Rupiah Melemah terhadap Dolar AS pada Awal Pekan
Pada hari Rabu (4/2) pagi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami pelemahan. Berdasarkan data Bloomberg yang diakses pada pukul 09.32 WIB, rupiah berada di level 16.767, turun sebanyak 13 poin atau 0,08% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Menurut Fikri C Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, ada beberapa faktor baik domestik maupun global yang memengaruhi pelemahan rupiah pada pagi ini. Salah satu faktor domestik adalah hasil pertemuan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Hasil keputusan dari pertemuan tersebut disebut menjadi salah satu sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah.
“Sentimen dari hasil keputusan BEI dan OJK di pagi ini,” ujar Fikri dalam wawancaranya dengan Indonesiadiscover.com, Rabu (4/2).
Selain itu, angka Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga menjadi faktor lain yang turut memengaruhi kondisi rupiah. Di sisi internasional, kenaikan Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat pada Desember 2025 menjadi salah satu penyebab pelemahan rupiah. Selain itu, ekspektasi bahwa Kevin Warsh akan bersikap hawkish juga turut memengaruhi pasar.
Komentar Menteri Keuangan Mengenai Nilai Tukar Rupiah
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa dirinya tidak akan kesulitan untuk menjaga nilai tukar rupiah di level Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat jika ia menjabat sebagai gubernur Bank Indonesia (BI).
“Saya pikir, (rupiah) bergerak menuju Rp 15.000 per US$ tidak akan sulit, jika saya berada di posisi mereka (bank sentral),” kata Purbaya dalam acara Indonesia Economic Summit (IES) 2026, di Jakarta, Selasa (3/2).
Purbaya menjelaskan bahwa peran utama BI adalah mengendalikan stabilitas mata uang. Ia menegaskan bahwa saat ini, tingkat rupiah terlalu rendah dibandingkan dengan fundamentalnya. Mata uang regional lainnya menguat terhadap dolar AS, sementara rupiah justru melemah.
Ia merasa khawatir dengan pergerakan rupiah yang mendekati Rp 17.000 per US$. Namun, menurutnya, depresiasi saat ini tidak akan menciptakan krisis seperti yang terjadi pada tahun 1997 hingga 1998. Purbaya juga memastikan bahwa Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yang ia pimpin sebagai ketua, akan melakukan antisipasi terhadap pelemahan rupiah yang lebih dalam.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rupiah
Beberapa faktor yang memengaruhi nilai tukar rupiah meliputi:
- Faktor Domestik
- Hasil pertemuan OJK dan BEI dengan MSCI
Angka PMI Manufaktur Indonesia
Faktor Internasional
- Kenaikan Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat
- Ekspektasi sikap hawkish dari Kevin Warsh
Tantangan dan Harapan untuk Rupiah
Meskipun rupiah sedang menghadapi tekanan, para ahli dan pejabat terkait tetap optimis bahwa langkah-langkah yang diambil oleh otoritas keuangan dapat membantu stabilisasi nilai tukar. KSSK, yang dipimpin oleh Purbaya, telah siap untuk mengantisipasi pelemahan lebih lanjut.
Dalam situasi seperti ini, penting bagi masyarakat dan pelaku bisnis untuk tetap waspada dan memperhatikan perkembangan ekonomi secara berkala. Dengan koordinasi yang baik antara pemerintah dan lembaga keuangan, diharapkan rupiah dapat kembali pulih dan stabil dalam waktu dekat.



