Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Thursday, 15 October 2026
Trending
  • 6 cara tetap tenang saat menghadapi masa-masa mencemaskan menurut psikologi
  • Prediksi skor Viking vs Bayern Munchen: Die Roten belum terkalahkan di Liga Jerman, siap borong gol!
  • Daftar 20 Mobil Terlaris September 2026, Atto 1 Masih Dipuncak
  • Aprilia Bakal Terapkan Team Order, Kata Kubu Marquez
  • Apple siapkan iPhone Air 2, ini bocoran fitur dan jadwal rilisnya
  • Mengenal RTX AI PC: Senjata Rahasia Mahasiswa & Pekerja Modern
  • Waspada Agen AI Liar: Peringatan Keras PM Singapura Lawrence Wong
  • Home Charging vs SPKLU: Mana yang Lebih Ramah di Kantong?
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Peringatan Mantan Panglima TNI: Indonesia Hadapi Krisis Ganda Selama 10 Tahun Terakhir
Politik

Peringatan Mantan Panglima TNI: Indonesia Hadapi Krisis Ganda Selama 10 Tahun Terakhir

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover11 June 2026No Comments4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Peringatan Mantan Panglima TNI tentang Krisis Ekonomi Indonesia

Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo memberikan peringatan akan adanya krisis ekonomi yang dialami Indonesia. Ia menyebutkan bahwa ada tiga masalah utama atau triple crisis yang bisa memicu tekanan serius terhadap perekonomian negara ini.

Gatot menyampaikan pernyataannya dalam forum purnawirawan TNI yang dihadiri oleh sejumlah perwira tinggi dari tiga matra. Menurutnya, ancaman tersebut bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan akumulasi berbagai persoalan struktural yang berkembang selama beberapa tahun terakhir.

Deindustrialisasi sebagai Akar Masalah

Menurut Gatot, masalah paling mendasar saat ini adalah melemahnya sektor industri nasional. Ia menyebut deindustrialisasi dini telah berlangsung secara bertahap selama sekitar satu dekade terakhir.

“Sebenarnya kalau kita bedah, saat ini sedang terjadi triple crisis dalam struktur ekonomi Indonesia. Akar masalah utamanya adalah deindustrialisasi dini yang terjadi secara perlahan namun konsisten selama 10 tahun terakhir,” ujarnya.

Penurunan kapasitas industri nasional berdampak langsung terhadap berkurangnya lapangan pekerjaan formal. Kondisi ini dinilai memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan mendorong sebagian pekerja beralih ke sektor informal.

Ia juga menilai daya saing industri dalam negeri melemah akibat tingginya biaya logistik, keterbatasan penguasaan teknologi, serta rendahnya efisiensi produksi. Sebagai contoh, ia menyoroti kondisi ketika bahan baku yang berasal dari Indonesia diproses di luar negeri dan kemudian kembali masuk ke pasar domestik dalam bentuk produk jadi dengan harga yang lebih kompetitif dan kualitas yang lebih baik.

Selain itu, berbagai hambatan usaha, termasuk tingginya biaya distribusi dan praktik pungutan tertentu, turut memengaruhi perkembangan industri nasional.

Dampak pada Fiskal Negara dan Penerimaan Pajak

Menurut Gatot, melemahnya sektor industri tidak hanya berdampak pada dunia usaha, tetapi juga terhadap kemampuan negara menghimpun penerimaan. Ia menjelaskan bahwa ketika sektor formal menyusut, basis penerimaan pajak juga ikut berkurang.

Akibatnya, ruang fiskal pemerintah menjadi semakin terbatas untuk membiayai berbagai program pembangunan. “Jika sektor formal mengecil, maka penerimaan pajak negara otomatis mengecil. Dengan mengecilnya penerimaan, APBN tidak memiliki ruang yang cukup untuk dialokasikan ke sektor-sektor penting,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gatot juga menyoroti tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang menurutnya dipengaruhi oleh tingginya kewajiban pembayaran utang dan bunga utang. Ia menilai keterbatasan ruang fiskal dapat berdampak pada kemampuan pemerintah dalam membiayai pelayanan publik, pembangunan daerah, hingga program perlindungan sosial.

