Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 30 September 2026
Trending
  • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
  • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
  • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
  • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
  • Nilai pasaran tembus Rp 163 miliar! Persija Jakarta belum puas dan masih buru pemain baru
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Sinar matahari berisiko sebabkan katarak: ketahui penyebab, gejala, dan cara mengatasinya
Teknologi

Sinar matahari berisiko sebabkan katarak: ketahui penyebab, gejala, dan cara mengatasinya

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover24 Mei 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Indonesiadiscover.com – Paparan sinar matahari yang tinggi menjadi salah satu faktor utama penyebab katarak, terutama pada masyarakat Indonesia. Kondisi ini bahkan membuat katarak dapat muncul lebih cepat, termasuk pada usia di bawah 50 tahun.

Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospitals, Dr. Nina Asrini Noor, SpM menjelaskan, Indonesia yang berada di wilayah khatulistiwa memiliki intensitas paparan matahari lebih tinggi dibandingkan negara lain sehingga risiko katarak juga meningkat.

“Salah satu penyebabnya atau faktor yang paling utama tentu adalah dari matahari. Kita hidup di negara khatulistiwa, otomatis paparan matahari sangat tinggi sehingga memang katarak itu terjadi lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang tinggal di negara yang bukan di khatulistiwa,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (20/5).

Alhasil, ia mengatakan bahwa tidak sedikit pasien datang berobat dalam kondisi sudah mengalami katarak meski usia masih relatif muda.

“Tidak jarang pasien-pasien dengan katarak itu sudah muncul atau sudah artinya datang ke kita berobat ternyata sudah mulai ada katarak padahal usianya masih 50 atau bahkan belum sampai 50 pun sudah ada katarak,” katanya.

Selain faktor usia dan paparan matahari, katarak juga dapat dipicu riwayat diabetes maupun trauma pada mata akibat benturan atau kecelakaan.

Pengertian dan Gejala Katarak

dr. Nina menjelaskan, katarak merupakan kondisi ketika lensa mata berubah menjadi keruh atau cloudy sehingga memengaruhi kualitas penglihatan seseorang.

“Jadi dia seperti berubah warna atau layak kayak lensa dari kamera dia berubah mengalami perubahan,” jelasnya.

Akibat kondisi tersebut, penglihatan yang sebelumnya jelas menjadi tampak buram. Namun, buram yang dimaksud bukan sekadar tidak bisa melihat.

“Buram itu antara lain kayaknya kontrasnya turun, kok kayaknya jadi kayak gelap gitu ya, kayak agak suram,” ucap dr. Nina.

Ia menambahkan, penurunan kontras penglihatan hingga pandangan terasa lebih redup juga bisa menjadi gejala awal katarak yang perlu diwaspadai.

Katarak Tak Bisa Sembuh dengan Obat Tetes

Menurut dr. Nina, hingga saat ini satu-satunya penanganan medis untuk katarak adalah melalui operasi. Ia menegaskan tidak ada obat tetes mata yang bisa menyembuhkan katarak.

“Kalau katarak tentu obatnya cuman satu, yaitu operasi. Enggak ada lagi namanya yang disebut dengan bukan operasi, dengan obat tetes lah atau apa itu sebenarnya tidak ada,” tegasnya.

Ia menyayangkan masih banyak pasien yang takut menjalani operasi sehingga memilih menunda pengobatan hingga bertahun-tahun.

“Yang sebenarnya yang kadang kita agak miris adalah bahwa ternyata 8% itu takut dioperasi, katanya takut,” katanya.

Padahal menurut dr. Nina, penundaan operasi justru membuat kondisi katarak semakin berat dan meningkatkan risiko komplikasi.

“Ketika sudah sangat-sangat berat, dan itu menjadi tanggung jawab yang lebih berat lagi buat kami, karena kami pengen rehabilitasi visual, tapi risikonya udah terlalu tinggi,” ujarnya.

Jangan Tunggu Katarak Semakin Parah

Oleh karena itu, dr. Nina mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan mata apabila mulai mengalami gangguan penglihatan yang menghambat aktivitas sehari-hari.

Ia mencontohkan, gejala seperti kesulitan menyetir, membaca, hingga mulai bergantung pada orang lain karena penglihatan kabur menjadi tanda bahwa katarak perlu segera ditangani.

“Kalau misalnya nih, kita udah mulai menyetir terganggu, terus kita gemar membaca udah enggak nyaman, terus kita mungkin kegiatan sehari-hari udah enggak nyaman,” katanya.

Menurutnya, menunda operasi selama bertahun-tahun sama saja membuang masa produktif yang sebenarnya masih bisa dijalani dengan nyaman.

“Karena kalau kita ibaratnya baru memeriksakan, baru operasi setelah gejala itu muncul 5 tahun, artinya kita membuang 5 tahun,” tegas dr. Nina.

Teknologi Operasi Katarak Semakin Canggih

dr. Nina menjelaskan, teknologi operasi katarak kini sudah berkembang pesat, mulai dari metode manual hingga teknologi phacoemulsification dan laser-assisted cataract surgery. Hal itu seharusnya membuat pasien tak perlu lagi merasa takut untuk operasi katarak.

“Sekarang kita sudah masuk ke teknologi yang lebih baru, yaitu phacoemulsification dengan teknologi ultrasonik, atau bahkan yang ditambahkan lagi dengan laser-assisted,” katanya.

Ia mengatakan, di JEC Eye Hospital and Clinic teknologi operasi katarak berbasis laser sudah diterapkan untuk membantu meningkatkan hasil operasi pasien.

“Di JEC kita merupakan pionir dari semi-robotic cataract surgery, di mana step-step-nya tadi yang tadinya manual menggunakan surgical blade, itu sudah tidak kita gunakan lagi, dan kita menggunakan laser-assisted cataract surgery,” tandasnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Huawei Klaim Xinghe Tingkatkan Kecepatan AI 20 Persen

25 Agustus 2026

30 Soal UH IPS Kelas 9 SMP Tema 2 Ekonomi Digital Kurikulum Merdeka 2026

25 Agustus 2026

Rekomendasi laptop 2026 untuk mahasiswa, harga Rp5-10 jutaan

25 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

27 September 2026

Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

16 September 2026

6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?