Pengalaman Peserta yang Mengalami Kerugian Akibat Pembatalan Program Yoga Jepang
Beberapa puluh peserta pelatihan yoga mengaku mengalami kerugian setelah program pelatihan yang diselenggarakan oleh sebuah sekolah yoga Jepang berbasis di Ubud, Bali, dibatalkan secara mendadak. Biaya kursus yang telah mereka bayarkan juga belum dikembalikan, menurut laporan terbaru.
Sekolah yoga bernama Michi Yoga atau Dō Yoga (道ヨガ) menawarkan berbagai program seperti kelas daring, kamp pelatihan, dan program belajar di luar negeri. Peserta diberikan kesempatan untuk memperoleh sertifikasi RYT200 dan RYT500 yang diakui oleh Yoga Alliance di Amerika Serikat. Melalui media sosial resminya, sekolah tersebut mengklaim telah meluluskan lebih dari 700 peserta.
Namun, kini sekolah tersebut menghadapi keluhan dari sejumlah peserta mengenai pembatalan program yang tidak terduga dan penundaan pengembalian uang. Salah satu peserta, yang menyamarkan identitasnya sebagai A, mengungkapkan bahwa ia membayar biaya kursus sebesar 248.000 yen atau sekitar Rp27 juta untuk program di India yang ditawarkan oleh sekolah tersebut.
Program Di India yang Tidak Terlaksana
A tertarik dengan program ini karena biayanya lebih murah dibandingkan program serupa dan menawarkan sertifikasi langsung di India. Ia mendaftar pada November 2024 dan mentransfer biaya kursus tersebut. Namun, setelah pembayaran dilakukan, ia tidak menerima informasi yang memadai dari pihak penyelenggara. Kekhawatirannya meningkat saat waktu keberangkatan semakin dekat.
Beberapa hari sebelum program dimulai pada 15 Maret 2025, A menerima surat elektronik dari seorang pria berinisial Y yang mengaku sebagai pimpinan sekolah yoga tersebut. Dalam surat tersebut, pihak penyelenggara menyatakan bahwa program di India terpaksa dibatalkan. Meskipun tempat kegiatan, penginapan, instruktur, dan transportasi telah dipersiapkan, tiket pesawat gratis yang sebelumnya dijanjikan tidak dapat disediakan.
Pihak sekolah kemudian menjanjikan pengembalian seluruh uang peserta paling lambat 31 Maret 2025. Namun, hingga saat ini, A belum menerima dana tersebut.
Fasilitas di Ubud Disebut Akan Dijual
Setelah beberapa hari, A menerima surat elektronik lain yang menyatakan bahwa pihak sekolah masih belum mampu memenuhi janji pengembalian dana. Dalam surat tersebut, penyelenggara mengaku berencana menjual fasilitas yoga yang dimilikinya di Ubud, Bali. Hasil penjualan tersebut akan digunakan sebagai sumber dana untuk membayar para peserta.
Setelah pesan tersebut, komunikasi dengan pihak penyelenggara terputus. A mengungkapkan bahwa pikirannya benar-benar kosong dan ia segera mencari informasi melalui internet. Ia menemukan banyak orang yang mengalami kejadian serupa.
Grup Komunikasi Korban
Para peserta kemudian membentuk grup komunikasi melalui aplikasi LINE. Sekitar 60 orang disebut bergabung untuk bertukar informasi mengenai jumlah kerugian dan perkembangan pengembalian dana. A mengatakan hingga kini biaya kursus yang telah dibayarkannya belum dikembalikan.
“Saya masih belum menerima pengembalian uang. Saya juga ingin pihak pengelola menyampaikan permintaan maaf yang sungguh-sungguh,” ujarnya.
FRIDAY berusaha meminta konfirmasi kepada Y mengenai rencana pengembalian dana dan tanggapannya terhadap keluhan para peserta. Namun, surat elektronik yang dikirimkan tidak dapat diterima karena mengalami kesalahan pengiriman. Ketika nomor telepon seluler Y dihubungi, terdengar pemberitahuan bahwa nomor tersebut sudah tidak digunakan.
Hingga laporan ini diterbitkan, belum diketahui kapan biaya para peserta akan dikembalikan. Belum ada pula penjelasan langsung dari pihak pengelola mengenai penyelesaian masalah tersebut.


