Indonesiadiscover.com – Paparan sinar matahari yang tinggi menjadi salah satu faktor utama penyebab katarak, terutama pada masyarakat Indonesia. Kondisi ini bahkan membuat katarak dapat muncul lebih cepat, termasuk pada usia di bawah 50 tahun.
Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospitals, Dr. Nina Asrini Noor, SpM menjelaskan, Indonesia yang berada di wilayah khatulistiwa memiliki intensitas paparan matahari lebih tinggi dibandingkan negara lain sehingga risiko katarak juga meningkat.
“Salah satu penyebabnya atau faktor yang paling utama tentu adalah dari matahari. Kita hidup di negara khatulistiwa, otomatis paparan matahari sangat tinggi sehingga memang katarak itu terjadi lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang tinggal di negara yang bukan di khatulistiwa,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (20/5).
Alhasil, ia mengatakan bahwa tidak sedikit pasien datang berobat dalam kondisi sudah mengalami katarak meski usia masih relatif muda.
“Tidak jarang pasien-pasien dengan katarak itu sudah muncul atau sudah artinya datang ke kita berobat ternyata sudah mulai ada katarak padahal usianya masih 50 atau bahkan belum sampai 50 pun sudah ada katarak,” katanya.
Selain faktor usia dan paparan matahari, katarak juga dapat dipicu riwayat diabetes maupun trauma pada mata akibat benturan atau kecelakaan.
Pengertian dan Gejala Katarak
dr. Nina menjelaskan, katarak merupakan kondisi ketika lensa mata berubah menjadi keruh atau cloudy sehingga memengaruhi kualitas penglihatan seseorang.
“Jadi dia seperti berubah warna atau layak kayak lensa dari kamera dia berubah mengalami perubahan,” jelasnya.
Akibat kondisi tersebut, penglihatan yang sebelumnya jelas menjadi tampak buram. Namun, buram yang dimaksud bukan sekadar tidak bisa melihat.
“Buram itu antara lain kayaknya kontrasnya turun, kok kayaknya jadi kayak gelap gitu ya, kayak agak suram,” ucap dr. Nina.
Ia menambahkan, penurunan kontras penglihatan hingga pandangan terasa lebih redup juga bisa menjadi gejala awal katarak yang perlu diwaspadai.
Katarak Tak Bisa Sembuh dengan Obat Tetes
Menurut dr. Nina, hingga saat ini satu-satunya penanganan medis untuk katarak adalah melalui operasi. Ia menegaskan tidak ada obat tetes mata yang bisa menyembuhkan katarak.
“Kalau katarak tentu obatnya cuman satu, yaitu operasi. Enggak ada lagi namanya yang disebut dengan bukan operasi, dengan obat tetes lah atau apa itu sebenarnya tidak ada,” tegasnya.
Ia menyayangkan masih banyak pasien yang takut menjalani operasi sehingga memilih menunda pengobatan hingga bertahun-tahun.
“Yang sebenarnya yang kadang kita agak miris adalah bahwa ternyata 8% itu takut dioperasi, katanya takut,” katanya.
Padahal menurut dr. Nina, penundaan operasi justru membuat kondisi katarak semakin berat dan meningkatkan risiko komplikasi.
“Ketika sudah sangat-sangat berat, dan itu menjadi tanggung jawab yang lebih berat lagi buat kami, karena kami pengen rehabilitasi visual, tapi risikonya udah terlalu tinggi,” ujarnya.
Jangan Tunggu Katarak Semakin Parah
Oleh karena itu, dr. Nina mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan mata apabila mulai mengalami gangguan penglihatan yang menghambat aktivitas sehari-hari.
Ia mencontohkan, gejala seperti kesulitan menyetir, membaca, hingga mulai bergantung pada orang lain karena penglihatan kabur menjadi tanda bahwa katarak perlu segera ditangani.
“Kalau misalnya nih, kita udah mulai menyetir terganggu, terus kita gemar membaca udah enggak nyaman, terus kita mungkin kegiatan sehari-hari udah enggak nyaman,” katanya.
Menurutnya, menunda operasi selama bertahun-tahun sama saja membuang masa produktif yang sebenarnya masih bisa dijalani dengan nyaman.
“Karena kalau kita ibaratnya baru memeriksakan, baru operasi setelah gejala itu muncul 5 tahun, artinya kita membuang 5 tahun,” tegas dr. Nina.
Teknologi Operasi Katarak Semakin Canggih
dr. Nina menjelaskan, teknologi operasi katarak kini sudah berkembang pesat, mulai dari metode manual hingga teknologi phacoemulsification dan laser-assisted cataract surgery. Hal itu seharusnya membuat pasien tak perlu lagi merasa takut untuk operasi katarak.
“Sekarang kita sudah masuk ke teknologi yang lebih baru, yaitu phacoemulsification dengan teknologi ultrasonik, atau bahkan yang ditambahkan lagi dengan laser-assisted,” katanya.
Ia mengatakan, di JEC Eye Hospital and Clinic teknologi operasi katarak berbasis laser sudah diterapkan untuk membantu meningkatkan hasil operasi pasien.
“Di JEC kita merupakan pionir dari semi-robotic cataract surgery, di mana step-step-nya tadi yang tadinya manual menggunakan surgical blade, itu sudah tidak kita gunakan lagi, dan kita menggunakan laser-assisted cataract surgery,” tandasnya.



