Kabut Asap Mengancam Kesehatan Siswa di Sarawak
Kondisi kabut asap yang semakin memburuk di wilayah Sarawak, Malaysia Timur, telah memicu tindakan pemerintah setempat untuk menutup 591 sekolah di 10 distrik selama dua hari. Penutupan ini berlaku mulai dari hari Kamis (20 Agustus) dan berdampak pada sekitar 200.000 siswa yang terdiri dari siswa SD dan SMP.
Penutupan Sekolah sebagai Upaya Perlindungan
Menurut pernyataan Dinas Pendidikan Sarawak, keputusan penutupan ini dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk melindungi keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan siswa. Dengan kondisi udara yang tidak sehat, para siswa diberi perlindungan agar tidak terpapar polutan yang bisa membahayakan kesehatan mereka.
Sekitar 197.323 siswa terdampak oleh penutupan ini, termasuk 107.590 siswa dari 509 sekolah dasar dan 89.733 siswa dari 82 sekolah menengah. Selama masa penutupan, kegiatan belajar-mengajar akan dilakukan secara virtual agar proses pendidikan tetap berjalan tanpa gangguan.
Perkembangan Terbaru tentang Penutupan Sekolah
Pihak dinas pendidikan mengatakan bahwa perkembangan lebih lanjut mengenai periode penutupan dan pembukaan kembali sekolah akan diumumkan melalui saluran resmi dan kantor pendidikan distrik masing-masing. Ini merupakan kali kedua dalam bulan ini sekolah-sekolah di Sarawak ditutup akibat kabut asap.
Beberapa waktu lalu, sekolah-sekolah di kota Serian sempat ditutup selama tiga hari ketika tingkat indeks polutan udara (API) melampaui angka 200. Skala API menetapkan pembacaan 0 hingga 50 sebagai kategori baik, 51 hingga 100 sebagai sedang, 101 hingga 200 sebagai tidak sehat, 201 hingga 300 sebagai sangat tidak sehat, dan di atas 300 sebagai berbahaya.
Tingkat Polutan Udara di Sarawak
Menurut laporan The Star, pada hari Kamis, Serian mencatat angka API sebesar 193, diikuti oleh Kuching dengan 190 dan Samarahan dengan 173. Dewan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup (NREB) Sarawak menyatakan melalui unggahan Facebook bahwa tingkat API di Serian mencapai 239 pada pukul 11.00 hari Jumat, yang mengategorikan kualitas udara sebagai “sangat tidak sehat”.
Pejabat lingkungan hidup Sarawak memperingatkan bahwa kondisi kabut asap dapat terus berlanjut sepanjang akhir pekan jika pembakaran biomassa masih terus terjadi. Hal ini memperkuat kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Kabut Asap juga Mempengaruhi Singapura
Kabut asap juga telah melanda Singapura. Sesi khotbah Jumat bagi umat Muslim akan dipersingkat untuk sementara waktu mulai minggu ini mengingat kondisi cuaca yang menantang, demikian disampaikan oleh Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) pada hari Jumat. Kondisi kering di kawasan ini juga diperkirakan akan terus berlanjut, menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Singapura (MSS) awal pekan ini.
Penyebab Kabut Asap dan Tindakan Pencegahan
Otoritas Malaysia dan media setempat mengaitkan kondisi kabut asap tersebut dengan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Mengutip data dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC), badan lingkungan hidup Sarawak menyatakan bahwa sebanyak 7.286 titik panas (hotspot) terdeteksi di Kalimantan antara tanggal 1 hingga 19 Agustus, dibandingkan dengan 148 titik panas di Sarawak pada periode yang sama.
“Titik panas dan kondisi kabut asap dapat meningkat di wilayah rawan kebakaran yang mengalami kondisi kering berkepanjangan, dengan risiko terjadinya kabut asap lintas batas,” ujar badan lingkungan hidup negara bagian Sarawak. ASMC juga telah memantau adanya “asap lintas batas dengan tingkat kepadatan sedang hingga pekat” di Kalimantan Barat yang bergerak ke arah utara menuju sebagian wilayah Sarawak bagian barat.
Upaya Pemadaman Kebakaran di Indonesia
Kantor berita AFP melaporkan pada hari Kamis bahwa kebakaran lahan di Indonesia telah menyebabkan kabut asap tebal menyelimuti sejumlah wilayah, seperti Palangkaraya, ibu kota Kalimantan Tengah di Pulau Kalimantan. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan kepada para wartawan di Palangkaraya pada hari Rabu bahwa tim ahli telah disiagakan untuk melakukan operasi penyemaian awan guna memadamkan kebakaran dan mencegah terjadinya kebakaran di masa mendatang.


