Perjuangan Aurelia Alvini untuk Mewujudkan Impian Paskibraka Nasional
Aurelia Alvini, siswi MAN Tarakan yang kini duduk di kelas 10, telah melewati perjalanan panjang dan penuh tantangan untuk bisa lolos ke tahap verifikasi Paskibraka tingkat pusat tahun 2026. Proses seleksi ini tidak mudah, karena ia harus mengorbankan banyak waktu bermain dan menjalani latihan intensif demi mewujudkan impiannya mengenakan seragam Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di tingkat nasional.
Kabar terpilihnya Aurelia sebagai peserta yang mewakili Kalimantan Utara menuju tahapan verifikasi tingkat pusat disambut dengan rasa bangga dan haru oleh keluarga serta masyarakat sekitar. Berbagai usaha dan kerja keras yang dilakukan selama beberapa bulan akhirnya membuahkan hasil yang sangat membanggakan.
“Tentunya bangga, terharu, dan saya merasa perjuangan saya selama ini tidak sia-sia,” ujar Aurelia saat diwawancarai TribunKaltara.com beberapa waktu lalu.
Saat ini, Aurelia tengah mempersiapkan diri menghadapi tahapan verifikasi nasional yang akan menjadi penentu langkah berikutnya. Beberapa persiapan sudah dimulai, baik dari sisi fisik maupun administrasi.
“Persiapan saya terutama seperti latihan fisik, terus beberapa dokumen yang diperlukan, barang-barang yang perlu dibawa untuk ke pusat, dan keperluan lain,” kata perempuan kelahiran Tarakan 19 Juni 2010 tersebut.
Namun, capaian tersebut tidak diperoleh dengan mudah. Aurelia mengaku harus berjuang keras sejak awal mengikuti seleksi di tingkat kota hingga provinsi. Ia juga harus mengurangi waktu bermain dan meninggalkan beberapa tugas, tetapi berhasil mengatasinya.
Perjalanan seleksi dimulai dari tingkat Kota Tarakan sebelum berlanjut ke tingkat Provinsi Kalimantan Utara. Pada tahapan provinsi, peserta harus mengikuti berbagai rangkaian tes yang cukup ketat, seperti TIU, TWK, kesehatan, samapta, PBB, dan kepribadian.
“Aku sempat menghadapi tantangan saat mengikuti tes kepribadian. Sesinya cukup menegangkan karena harus menjawab berbagai pertanyaan dari tim penilai,” jelas Aurelia saat ditanya tentang tahapan yang paling sulit.
Meski demikian, ia berhasil melewati tahapan tersebut dan melaju hingga terpilih mengikuti verifikasi tingkat pusat. Kecintaannya terhadap dunia Paskibraka ternyata sudah tumbuh sejak masih duduk di bangku SMP. Sosok yang menginspirasinya adalah kakak kandungnya sendiri, Amelia Andini.
“Sejak saya SMP karena terinspirasi dari kakak kandung saya,” ujar anak dari pasangan ayah bernama Ahmady Burhan dan ibu bernama Clara.
Amelia diketahui pernah menjadi anggota Paskibraka tingkat Kota Tarakan pada tahun 2023. Pengalaman sang kakak menjadi motivasi tersendiri bagi Aurelia untuk mengikuti jejak yang sama bahkan melangkah lebih jauh hingga tingkat nasional.
Jika nantinya berhasil melewati verifikasi pusat dan terpilih sebagai anggota Paskibraka Nasional, Aurelia memiliki impian khusus yang ingin diwujudkan. “Tentunya pembawa baki,” katanya yang memiliki dua saudara ini.
Bagi Aurelia, posisi pembawa baki merupakan tugas yang sangat membanggakan dalam pelaksanaan upacara kenegaraan. “Karena menurut saya pembawa baki sangat bisa membanggakan,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Tak hanya memiliki cita-cita menjadi pembawa baki di Istana Negara, Aurelia juga telah memiliki target masa depan yang ingin diraih. “Cita-cita saya menjadi Praja IPDN,” katanya seraya menambahkan hobinya sendiri olahraga, memasak, dan mendengarkan musik.
Impian tersebut juga terinspirasi dari jejak sang kakak yang kini menempuh pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).
Dalam perjalanan menuju seleksi nasional, Aurelia mengaku mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Dukungan tersebut tidak hanya berupa bantuan finansial, tetapi juga doa dan semangat yang terus diberikan.
Di tengah padatnya aktivitas sekolah dan latihan, Aurelia berusaha menjaga keseimbangan antara pendidikan dan persiapan seleksi. “Saya mengatur jadwal dan mengatur skala prioritas,” katanya.
Setiap hari ia menjalani aktivitas sekolah sejak pagi hingga sore hari. Setelah itu, waktu digunakan untuk menyelesaikan tugas sekolah sebelum kembali fokus menjalani latihan.
“Sekolah dari jam 1 sampai jam 4. Pulang saya mengerjakan tugas, istirahat lalu mengevaluasi tugas lagi,” ujarnya.
Latihan rutin biasanya dijalani dua kali dalam sepekan, yakni pada Selasa dan Jumat. Namun menjelang seleksi, intensitas latihan meningkat dan dilakukan lebih sering. “Latihannya kadang seminggu dua kali,” katanya.
Saat memasuki masa seleksi, jadwal latihan menjadi jauh lebih padat. Bahkan selepas sekolah, Aurelia langsung mengikuti latihan hingga menjelang waktu magrib.
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Dari sekitar 140 peserta yang mengikuti seleksi tingkat kota, Aurelia berhasil menjadi satu-satunya wakil yang melaju hingga tingkat pusat. Kini, harapan besar menyertai langkah siswi MAN Tarakan tersebut. Setelah berhasil melewati seleksi tingkat kota dan provinsi, Aurelia akan menghadapi tahapan verifikasi nasional dengan membawa nama Kota Tarakan dan Kalimantan Utara.
Bagi Aurelia, perjalanan ini bukan sekadar tentang seleksi Paskibraka, tetapi juga tentang membuktikan bahwa kerja keras, disiplin, serta dukungan keluarga mampu mengantarkan seseorang mewujudkan impiannya hingga ke tingkat nasional.


