Perpecahan Internal Menghambat Kesepakatan Dagang UE dengan Mercosur
Perjanjian dagang bebas antara Uni Eropa (UE) dan kelompok negara Amerika Selatan, Mercosur, kembali menghadapi tantangan berat. Proses yang telah berlangsung selama 25 tahun ini masih belum menemui titik akhir, terutama karena perpecahan internal di dalam UE.
Pada awalnya, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dijadwalkan untuk menandatangani perjanjian tersebut pada hari Sabtu, tetapi rencana tersebut ditunda. Kini, ia harus berusaha memperoleh dukungan dari beberapa negara anggota UE, termasuk Italia, sebelum kesepakatan bisa dilanjutkan.
Negara-negara tersebut khawatir akan dampak negatif perjanjian terhadap sektor pertanian domestik mereka. Dalam surat kepada Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, von der Leyen menyatakan penyesalan atas gagalnya memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan sendiri pada 20 Desember. Meskipun begitu, UE masih aktif dalam upaya merampungkan kesepakatan tersebut.
Para pejabat UE menyatakan bahwa upaya penandatanganan akan kembali dilakukan pada 12 Januari, meski tidak ada jaminan bahwa kesepakatan akan tercapai. Kegagalan berulang dalam meratifikasi perjanjian ini menjadi pukulan bagi UE, yang ingin menjadikan kesepakatan lintas Atlantik ini sebagai bukti kemampuannya tampil sebagai kekuatan ekonomi global.
Tujuan Strategis UE
Uni Eropa juga berupaya menunjukkan bahwa blok tersebut dapat memperluas kemitraan di luar pengaruh China dan Amerika Serikat (AS), yang hubungannya dengan Eropa kian diwarnai ketegangan dagang. Von der Leyen menyebut ini sebagai “momentum kemerdekaan Eropa” menjelang KTT para pemimpin UE yang membahas pendanaan untuk Ukraina dan kelanjutan perjanjian Mercosur.
UE memandang China sebagai pesaing ekonomi sekaligus rival sistemik, di tengah eskalasi konflik dagang yang ditandai saling pengenaan tarif. Awal tahun ini, Beijing mengumumkan rencana memperketat kontrol ekspor logam tanah jarang dan material kritis lainnya, yang menyoroti kerentanan industri Eropa.
Sementara itu, UE juga menerima kesepakatan dagang dengan AS yang dinilai timpang, dengan menyetujui tarif 15% untuk sebagian besar ekspornya ke AS, sembari berkomitmen menghapus seluruh bea masuk atas barang industri asal Negeri Paman Sam.
Potensi Pasar Baru
Perjanjian UE–Mercosur dipandang dapat membantu Eropa keluar dari dinamika hubungan yang memburuk dengan AS dan China. Kesepakatan ini berpotensi menciptakan pasar terintegrasi dengan sekitar 780 juta konsumen, menghapus tarif secara bertahap atas sejumlah produk termasuk mobil, serta membuka akses lebih luas bagi Eropa ke sektor pertanian dan sumber daya alam Mercosur.
Selain itu, pakta tersebut akan memperluas jejaring ekonomi dan rantai pasok UE di luar AS dan China, sekaligus menunjukkan bahwa Eropa mampu menawarkan alternatif ekonomi yang kredibel bagi negara-negara lain.
Tantangan yang Masih Ada
Hingga kini, UE belum berhasil mengumpulkan dukungan mayoritas, terutama akibat kekhawatiran mendalam bahwa perjanjian tersebut akan menekan sektor pertanian Eropa. Pada KTT di Brussel, ribuan petani menggelar aksi protes dengan membakar ban dan menumpahkan kentang di jalanan.
Meski demikian, setelah KTT berakhir, para pemimpin UE menyatakan optimisme bahwa kesepakatan masih dapat dicapai pada Januari. “Penundaan selama tiga pekan masih dapat ditoleransi setelah 25 tahun perundingan. Saya sangat yakin kita akan menyelesaikannya,” kata von der Leyen.
Nasib Perjanjian Bergantung pada Italia
Nasib perjanjian ini kini sangat bergantung pada Italia. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyatakan masih membutuhkan waktu untuk mengamankan dukungan domestik. “Negara-negara berkembang lain tengah mengamati dan akan mencatat betapa sulitnya mencapai kesepakatan dengan UE,” ujar Agathe Demarais, Senior Policy Fellow European Council on Foreign Relations.
Bagi Berlin dan sejumlah negara lain, Meloni dinilai tengah memaksimalkan posisinya sebagai penentu keputusan dengan menuntut konsesi lebih besar bagi sektor pertanian Italia. Lula mengatakan Meloni menyampaikan kepadanya bahwa Italia hanya memerlukan beberapa hari tambahan.
Jika kebuntuan terus berlanjut, kedua blok berpotensi mengalihkan perhatian ke kemitraan lain. Mercosur tengah mengupayakan kesepakatan dengan Uni Emirat Arab serta menjajaki kerja sama dengan Kanada, Inggris, dan Jepang. Di sisi lain, UE juga berusaha merampungkan perjanjian dagang dengan India yang telah dinegosiasikan hampir dua dekade.