Rupiah yang Rentan karena Industri Melemah

Alasan lain yang menjadi perhatian Gatot adalah kondisi nilai tukar rupiah. Menurutnya, kekuatan mata uang nasional sangat berkaitan dengan kemampuan industri menghasilkan devisa melalui ekspor. Ketika sektor industri melemah, kemampuan menghasilkan devisa juga menurun sehingga pergerakan rupiah menjadi lebih sensitif terhadap sentimen pasar dan kepercayaan investor.

“Kerapuhan rupiah terjadi karena industri dan produksi dalam negeri lemah, sehingga devisa yang masuk dari ekspor juga lemah,” katanya.

Ia menilai kondisi tersebut berpotensi menciptakan lingkaran tekanan ekonomi, mulai dari pelemahan industri, menurunnya penerimaan negara, berkurangnya investasi, hingga meningkatnya kerentanan nilai tukar.

Kemiripan dengan Gejala Menjelang Krisis 1998

Dalam pidatonya, Gatot juga mengingatkan sejumlah indikator ekonomi yang menurutnya memiliki kemiripan dengan kondisi menjelang krisis moneter 1998. Ia menyebut kombinasi deindustrialisasi, meningkatnya PHK, melemahnya daya beli masyarakat, bertambahnya beban utang, dan menurunnya kepercayaan pasar sebagai faktor yang perlu diwaspadai.

“Kondisi ini bisa mengarah pada krisis tahun 1998 kalau kita tidak hati-hati,” ujar Gatot.

Ia turut menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda dalam memperoleh pekerjaan, tekanan terhadap kelompok kelas menengah, serta penurunan daya beli masyarakat. Selain itu, Gatot mengaitkan tingkat kepercayaan investor dengan kondisi pasar keuangan, termasuk volatilitas pasar dan pergerakan indeks saham domestik.

Solusi: Reindustrialisasi dan Penguatan Daya Saing Nasional

Sebagai solusi, Gatot mendorong pemerintah memperkuat kembali sektor manufaktur nasional melalui program reindustrialisasi yang produktif. Menurutnya, langkah tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan efisiensi industri, memperkuat daya saing produk dalam negeri, serta mendorong peningkatan produktivitas nasional.

Ia menegaskan bahwa penguatan sektor industri menjadi faktor penting untuk mengurangi tekanan ekonomi jangka panjang dan meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.

Forum purnawirawan TNI sendiri dalam beberapa waktu terakhir aktif menyampaikan pandangan mengenai berbagai isu strategis nasional, termasuk ekonomi, pertahanan, dan tata kelola pemerintahan. Sejumlah rekomendasi juga disebut tengah disiapkan untuk disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Peringatan Gatot Nurmantyo pada dasarnya menitikberatkan pada persoalan struktural ekonomi, khususnya melemahnya sektor industri nasional. Pandangan tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa berkurangnya kapasitas produksi dalam negeri dapat berdampak berantai terhadap lapangan kerja, penerimaan negara, hingga stabilitas nilai tukar.

Namun demikian, sejumlah ekonom sebelumnya menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dengan situasi menjelang krisis 1998. Fundamental sektor perbankan, cadangan devisa, serta sistem pengawasan keuangan dinilai lebih kuat dibandingkan periode krisis Asia. Karena itu, pernyataan Gatot lebih tepat dipandang sebagai sebuah peringatan dini mengenai berbagai tantangan ekonomi yang perlu mendapat perhatian pemerintah, terutama terkait penguatan sektor industri, peningkatan produktivitas, dan kualitas kebijakan fiskal guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

PGRI Desak Kepastian Pencairan TPG Guru Non-ASN

14 October 2026

Opini: Kritik Tak Pernah Padam

14 October 2026

Pengamanan Ketat Demo AMPB Pati di DPR, 18.504 Personel Polisi Dikerahkan

31 August 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

6 cara tetap tenang saat menghadapi masa-masa mencemaskan menurut psikologi

14 October 2026

Prediksi skor Viking vs Bayern Munchen: Die Roten belum terkalahkan di Liga Jerman, siap borong gol!

14 October 2026

Daftar 20 Mobil Terlaris September 2026, Atto 1 Masih Dipuncak

14 October 2026

Aprilia Bakal Terapkan Team Order, Kata Kubu Marquez

14 October 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?