Berbagai perbankan besar di Indonesia mencatatkan kinerja keuangan yang stabil sepanjang kuartal pertama tahun 2026. Di antaranya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), serta PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 14,68 triliun pada kuartal I 2026. Angka ini meningkat sebesar 3,80% secara tahunan dibandingkan dengan kuartal I 2025 yang mencapai Rp 14,15 triliun.
Berdasarkan data tersebut, pendapatan bersih bunga dan syariah BCA pada kuartal I 2026 mencapai Rp 21,11 triliun, mengalami penurunan sebesar 0,05% secara tahunan. Pada akhir Maret 2026, total aset BCA tercatat sebesar Rp 1,64 kuadriliun, naik sebesar 3,40% dibandingkan posisi akhir Desember 2025.
CGS International Sekuritas Indonesia menyebut bahwa BBCA telah melakukan uji stres dengan asumsi harga minyak mentah berada dalam kisaran US$ 130–150 per barel dan nilai tukar rupiah di level Rp 18.000–19.000 per dolar AS.
Dalam skenario tersebut, rasio kredit bermasalah (NPL) diperkirakan akan meningkat menjadi 3–3,2% pada FY26F, dari proyeksi awal sebesar 1,8–2%. Sementara itu, pertumbuhan kredit berpotensi melambat hingga stagnan atau hanya tumbuh dalam angka satu digit rendah.
Meskipun demikian, CGS International Sekuritas merekomendasikan untuk mengoleksi saham BBCA. Rekomendasi ini didasarkan pada basis pendanaan yang dinilai solid serta penerapan manajemen risiko yang prudent. Target harga saham BBCA tetap berada di level Rp 10.000, yang dihitung menggunakan metode Gordon Growth Model (GGM).
- Re-rating catalyst: NIM dan pertumbuhan pinjaman yang lebih tinggi dari perkiraan.
- Downside risk: memburuknya kualitas kredit dan persaingan kredit yang lebih tinggi.
Berikut daftar laba dan target harga saham perbankan raksasa:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
- Laba: Rp 14,68 triliun
Target Harga Saham: TP1: 6.975; TP2: 7.150; TP3: 8.350
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)
- Laba: Rp 5,6 triliun
Target Harga Saham: TP1: 3.890; TP2: 3.950; TP3: 4.520
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
- Laba: Rp 15,5 triliun
Target Harga Saham: 3.220
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
- Laba: Rp 15,4 triliun
- Target Harga Saham: TP1: 4.920; TP2: 5.350; TP3: 6.200
Prospek BNI
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 5,6 triliun pada kuartal I 2026. Angka ini meningkat sebesar 3,7% dibandingkan dengan laba bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 5,4 triliun.
Hingga Maret 2026, penyaluran kredit BNI tumbuh sebesar 20,1% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 919,3 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh penguatan dana murah atau current account saving account (CASA) yang naik 26,6% secara tahunan menjadi Rp 731,6 triliun.
Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tumbuh sebesar 12,1% secara tahunan. Sementara itu, pendapatan nonbunga naik 12,6% yang didorong oleh kenaikan pendapatan berbasis komisi dari transaksi digital melalui platform dan e-channel.
Kinerja tersebut menopang pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) sebesar Rp 9,3 triliun, yang merupakan capaian tertinggi untuk kuartal I dalam beberapa tahun terakhir.
Kinerja BRI
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membukukan laba bersih sebesar Rp 15,5 triliun hingga kuartal pertama 2026, atau melonjak sebesar 13,7% year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyatakan bahwa perusahaan menyalurkan kredit sebesar Rp 1.562 triliun sepanjang kuartal I 2026. Dari total tersebut, BRI merealisasikan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 47,09 triliun.
Adapun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp 1.555 triliun atau tumbuh 9,4%. Kemudian untuk loan to deposit ratio (LDR) perseroan meningkat menjadi 87,66% per kuartal I-2026 dengan dana murah (CASA) pada level 68,1% sepanjang kuartal pertama 2026.
OCBC Sekuritas merekomendasikan beli untuk saham BBRI, dengan target harga berbasis Gordon Growth Model (GGM) sebesar Rp 4.500. Target ini berdasarkan pada asumsi return on equity (ROE) 18,7% dan cost of equity 10,6%.
Secara valuasi, saham BBRI dinilai masih menarik, tercermin dari PER 2026F sebesar 7,4 kali dan PBV 1,4 kali, atau sekitar 2,5 standar deviasi di bawah rata-rata historis lima tahun, yang menunjukkan valuasi relatif murah (undemanding).
OCBC tetap optimistis terhadap prospek BBRI, didukung oleh beberapa faktor utama, yakni pemulihan pertumbuhan kredit secara bertahap seiring kondisi makro yang kondusif, margin bunga bersih (NIM) yang tetap resilien, serta kualitas aset yang terjaga dengan pencadangan yang memadai dan biaya kredit yang lebih rendah.
Selain itu, kinerja juga ditopang oleh pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee income), peningkatan dana murah (CASA), serta efisiensi operasional melalui digitalisasi, ditambah dengan pengelolaan likuiditas dan permodalan yang tetap prudent.
Kinerja Bank Mandiri
Di tengah tekanan global yang belum mereda akibat meningkatnya tensi geopolitik dan volatilitas pasar keuangan internasional, Bank Mandiri mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 15,4 triliun atau tumbuh 16,6% secara year on year (YoY).
Adapun return on equity (ROE) di level 22,1%, dengan capital adequacy ratio (CAR) di level 19,7%.
Dari sisi penyaluran kredit, penyaluran per Maret 2026 tercatat sebesar Rp1.530 triliun atau naik 17,4% YoY, di atas rata-rata industri yang tumbuh 9,37 persen YoY (data OJK per Februari 2026). Dana Pihak Ketiga (DPK) bank only tercatat sebesar Rp 1.675 triliun atau meningkat 21,1% YoY, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri yang sebesar 13,2% pada periode yang sama.
UOB Kay Hian Sekuritas mempertahankan rekomendasi hold untuk saham BBRI dengan target harga Rp 5.150. Penilaian tersebut didasarkan pada valuasi 1,5x price to book value (P/B), yang dihitung menggunakan metode Gordon Growth Model dengan asumsi ROE 17,1%, pertumbuhan 4%, dan cost of equity 12,7%.
Adapun untuk proyeksi kinerja, tidak ada perubahan estimasi laba. Saat ini, kredit kepada Agrinas masih dikategorikan sebagai pinjaman berisiko nol, namun berpotensi disesuaikan setelah pembayaran pertama dilakukan pada kuartal III 2026, mengingat masih dalam masa tenggang (grace period).
Sejumlah risiko yang perlu diperhatikan meliputi kondisi makro yang lebih lemah dari perkiraan, volatilitas rupiah yang berpotensi menunda penurunan suku bunga, meningkatnya ketidakpastian geopolitik, serta perlambatan ekonomi yang dapat menekan permintaan kredit dan kualitas aset.
“Dan potensi perubahan regulasi yang dapat memengaruhi operasional perbankan,” tulis analisis UOB Kay Hian.



