Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sunday, 18 October 2026
Trending
  • Duel argumen: Ahmad Doli Kurnia dan Hasyim Asy’ari terkait pasal selundupan PKPU
  • Kronologi Lengkap Penyerangan Bus Persib U-18 di Batang
  • Bos Intel ungkap teknologi cip yang bisa bikin AI lebih hemat energi
  • Stok iPhone Duo diprediksi terbatas, pembeli berpotensi hadapi penundaan
  • Rekor MURI SMK se-Jatim: Servis Gratis 9.175 Motor
  • Radja Nainggolan sesali keputusan masa lalu, sebut bisa bela timnas Indonesia selama 15 tahun
  • Lembah Kematian Riset
  • Opini: Dari kenangan menuju aksi – menghidupi pesan Paus Yohanes Paulus II di Flores
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Daerah»Opini: Menghidupkan olahraga bukan mencari kehidupan dari olahraga
Daerah

Opini: Menghidupkan olahraga bukan mencari kehidupan dari olahraga

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover15 September 2026No Comments5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Oleh: Damasus Lodolaleng, M.Pd

Pengajar SMKN 2 Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Indonesiadiscover.com Setiap 9 September kita memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas). Namun, olahraga sesungguhnya bukan hanya tentang pertandingan, kemenangan, medali, atau siapa yang berdiri paling tinggi di podium. Di berbagai belahan dunia, olahraga telah menjadi bahasa yang mampu menyatukan manusia. 

Perbedaan bangsa, suku, budaya, dan latar belakang dapat dipertemukan dalam satu lapangan. Dari Olimpiade hingga berbagai kejuaraan dunia, olahraga mengajarkan disiplin, kerja keras, sportivitas, persahabatan, dan penghormatan terhadap sesama.

Semangat itu pula yang tumbuh dalam perjalanan olahraga Indonesia. Sejarah Haornas tidak dapat dipisahkan dari PON pertama di Solo pada 9 September 1948. 

Ketika Indonesia masih menghadapi perjuangan mempertahankan kemerdekaan, olahraga menjadi salah satu cara menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu berdiri, bersatu, dan menyelenggarakan kegiatan nasional sendiri. 

Karena itu, sejak awal olahraga Indonesia bukan sekadar aktivitas fisik tetapi juga bagian dari semangat kebangsaan.

Hari ini olahraga Indonesia terus berkembang. Kita memiliki atlet-atlet yang mampu berprestasi di tingkat Asia bahkan dunia. Namun, di balik prestasi tersebut masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan.  

Pembinaan atlet harus semakin serius, fasilitas harus semakin baik, pelatih harus semakin berkualitas, kompetisi harus berkelanjutan, dan kesejahteraan atlet harus mendapatkan perhatian.

Jangan sampai olahraga hanya menjadi perhatian ketika pertandingan berlangsung dan dilupakan Ketika podium sudah selesai. Lebih dari itu, olahraga harus kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. 

Olahraga bukan hanya milik atlet, pemerintah, KONI, atau organisasi cabang olahraga. Olahraga adalah milik semua orang. Masyarakat dapat memulainya dari hal sederhana berjalan kaki, berlari, bersepeda, bermain sepak bola, bola voli, bulutangkis, senam, dan berbagai aktivitas lainnya. 

Ruang-ruang publik harus hidup dengan kegiatan olahraga. Anak-anak harus diberi ruang untuk bermain dan menemukan bakatnya. Sekolah harus menjadi tempat yang serius dalam menemukan dan membina calon atlet.

Tetapi membangun olahraga tidak cukup hanya dengan memperbanyak pertandingan dan membangun fasilitas. Kita juga membutuhkan tata kelola olahraga yang sehat, transparan, profesional, dan bertanggung jawab.

Organisasi olahraga harus dikelola untuk menghidupkan olahraga, bukan menjadikan olahraga sebagai alat untuk mencari kehidupan pribadi. Anggaran olahraga harus dikelola secara terbuka. 

Program pembinaan harus memiliki ukuran yang jelas. Rekrutmen dan pembinaan atlet harus berdasarkan kemampuan dan prestasi, bukan karena kedekatan, kepentingan, atau hubungan tertentu.

Organisasi olahraga juga jangan sampai menjadi kendaraan untuk kepentingan politik praktis. Olahraga boleh berada dalam ruang kebijakan publik, tetapi jangan sampai atlet, pelatih, klub, dan organisasi olahraga dimanfaatkan hanya untuk kepentingan politik sesaat. 

Olahraga harus menjadi rumah bersama, bukan arena perebutan kepentingan.

Kita membutuhkan pengurus olahraga yang benar-benar bekerja untuk olahraga. Bukan sekadar hadir ketika ada seremoni, menerima jabatan, atau muncul ketika ada keberhasilan. 

