Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 21 Juni 2026
Trending
  • 50 Soal SBdP Kelas 2 SD Semester 2 2026 Kurikulum Merdeka dan Jawaban
  • Sirkuit Drag Bike Kelud Resmi Dibuka di Turbo Kejurnas 2026, Heboh Ratusan Biker
  • Alasan Kuat Sekolah di Tanahlaut Kalsel Tahan 3 Ponsel Siswa Hingga Ujian Selesai
  • Celios: Skema Pajak Baru Ancam Pertumbuhan UMKM
  • 6 Berita Pilihan Hari Ini: Pelaku Penusukan Batam Ditangkap Saat Laporan Kasus Lain
  • Hari Ini Prabowo Lantik Nanik S Deyang Sebagai Kepala BGN dan Dua Wakilnya
  • Persija Umumkan Pelatih Baru Hari Ini, Shin Tae-yong Gantikan Mauricio Souza
  • Kolang-kaling Kalikesek: Camilan Khas Limbangan Kendal
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Peningkatan Efisiensi Operasional: Prospek Kinerja Telkom (TLKM)
Nasional

Peningkatan Efisiensi Operasional: Prospek Kinerja Telkom (TLKM)

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover31 Mei 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Indonesiadiscover.com.CO.ID – JAKARTA.

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengalami penurunan kinerja pada tahun 2025. Meskipun demikian, peningkatan efisiensi operasional dan pertumbuhan rata-rata pendapatan per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU) diproyeksikan menjadi faktor pendorong kinerja perusahaan ke depan.

Pendapatan kuartal IV tahun 2025 mencapai Rp 37,1 triliun, sedangkan total pendapatan untuk seluruh tahun fiskal 2025 sebesar Rp 146,7 triliun, turun 2,2% secara year on year (YoY). Penurunan ini terjadi karena kelemahan di beberapa segmen bisnis seperti layanan suara, interkoneksi, dan jaringan. Namun, kelemahan tersebut sebagian besar diimbangi oleh pemulihan di segmen data dan internet.

Di tingkat operasional, pengeluaran operasional meningkat 10,1% YoY dan naik 15,8% pada kuartal IV – 2025 menjadi Rp 31,7 triliun. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan depresiasi dan amortisasi akibat percepatan depresiasi aset serta biaya personel yang lebih tinggi dari Program Pensiun Dini.

Laba bersih tahun 2025 tercatat sebesar Rp 17,8 triliun, turun 20,5% YoY. Margin laba bersih (NPM) sebesar 12,1%, dibandingkan 14,9% pada tahun 2024.

Ke depan, manajemen memperkirakan pertumbuhan pendapatan yang dinormalisasi sebesar 1% hingga 3% pada tahun 2026. Hal ini menunjukkan pemulihan bertahap dari penurunan pendapatan sebesar 2,2% pada tahun 2025.

“Kami memperkirakan tahun 2026 akan menandai awal normalisasi pendapatan, didorong oleh peningkatan efisiensi operasional dan struktur biaya yang lebih sehat,” ujar Leonardo Lijuwardi, Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia dalam risetnya pada 20 Mei 2026.

Sementara itu, John Te, Analis UBS Sekuritas Indonesia, mencatat bahwa tahap kedua dari pemisahan aset serat optik ditunda satu kuartal karena masalah perizinan dan diperkirakan akan selesai pada kuartal III – 2026.

Telkom juga sedang menjajaki konsolidasi aset serat optik yang dimiliki oleh BUMN lain ke dalam penawaran Infranexia-nya. Meskipun terjadi penurunan laba, Telkom berencana untuk menyamai atau melampaui jumlah dividen absolut untuk laba tahun 2025.

Mengenai lelang spektrum 700MHz dan 2.6GHz, Bob Setiadi, Analis CGS International Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa TLKM sedang meninjau persyaratan penawaran dan bertujuan untuk mengamankan spektrum sebanyak mungkin.

Manajemen mencatat bahwa hanya dua operator telekomunikasi lain yang mengajukan penawaran untuk kedua pita frekuensi tersebut. Mereka juga mengatakan bahwa persyaratan pembayaran menjadi lebih menguntungkan, di mana pemerintah sekarang mensyaratkan dua kali lipat biaya spektrum tahunan pada tahun pertama (dibandingkan tiga kali lipat sebelumnya).

