Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 13 Juli 2026
Trending
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
  • Gubernur Khofifah Dianugerahi Penghargaan atas Penurunan Stunting Jatim 14,7 Persen
  • Sandro Tonali resmi bergabung dengan Tottenham Hotspur, jadi pemain termahal klub
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Pandangan: Tikus di Rumah Suci dan Cermin Kehidupan Kita
Politik

Pandangan: Tikus di Rumah Suci dan Cermin Kehidupan Kita

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover22 Februari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Refleksi Moral dan Sosial dalam “Tikus di Rumah Suci”

Dari sebuah buku kumpulan cerpen berjudul “Tikus di Rumah Suci” karya Sipri Senda, seorang Pastor Katolik yang diterbitkan oleh PT Kanisius, Yogyakarta, tahun 2026, muncul inspirasi untuk menulis opini ini. Cerpen dengan judul yang sama menjadi titik tolak refleksi moral dan sosial yang mendalam.

Semua orang pasti terperangah ketika menemukan kabar bahwa ada “tikus” berkeliaran bebas di rumah Tuhan—menggerogoti, mencuri, dan hidup nyaman di ruang yang seharusnya suci. Kabar semacam itu tentu mengejutkan, bahkan mengusik iman dan akal sehat kita. Apakah mungkin tempat yang diyakini sebagai ruang sakral justru tidak sepenuhnya aman dari perilaku yang merusak?

Kegelisahan itu lahir lebih dahulu dari imajinasi pembaca, termasuk imajinasi penulis. Cerita pendek tersebut sesungguhnya hanya menggambarkan tikus-tikus nyata yang mencuri sisa makanan di dapur pastoran atau berkeliaran di gudang paroki. Namun justru dari fakta yang sederhana itulah muncul simbol yang jauh lebih dalam, sebuah gambaran yang mengusik kesadaran moral kita.

Tikus dalam imajinasi sosial kita bukan sekadar binatang. Ia sering menjadi metafora bagi perilaku diam-diam, licik, mengambil tanpa hak, dan hidup dari kelengahan orang lain. Ketika simbol itu ditempatkan di ruang yang disebut “rumah Tuhan”, muncul pertanyaan yang lebih dalam: apakah ruang suci benar-benar bebas dari penyimpangan moral? Jawabannya, sebagaimana realitas kehidupan manusia, tidak selalu demikian.

Tempat suci dibangun oleh manusia, dikelola oleh manusia, dan dihuni oleh manusia yang tetap membawa kelemahan serta godaan duniawi. Karena itu, kehadiran “tikus”—baik dalam arti harfiah maupun simbolik—sebenarnya bukan sekadar persoalan kebersihan ruang, tetapi juga kebersihan nurani. Ia menjadi pengingat bahwa kesucian tempat tidak otomatis menjamin kesucian perilaku.

Di sinilah cerpen tersebut melampaui dirinya sendiri. Ia menjadi cermin sosial. Jika di ruang religius saja masih mungkin terjadi tindakan tidak etis, kelalaian, atau bahkan penyalahgunaan kepercayaan, maka bagaimana dengan ruang publik yang jauh lebih kompleks: birokrasi negara, lembaga politik, hingga pemerintahan di tingkat desa dan kelurahan?

Kita hidup di tengah realitas di mana praktik korupsi, manipulasi kekuasaan, dan penyalahgunaan jabatan seolah menjadi berita harian. Ironisnya, pelaku sering kali bukan orang asing bagi masyarakat, melainkan mereka yang sebelumnya dipercaya, dihormati, bahkan dianggap teladan.

Dalam konteks ini, “tikus” bukan lagi sekadar simbol sastra, tetapi metafora sosial yang terasa nyata. Korupsi pada dasarnya lahir dari mentalitas mengambil yang bukan haknya. Ia berawal dari pembenaran kecil: mengambil sedikit tidak apa-apa, memanfaatkan jabatan dianggap wajar, atau menganggap fasilitas publik sebagai milik pribadi. Seperti tikus yang menggigit perlahan, kerusakan itu sering tidak langsung terlihat. Namun lama-kelamaan, fondasi moral masyarakat menjadi rapuh.

Yang lebih berbahaya adalah ketika masyarakat mulai terbiasa. Ketika pelanggaran dianggap normal, ketika integritas dipandang sebagai keluguan, dan ketika kejujuran justru terasa asing. Pada titik ini, persoalan bukan lagi individu yang menyimpang, melainkan budaya yang ikut membiarkan penyimpangan itu terus hidup.

Gereja maupun negara sebenarnya memiliki panggilan yang sama: menjaga martabat manusia dan memelihara keadilan. Gereja melalui nilai moral dan spiritualitas, negara melalui hukum dan tata kelola pemerintahan. Namun keduanya akan kehilangan wibawa apabila tidak mampu membersihkan “tikus-tikus” yang menggerogoti dari dalam.

Kritik terhadap realitas ini bukanlah serangan terhadap institusi, melainkan bentuk cinta terhadapnya. Sebab hanya dengan keberanian mengakui kelemahan, pembaruan dapat terjadi. Kesucian bukan berarti tanpa cela, melainkan keberanian untuk terus bertobat dan memperbaiki diri.

Masyarakat pun memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. Korupsi dan penyimpangan tidak tumbuh di ruang hampa; ia hidup karena ada toleransi sosial. Ketika publik diam, ketika kritik dianggap ancaman, atau ketika relasi kedekatan lebih penting daripada keadilan, maka “tikus-tikus” itu akan terus berkembang biak.

Cerita tentang tikus di rumah suci akhirnya mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: kejahatan tidak selalu datang dari luar, tetapi sering muncul dari kelalaian di dalam. Oleh karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya pengawasan struktural, tetapi juga pembaruan moral—dimulai dari individu, komunitas, hingga lembaga negara.

Rumah Tuhan, seperti juga rumah bangsa, hanya akan tetap kokoh jika setiap penghuninya menjaga integritas. Sebab pada akhirnya, kesucian bukan ditentukan oleh bangunan atau simbol, melainkan oleh hati manusia yang memilih untuk jujur, adil, dan bertanggung jawab.

Dan, mungkin pesan paling penting dari kisah itu adalah ini: sebelum mencari tikus di luar, kita perlu memastikan tidak ada tikus yang diam-diam kita pelihara dalam diri kita sendiri.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Gubernur Khofifah Dianugerahi Penghargaan atas Penurunan Stunting Jatim 14,7 Persen

11 Juli 2026

Sigit Rakha Utomo, Siswa SMP 1 Sengkang, Wakili Sulsel di AMKM Nasional

11 Juli 2026

Alumni UI Minta Ahmad Khozinudin Mundur Jika Tak Selaras dengan Roy Suryo-Tifa

11 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026

Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global

11 Juli 2026

Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?