Kehidupan Seorang Seniman yang Menari 24 Jam Nonstop
Baltazar Oka (30) adalah seorang guru seni budaya asal Tangerang, Provinsi Banten. Ia mengikuti tantangan menari selama 24 jam nonstop dalam acara Banyumas Ngibing. Baginya, menari bukan sekadar aktivitas seni biasa, melainkan sebuah perjalanan batin untuk mengenal diri dan mensyukuri tubuh yang dimilikinya.
Panggilan Hati Seniman
Baltazar mengaku bahwa keikutsertaannya dalam tantangan ekstrem ini bukan semata-mata karena agenda seni rutin, melainkan panggilan hati setelah ia sempat vakum dari kegiatan serupa. Ia merasa ingin kembali mengolah tubuhnya, mengenal lebih jauh, serta menikmati dan mensyukuri apa yang Tuhan berikan. Ia menyadari bahwa tubuh adalah aset utama bagi manusia.
Penuhi Janji Teman
Pria ini juga pernah mengikuti kegiatan serupa di Kota Solo pada tahun 2023 lalu. Namun setelah momen itu, ia sempat tidak aktif mengikuti peringatan Hari Tari karena kesibukan pekerjaan. Keikutsertaannya di wilayah Banyumas kali ini menjadi pengalaman kedua baginya dalam menjalani tantangan menari selama 24 jam. Ia menyebut kehadirannya di Banyumas sekaligus untuk menepati janji kepada seniman Tari Banyumas, Rianto, yang sebelumnya telah mengajaknya datang langsung.
Kantongi Restu Orangtua
Dalam menghadapi tantangan fisik dan mental selama 24 jam penuh, Baltazar menekankan pentingnya persiapan yang sangat matang, terutama yang berkaitan dengan stamina dan kesehatan. Ia mengatakan bahwa stamina dan kesehatan merupakan hal yang paling utama. Selain itu, menjaga fokus juga penting, karena selama 24 jam ini mengatur mood itu luar biasa sulit. Jadi harus benar-benar fokus.
Meski mengaku tidak memiliki ritual khusus sebelum tampil, Baltazar selalu menempatkan restu orang tua sebagai hal yang paling utama. Ia rutin berkomunikasi dengan orang tuanya sebelum mengikuti sebuah kegiatan penting. Meski kali ini orang tuanya tidak dapat hadir secara langsung, ia tetap membawa doa dan dukungan mereka sebagai kekuatan selama tampil.
Tetap Menari Batin
Selama pertunjukan panjang itu berlangsung, Baltazar nyatanya tidak dibiarkan sepenuhnya sendiri. Ia didampingi oleh tim dan beberapa kru yang turut membantu serta memastikan segala kebutuhannya terpenuhi. Mereka selalu mengawasi, mendampingi, bahkan sekadar ngobrol untuk support. Jadi benar-benar dijaga selama 24 jam.
Terkait pemenuhan kebutuhan pribadi yang mendasar seperti pergi ke kamar kecil, menunaikan salat, maupun mandi, Baltazar menyebut semua hal itu tetap dilakukan seperti biasa. Namun, ia berusaha sekuat tenaga menjaga esensi dan “marwah” dari konsep menari 24 jam tersebut. Semua tetap dilakukan seperti biasa, tapi ia berusaha menjaga kekhusyukan dan kesakralannya. Jadi walaupun tidak terlihat, ia tetap menari dari dalam diri selama 24 jam.
Harapan untuk Masa Depan
Bagi sosok Baltazar, acara Banyumas 24 Jam Ngibing bukan hanya sekadar panggung ekspresi, tetapi juga ruang penting bagi para seniman untuk leluasa menunjukkan karya mereka kepada masyarakat luas. Ia berharap kegiatan positif ini dapat terus berlangsung dan menjadi tolok ukur perkembangan seni tari di daerah, sekaligus sarana edukasi berharga bagi masyarakat.
Setiap karya dan tarian pasti punya makna. Harapannya masyarakat bisa lebih memahami, dari yang tidak tahu menjadi tahu tentang seni tari. Dengan demikian, seni tari dapat lebih dikenal dan dihargai oleh masyarakat luas.



