara, dan juga pengurus harian. Bahkan ada orang-orang profesional serta mantan pemain yang punya kapasitas untuk menjalankan roda organisasi,” jelasnya.
Simon menilai, peran ketua lebih kepada pengambil kebijakan strategis, sementara operasional sehari-hari dijalankan oleh tim yang telah ditunjuk sesuai bidangnya.
“Jadi tidak benar kalau ada anggapan semua pekerjaan akan dibebankan kepada ketua. Justru yang bekerja langsung adalah pengurus harian,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti perkembangan sistem pengawasan di era modern yang dinilai semakin transparan dan akuntabel.
“Sekarang ini semua sudah berbasis sistem. Pengelolaan keuangan diawasi, kegiatan organisasi juga terbuka. Jadi potensi penyalahgunaan kewenangan itu bisa diminimalisir,” katanya.
Simon bahkan menilai, kekhawatiran yang muncul saat ini lebih disebabkan oleh pola pikir lama yang belum sepenuhnya melihat perkembangan tata kelola organisasi modern.
“Kita bukan lagi di zaman dulu. Sekarang semua bisa dipantau, semua ada mekanisme kontrolnya,” ujarnya.
Dari sisi personal, Simon melihat Matius Fakhiri sebagai sosok yang memiliki kedekatan emosional dengan dunia sepakbola. Ia menyebut, Gubernur Papua tersebut kerap hadir langsung di stadion untuk menyaksikan pertandingan, termasuk saat klub kebanggaan Papua berlaga.
“Beliau ini memang punya hobi sepak bola. Kita sering lihat beliau hadir langsung di stadion saat pertandingan berlangsung. Itu menunjukkan kecintaan beliau terhadap olahraga ini,” ungkapnya.
Menurut Simon, kecintaan tersebut justru menjadi modal penting dalam mendorong kemajuan sepak bola di Papua, yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil talenta terbaik di Indonesia.
Ia optimistis, jika terpilih sebagai Ketua PSSI Papua, Matius Fakhiri dapat membawa perubahan signifikan, terutama dalam pembinaan pemain muda dan peningkatan prestasi di level nasional.
“Papua ini punya banyak talenta. Tinggal bagaimana dikelola dengan baik. Kalau ada dukungan penuh dari pimpinan daerah, tentu pembinaan bisa lebih maksimal,” tegas Simon.
Selain itu, ia juga berharap ke depan sepak bola Papua dapat kembali berjaya seperti masa lalu, bahkan mampu bersaing di tingkat internasional.
“Dulu kita punya kejayaan, dan itu bisa kembali. Bahkan bisa lebih baik lagi jika dikelola dengan serius dan profesional,” katanya.
Simon juga menegaskan bahwa jika nantinya Matius Fakhiri terpilih, tanggung jawab sebagai gubernur tidak akan terabaikan.
“Sebagai kepala daerah, beliau tetap punya tanggung jawab besar kepada masyarakat. Jadi tidak mungkin tugas itu ditinggalkan,” tegasnya.
Ia memastikan, perhatian terhadap cabang olahraga lain juga akan tetap berjalan seiring dengan pengembangan sepakbola.
“Bukan hanya sepakbola, tetapi semua cabang olahraga akan tetap mendapat perhatian. Itu bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah,” pungkasnya.
Di tengah perdebatan yang terus berkembang, masyarakat Papua kini menantikan bagaimana kelanjutan rencana tersebut, termasuk keputusan resmi terkait pencalonan dan proses pemilihan Ketua PSSI Papua ke depan.



