Penjelasan Kenaikan Harga BBM Non Subsidi di Tengah Turunnya Harga Minyak Dunia
Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex kini mengalami kenaikan meskipun harga minyak dunia sedang merosot. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan dari masyarakat terkait alasan penyesuaian harga tersebut.
Apa yang Menyebabkan Kenaikan Harga BBM Non Subsidi?
Menurut anggota Dewan Energi Nasional (DEN) dari Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, Saleh Abdurrahman, keputusan untuk menaikkan harga BBM nonsubsidi telah melalui perhitungan matang dan berdasarkan regulasi yang berlaku. Ia menjelaskan bahwa penetapan harga BBM nonsubsidi didasarkan pada formula yang mencakup harga dasar, margin, serta pajak.
Harga dasar tersebut dihitung berdasarkan Mean of Platts Singapore (MOPS), yang menjadi acuan utama harga bahan bakar di kawasan Asia Tenggara. “Sudah ada formula harga BBM nonsubsidi dari Kementerian ESDM. Salah satunya adalah harga dasar yang mengacu pada MOPS,” ujarnya.
Menurut Saleh, kenaikan harga BBM saat ini merupakan konsekuensi dari lonjakan harga minyak dunia yang terjadi sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran pecah pada akhir Februari 2026. Selama periode tersebut, pemerintah menahan harga BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi, agar tidak langsung membebani masyarakat.
Dinamika Harga Minyak Global
Meski harga minyak dunia sempat turun ke level terendah dalam beberapa pekan terakhir, bahkan berada di bawah 91 dollar Amerika Serikat (AS), situasi ini tidak berlangsung lama. Setelah Iran membuka akses Selat Hormuz, harga minyak mentah Brent turun lebih dari 9 persen menjadi 90,38 dollar AS per barel. Namun, kurang dari 24 jam kemudian, jalur tersebut kembali ditutup sebagai respons atas blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Situasi ini menunjukkan ketidakpastian geopolitik masih tinggi dan berpotensi terus memengaruhi harga energi global. Pemerintah pun berharap konflik di Timur Tengah segera mereda agar stabilitas ekonomi dunia dapat pulih.
Respons Negara Lain Terhadap Kenaikan Harga BBM
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan kenaikan BBM nonsubsidi di Indonesia sejalan dengan dinamika global akibat konflik AS, Israel, dan Iran. Dia mengatakan, Indonesia bukan satu-satunya negara yang merespons kondisi tersebut dengan menaikkan harga BBM nasionalnya. Sejumlah negara tetangga bahkan sudah lebih dulu menaikkan harga BBM dengan besaran yang cukup tinggi.
“Kita memahami penyesuaian harga BBM nonsubsidi merupakan bagian dari mekanisme yang mengikuti dinamika harga minyak dunia dan nilai tukar, sehingga ini merupakan respons terhadap kondisi pasar global,” ujarnya.
Anggia juga menggarisbawahi bahwa kenaikan harga BBM di Indonesia hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi. Sebaliknya, BBM subsidi, seperti Pertalite dan Solar Subsidi tidak naik. Bahkan harga Pertamax 92 dan Pertamax Green 95 juga tetap stabil.
Langkah Pemerintah untuk Menjaga Stabilitas Ekonomi
Pemerintah memastikan, harga BBM subsidi akan tetap stabil sampai akhir 2026 demi menjaga daya beli masyarakat Indonesia, khususnya pada kelompok rentan. “Namun demikian sekali lagi, kita pasti bisa melewati kondisi ini dengan kerja sama dan dukungan dari masyarakat. InsyaAllah kita bisa survive,” ucap Anggia.
Ke depannya, pemerintah melalui Pertamina akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia dan berkoordinasi dengan pemerintah guna menjaga stabilitas pasokan energi nasional.