“Terakhir, mereka mengatakan bahwa peluncuran 5G akan dilakukan secara hati-hati, berdasarkan kesiapan pasar dan penetrasi headset 5G,” ujar Bob dalam risetnya pada 12 Mei 2026.

Gani, Analis OCBC Sekuritas, memperkirakan bahwa semua segmen bisnis TLKM akan mencatatkan pertumbuhan pada tahun ini. Namun tantangan yang perlu diperhatikan adalah kondisi makroekonomi yang kurang mendukung. Daya beli, persaingan yang semakin ketat di industri telekomunikasi, dan perkembangan eksekusi unlocking asset juga perlu dicermati untuk melihat kinerja TLKM ke depan.

“Pendapatan dan laba bersih tahun 2026 kemungkinan akan meningkat didorong perbaikan ARPU di bisnis selular dan pertumbuhan di lini bisnis lain,” ucap Gani kepada Indonesiadiscover.com, Selasa (26/5/2026).

John melihat risiko penurunan TLKM meliputi persaingan harga yang intensif, yang dapat mengakibatkan pemotongan harga atau peningkatan kembali belanja modal. Kondisi makroekonomi yang lemah dan pelemahan rupiah; tantangan pelaksanaan, khususnya dalam bisnis fixed line (telepon tetap); perubahan regulasi yang merugikan; dan perubahan teknologi yang mendorong solusi alternatif juga menjadi risiko yang perlu dicermati.

Di sisi lain, Leonardo mengatakan bahwa valuasi TLKM saat ini menarik, didukung oleh tekanan penjualan asing yang relatif terbatas yang tercermin dalam pergerakan harga sahamnya baru-baru ini. Serta karakteristik defensifnya yang memposisikan saham tersebut sebagai aset lindung nilai portofolio di tengah volatilitas yang tinggi di pasar ekuitas Indonesia.

Di luar profil bisnisnya yang tangguh dan stabil, inisiatif strategis TLKM termasuk perampingan operasional, pelepasan nilai dari aset fiber melalui Infranexia, dan perluasan bisnis pusat datanya dapat memberikan katalis positif jangka menengah saat perusahaan bertransisi ke fase bisnis yang lebih matang.

Dalam jangka pendek, Leonardo bilang, katalis positif untuk TLKM, termasuk keberhasilan pelaksanaan inisiatif efisiensi operasional, bersamaan dengan potensi peningkatan ARPU dan hasil sejalan dengan lingkungan industri yang pulih.

“Risiko penurunan utama meliputi daya beli konsumen yang lebih lemah yang dapat mengurangi permintaan untuk layanan data, persaingan yang semakin ketat di antara operator telekomunikasi, khususnya dalam hal penetapan harga, serta potensi penundaan dalam proses transformasi bisnis TLKM,” ucap Leonardo.

TLKM Chart

by TradingView

Leonardo memproyeksikan, pendapatan dan laba bersih TLKM tahun 2026 masing-masing mencapai Rp 151,04 triliun dan Rp 23,78 triliun. Adapun pada tahun 2025, TLKM mengantongi pendapatan Rp 146,7 triliun dan laba bersih Rp 17,8 triliun.

Leonardo, John, dan Gani merekomendasikan buy saham TLKM dengan target harga masing-masing Rp 3.700 per saham, Rp 3.600 per saham, dan Rp 4.200 per saham.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

6 Berita Pilihan Hari Ini: Pelaku Penusukan Batam Ditangkap Saat Laporan Kasus Lain

13 Juni 2026

Apa Arti Hopeless Romantic? Ini Dampak Negatifnya

13 Juni 2026

Hari Ini Prabowo Lantik Nanik S Deyang Sebagai Kepala BGN dan Dua Wakilnya

13 Juni 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

50 Soal SBdP Kelas 2 SD Semester 2 2026 Kurikulum Merdeka dan Jawaban

13 Juni 2026

Sirkuit Drag Bike Kelud Resmi Dibuka di Turbo Kejurnas 2026, Heboh Ratusan Biker

13 Juni 2026

Alasan Kuat Sekolah di Tanahlaut Kalsel Tahan 3 Ponsel Siswa Hingga Ujian Selesai

13 Juni 2026

Celios: Skema Pajak Baru Ancam Pertumbuhan UMKM

13 Juni 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?