Prediksi Pergerakan Rupiah Pada Awal Pekan
Rupiah diprediksi akan terus mengalami fluktuasi dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini. Hal ini didorong oleh beberapa faktor yang memengaruhi pasar keuangan global dan domestik. Dalam pandangan para ahli, situasi ini tidak bisa dihindari karena berbagai isu yang masih muncul, baik dari sisi eksternal maupun internal.
Pengaruh Kebijakan The Fed
Salah satu faktor utama yang memengaruhi rupiah adalah kebijakan moneter The Fed. Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menjelaskan bahwa pasar masih dalam proses merespons keputusan FOMC yang baru saja dirilis. Meskipun The Fed mempertahankan suku bunga acuannya, ada indikasi bahwa sebagian anggota FOMC mengantisipasi kenaikan suku bunga di tahun 2026. Hal ini memberikan sinyal hawkish yang berpotensi memperkuat posisi dolar AS (DXY).
Penguatan dolar global secara otomatis akan menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah. Oleh karena itu, investor sangat sensitif terhadap pernyataan atau data ekonomi AS yang muncul awal pekan ini.
Respons Terhadap Kebijakan Devisa Baru
Selain itu, pelaku pasar juga mulai memperhatikan kebijakan devisa baru yang akan efektif berlaku per 1 Juli 2026. BI memperketat aturan devisa dengan adanya threshold dokumen ekspor dan limit cash valas. Meski kebijakan ini akan berlaku bulan depan, Sutopo menyatakan bahwa pelaku pasar biasanya mulai memposisikan diri lebih awal.
Kebijakan ini memiliki dampak double-edged. Di satu sisi, upaya BI untuk memperkuat cadangan devisa merupakan sentimen positif. Namun, di sisi lain, pengetatan likuiditas valas sering kali membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam jangka pendek.
Ketidakpastian Geopolitik dan MSCI Review
Ketidakpastian geopolitik juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Meskipun sudah ada interim peace agreement antara AS dan Iran, pasar tetap memantau apakah ada perkembangan baru terkait stabilitas di Timur Tengah yang dapat mempengaruhi harga energi global.
Selain itu, sentimen terkait status Emerging Market Indonesia pasca-review MSCI tetap membayangi. Setiap aliran modal keluar dari investor asing akibat sentimen ini akan memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah.
Proyeksi Nilai Tukar Rupiah
Sutopo memperkirakan bahwa rupiah pada Senin (22/6) akan berada di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.950 per dolar AS. Sementara itu, Muhammad Amru Syifa dari Research and Development ICDX memproyeksikan nilai tukar rupiah pada awal pekan ini akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat terbatas di kisaran Rp 17.700 – Rp 17.860 per dolar AS.
Meskipun Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%, rupiah masih ditutup melemah ke level Rp 17.804 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Upaya BI dalam Menjaga Stabilitas
Sejak Mei 2026, Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar total 100 basis poin sebagai langkah memperkuat stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global. Dari sisi eksternal, dolar AS masih bertahan kuat setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya dan memberikan sinyal bahwa suku bunga berpotensi tetap tinggi lebih lama.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih berada di level tinggi turut menopang permintaan terhadap aset berbasis dolar AS. Kondisi tersebut membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Faktor-Faktor Utama yang Memengaruhi Rupiah
Pada perdagangan Senin nanti, pasar juga akan mencermati perkembangan kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan memulihkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Dengan demikian, perkembangan hubungan AS–Iran, pergerakan harga minyak dunia, kekuatan dolar AS, yield obligasi AS, serta sentimen terkait MSCI akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah pada awal pekan ini.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Jumat (19/6/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,06% secara harian ke Rp 17.804 per dolar AS. Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah di level Rp 17.826 per dolar AS, nilai ini sama dengan nilai pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya (18/6).



