Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 30 Juni 2026
Trending
  • Kepala Puskesmas Kojagete Dikaitkan dengan Perselisihan, Sekda Sikka: Perjanjian dengan Pemilik Tanah Tidak Pernah Dibahas TPK
  • Tenxi Buka Rahasia Album Liga Besar dan Sepak Bola
  • 10 Destinasi Wisata Terbaik 2026, Bali Jadi Nomor Satu
  • Ramalan Zodiak Aries dan Taurus 25 Juni 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan
  • Resmi berubah, daftar harga bahan bakar minyak BBM terbaru Kamis 25 Juni 2026, melonjak Rp4.100
  • Belanja Pegawai APBD Toli Toli 2026 Capai 55 Persen, Melebihi Batas Ideal Pemerintah
  • 10 Hotel Terdekat Stadion Seattle untuk Piala Dunia 2026
  • Rute Menuju Taman Safari Bogor 2026 dari Jakarta, Bogor, dan Bandung
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Internasional»Putin Buka Peluang Bertemu Zelenskyy, Akankah Perang Rusia-Ukraina Berakhir?
Internasional

Putin Buka Peluang Bertemu Zelenskyy, Akankah Perang Rusia-Ukraina Berakhir?

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover14 Mei 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Putin Menyiratkan Akhir Perang Rusia-Ukraina

Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengisyaratkan bahwa perang antara Rusia dan Ukraina mungkin mendekati akhir setelah lebih dari empat tahun konflik berlangsung. Pernyataan ini disampaikan pada hari Minggu (10/5/2026), beberapa jam setelah ia menghadiri perayaan Hari Kemenangan Rusia di Lapangan Merah, Moskow.

Dalam kesempatan tersebut, Putin juga menyatakan kesediaannya bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di negara ketiga jika kesepakatan damai benar-benar telah dirampungkan. “Saya pikir persoalan ini mulai mendekati akhir,” katanya kepada wartawan.

Pernyataan itu muncul di tengah perkembangan diplomatik baru antara Rusia dan Ukraina. Kedua negara mulai menjalankan gencatan senjata selama tiga hari dan menyepakati pertukaran masing-masing 1.000 tahanan, langkah yang memunculkan harapan baru terhadap proses negosiasi damai.

Sebelumnya, dalam parade Hari Kemenangan yang tahun ini berlangsung lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya, Putin kembali menegaskan keyakinannya terhadap kemenangan Rusia di Ukraina. “Kemenangan selalu menjadi milik kami dan akan tetap menjadi milik kami,” ujarnya di hadapan pasukan yang berbaris di Lapangan Merah.

Putin Buka Peluang Bertemu Zelenskyy

Usai parade, Putin menyalahkan negara-negara Barat atas pecahnya perang di Ukraina. Ia menuding elite globalis melanggar janji untuk tidak memperluas NATO ke arah timur setelah runtuhnya Tembok Berlin pada 1989. Menurut Putin, Barat kemudian mencoba menarik Ukraina masuk ke dalam orbit Uni Eropa dan NATO, yang selama ini dianggap Moskow sebagai ancaman strategis.

Di tengah ketegangan itu, Putin mengatakan dirinya terbuka untuk bertemu langsung dengan Zelenskyy, namun bukan di Moskow seperti yang sebelumnya sempat menjadi polemik. “Pertemuan di negara ketiga juga memungkinkan, tetapi hanya setelah perjanjian damai yang ditujukan untuk perspektif sejarah jangka panjang diselesaikan,” kata Putin.

“Ini harus menjadi kesepakatan final, bukan negosiasi,” lanjutnya. Sebelumnya, Zelenskyy memang pernah mengusulkan pertemuan langsung dengan Putin untuk membahas perdamaian. Namun Presiden Ukraina itu menolak usulan Rusia agar pembicaraan dilakukan di Moskow.

Gencatan Senjata dan Tukar Tawanan

Perkembangan diplomasi terbaru muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina menyetujui permintaannya untuk melakukan gencatan senjata sementara. “Gencatan senjata ini akan mencakup penghentian seluruh aktivitas kinetik, dan juga pertukaran 1.000 tahanan dari masing-masing negara,” tulis Trump melalui Truth Social pada Jumat.

Trump mengatakan, pembicaraan untuk mengakhiri perang masih terus berlangsung dan menurutnya situasi bergerak menuju titik positif. “Kita semakin dekat dari hari ke hari,” ujarnya. Ia juga menyebut perkembangan itu sebagai kemungkinan awal dari berakhirnya perang panjang yang telah menelan banyak korban jiwa.

“Mudah-mudahan ini menjadi awal dari akhir perang yang sangat panjang, mematikan, dan penuh pertempuran berat,” kata Trump.

Menanggapi pengumuman tersebut, Zelenskyy kemudian mengeluarkan dekret yang secara satir mengizinkan Rusia menggelar parade Hari Kemenangan tanpa serangan Ukraina ke Lapangan Merah. Kremlin menanggapi komentar itu sebagai lelucon bodoh.

Rusia Hadapi Tekanan Perang Berkepanjangan

Perang Rusia-Ukraina kini telah berlangsung lebih dari empat tahun dan menjadi konflik terpanjang yang dihadapi Rusia sejak Perang Dunia II. Konflik tersebut menewaskan ratusan ribu orang, menghancurkan sebagian wilayah Ukraina, dan memberikan tekanan besar terhadap ekonomi Rusia.

Meski Rusia menguasai hampir seperlima wilayah Ukraina, pasukannya hingga kini belum berhasil menguasai seluruh kawasan Donbas di timur Ukraina. Laju ofensif Rusia juga dilaporkan melambat sepanjang tahun ini, sementara pasukan Ukraina masih bertahan di sejumlah kota benteng utama.

Dalam parade Hari Kemenangan tahun ini, Rusia juga untuk pertama kalinya menampilkan pasukan Korea Utara sebagai bentuk penghormatan kepada Pyongyang yang disebut membantu Moskow menghadapi serangan Ukraina di wilayah Kursk. Parade tersebut berlangsung lebih sederhana dibanding biasanya. Alih-alih menampilkan tank dan sistem rudal melintasi Lapangan Merah, sebagian besar perangkat militer hanya ditampilkan melalui layar raksasa.

Di sisi lain, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa pekan lalu mengatakan, masih ada peluang pembicaraan antara Eropa dan Rusia terkait arsitektur keamanan kawasan di masa depan. Saat ditanya apakah ia bersedia berdialog dengan negara-negara Eropa, Putin menyebut mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroder sebagai sosok yang lebih ia sukai untuk diajak berbicara. “Bagi saya pribadi, mantan kanselir Republik Federal Jerman, Tuan Schroder, lebih disukai,” kata Putin.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Membanggakan! Mahasiswa UNISMA, Shalwaa Kia Lolos Konferensi Internasional di Tiga Negara

31 Mei 2026

Mojtaba Khamenei Minta Militer Siap, Iran Waspadai Serangan?

17 Mei 2026

Trump Menolak Permintaan Ganti Rugi Iran Rp 4.000 Triliun, Ketegangan Timur Tengah Meningkat

17 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Kepala Puskesmas Kojagete Dikaitkan dengan Perselisihan, Sekda Sikka: Perjanjian dengan Pemilik Tanah Tidak Pernah Dibahas TPK

30 Juni 2026

Tenxi Buka Rahasia Album Liga Besar dan Sepak Bola

30 Juni 2026

10 Destinasi Wisata Terbaik 2026, Bali Jadi Nomor Satu

30 Juni 2026

Ramalan Zodiak Aries dan Taurus 25 Juni 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan

30 Juni 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?