Sidang Darurat PBB: Konflik Israel dan Hizbullah Mengancam Stabilitas Regional
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar sidang darurat setelah situasi di Lebanon semakin memburuk akibat perluasan operasi militer Israel dan serangan intensif dari Hizbullah. Pertemuan ini berlangsung atas permintaan Prancis, yang menilai kondisi saat ini sangat mengkhawatirkan dan berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas.
Eskalasi Konflik di Lebanon
Operasi militer Israel terus berkembang dengan peningkatan serangan ke wilayah yang lebih dalam di Lebanon. Militer Israel dilaporkan telah merebut Kastel Beaufort, sebuah lokasi strategis yang pernah menjadi basis militer selama pendudukan Lebanon Selatan pada periode 1982–2000. Di sisi lain, Hizbullah meningkatkan serangan menggunakan roket, rudal, dan drone ke berbagai wilayah Israel.
Beberapa serangan juga dilaporkan menargetkan rumah sakit di Kota Tyre, menyebabkan cedera pada tenaga medis. Hal ini memperkuat kekhawatiran internasional akan ancaman terhadap keselamatan warga sipil dan pelanggaran terhadap hukum kemanusiaan.
Penilaian PBB Terhadap Situasi Saat Ini
Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik dan Operasi Perdamaian, Martha Ama Akyaa Pobee, menegaskan bahwa situasi di Lebanon saat ini “sangat mengkhawatirkan”. Ia menyebut bahwa pasukan Israel terus bergerak ke utara wilayah Lebanon, sementara Hizbullah memperluas jangkauan serangannya lebih jauh ke wilayah Israel.
Pobee juga menyoroti bahwa tindakan Israel di utara Garis Biru (Blue Line) merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon dan Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB. Ia menekankan bahwa Hizbullah dan kelompok bersenjata non-negara lainnya harus melucuti senjata karena Angkatan Bersenjata Lebanon adalah satu-satunya kekuatan militer yang sah di negara tersebut.
Pandangan Negara-Negara Anggota PBB
Negara-negara anggota PBB memiliki pandangan berbeda mengenai pihak yang bertanggung jawab atas eskalasi konflik. Namun, hampir semua menyerukan deeskalasi dan perlindungan warga sipil.
Israel: Tindakan Terpaksa
Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, membela operasi militer negaranya. Menurutnya, Israel tidak memiliki pilihan lain selain mengambil tindakan setelah Hizbullah kembali menyerang wilayah Israel pada 2 Maret. Ia menuding Iran menggunakan Hizbullah sebagai kelompok proksi untuk menyerang Israel dari Lebanon.
Danon juga menyebut ribuan siswa Israel masih tidak dapat bersekolah akibat ancaman serangan yang terus berlangsung.
Lebanon: Israel Lakukan Kejahatan Perang
Perwakilan Lebanon, Ahmad Arafa, menyampaikan kritik keras terhadap Israel. Ia menuduh Israel memanfaatkan situasi regional yang sedang tegang untuk meningkatkan operasi militer secara berbahaya. Arafa menegaskan bahwa sebagian tindakan Israel dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Amerika Serikat: Perdamaian Bisa Tercapai Jika Hizbullah Berhenti Menyerang
Perwakilan Amerika Serikat, Michael G. Waltz, menegaskan bahwa jalan menuju perdamaian masih terbuka. Ia menekankan pentingnya pemerintah Lebanon mengambil kendali penuh atas seluruh wilayah negaranya serta menghentikan pengaruh Iran di Lebanon.
Bahrain Sambut Upaya Gencatan Senjata
Perwakilan Bahrain, Jamal Fares Alrowaiei, menyambut baik laporan mengenai kesepakatan penghentian serangan antara Israel dan Hizbullah yang diumumkan Presiden Donald Trump. Ia berharap langkah tersebut menjadi awal positif menuju deeskalasi konflik.
Denmark Ingatkan Bahaya Pelanggaran Kedaulatan
Duta Besar Denmark, Christina Markus Lassen, menegaskan bahwa penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah merupakan fondasi utama tatanan internasional. Ia memperingatkan bahwa pelanggaran terhadap prinsip-prinsip tersebut dapat memicu dampak berantai yang tidak hanya mengancam Lebanon, tetapi juga stabilitas kawasan.
Rusia: Lebanon Mulai Mengalami Nasib Seperti Gaza
Perwakilan Rusia, Vassily Nebenzia, menyampaikan kritik tajam terhadap Israel dan Amerika Serikat. Ia menilai gencatan senjata yang dimediasi Washington pada April lalu ternyata hanya menjadi “tabir asap” bagi operasi militer Israel di Lebanon. Ia memperingatkan bahwa pendudukan lebih lanjut atas wilayah Lebanon dapat memicu perang saudara dan konflik sektarian yang lebih luas.
Prancis: Israel Lakukan Kesalahan Strategis
Duta Besar Prancis, Jérôme Bonnafont, yang mengajukan permintaan sidang darurat tersebut, mengatakan negaranya sangat prihatin terhadap perkembangan situasi di Lebanon. Meski mengakui hak Israel untuk membela diri, Prancis menilai tidak ada alasan yang dapat membenarkan besarnya skala operasi militer yang sedang berlangsung.
PBB Serukan Semua Pihak Menahan Diri
Di tengah perbedaan pandangan yang tajam antarnegara anggota Dewan Keamanan, hampir seluruh delegasi sepakat bahwa eskalasi konflik harus segera dihentikan. Mereka menyerukan perlindungan warga sipil, penghormatan terhadap pasukan penjaga perdamaian UNIFIL, serta memberikan ruang bagi diplomasi untuk mencegah pecahnya perang yang lebih besar di Lebanon.
Trump: Israel-Hizbullah Setujui Gencatan Senjata
Presiden AS Trump mengumumkan pada hari Senin bahwa Israel dan Hizbullah telah menyetujui gencatan senjata. Ia menulis di TruthSocial bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji selama percakapan telepon yang “sangat produktif” untuk tidak mengirim pasukan ke Beirut, sementara Israel mengancam akan menyerang pinggiran selatan ibu kota Lebanon.
Trump juga mengumumkan bahwa ia telah melakukan “percakapan yang sangat baik” dengan Hizbullah melalui perantara, menambahkan bahwa kelompok yang didukung Iran itu telah setuju untuk “menghentikan semua permusuhan.”