Sebab mengurus olahraga berarti mengurus masa depan manusia anak-anak muda yang sedang bermimpi menjadi atlet, pelatih yang menghabiskan waktu membina, serta orang tua yang memberikan dukungan kepada anak-anaknya.

Bagi Nusa Tenggara Timur (NTT), persoalan tata kelola ini menjadi semakin penting karena kita sedang menuju momentum sejarah. NTT bersama NTB telah resmi ditetapkan sebagai tuan rumah PON XXII Tahun 2028, dengan DKI Jakarta sebagai provinsi penyangga.

PON 2028 tidak boleh hanya dilihat sebagai kesempatan menjadi penyelenggara pertandingan. PON harus menjadi momentum untuk membangun kembali ekosistem olahraga NTT. 

Kita membutuhkan atlet yang dipersiapkan sejak dini, pelatih yang berkualitas, kompetisi yang rutin, sport science, tenaga kesehatan olahraga, fasilitas latihan yang layak, serta sistem pembinaan yang jelas dan berkelanjutan.

NTT juga telah merencanakan penyelenggaraan berbagai cabang olahraga di sejumlah wilayah di Pulau Timor, Sumba, Flores, Rote Ndao, dan Alor. Artinya, PON 2028 harus menjadi milik seluruh masyarakat NTT, bukan hanya milik Kota Kupang atau kelompok tertentu.

Karena itu, sejak sekarang kita harus mulai membangun kepercayaan publik. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana olahraga dikelola, bagaimana anggaran digunakan, bagaimana atlet dipilih, bagaimana fasilitas dibangun dan dimanfaatkan, serta apa target yang ingin dicapai.

Transparansi bukan ancaman bagi organisasi olahraga. Transparansi justru membangun kepercayaan. PON 2028 juga harus meninggalkan warisan. 

Jangan sampai setelah pesta olahraga selesai, venue kembali sepi, atlet kembali mencari latihan sendiri, kompetisi berhenti, dan masyarakat kembali

melupakan olahraga.

Kita ingin setelah PON 2028 lahir lebih banyak anak NTT yang bercita-cita menjadi atlet. Kita ingin klub-klub olahraga tumbuh. Kita ingin kompetisi antarkabupaten semakin hidup. 

Kita ingin sekolah-sekolah semakin serius membina talenta olahraga. Kita ingin fasilitas yang dibangun atau direnovasi tetap digunakan masyarakat setelah PON selesai,Inilah yang harus menjadi ukuran keberhasilan kita. 

Sebab PON bukan hanya tentang berapa banyak medali yang kita dapatkan, tetapi tentang seberapa besar perubahan yang kita tinggalkan. 

Tahun 2026 harus menjadi momentum memperkuat fondasi. Tahun 2027 menjadi masa mempercepat persiapan. Dan tahun 2028 menjadi panggung pembuktian bahwa NTT mampu menjadi tuan rumah yang profesional, terbuka, berintegritas, dan membanggakan.

Mari kita hidupkan olahraga, bukan hidup dari olahraga. Mari kita jadikan organisasi olahraga sebagai tempat mengabdi, bukan tempat mencari keuntungan pribadi. 

Mari kita jauhkan olahraga dari kepentingan politik praktis dan kepentingan kelompok. Dan mari kita pastikan setiap rupiah yang diberikan untuk olahraga benar-benar kembali menjadi manfaat bagi atlet, masyarakat, dan masa depan olahraga.

Pada akhirnya, olahraga bukan sekadar tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Olahraga adalah tentang bagaimana kita membangun manusia yang sehat, disiplin, berkarakter, sportif, dan mampu menghargai perjuangan. Dari olahraga dunia kita belajar tentang persatuan. 

Dari sejarah olahraga Indonesia kita belajar tentang perjuangan. Dari NTT kita berharap lahir semangat baru. Dan melalui PON 2028, mari kita buktikan bahwa NTT bukan hanya mampu menjadi tuan rumah, tetapi mampu menjadi bagian penting dari masa depan olahraga Indonesia. 

Selamat Hari Olahraga Nasional 2026, Mari berolahraga, Mari berprestasi, Mari menghidupkan olahraga, dan mari membangun olahraga NTT untuk Indonesia. (*)

Simak terus berita dan artikel opini Indonesiadiscover.comdi Google News

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026

6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

16 September 2026

Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

16 September 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Duel argumen: Ahmad Doli Kurnia dan Hasyim Asy’ari terkait pasal selundupan PKPU

17 October 2026

Kronologi Lengkap Penyerangan Bus Persib U-18 di Batang

17 October 2026

Bos Intel ungkap teknologi cip yang bisa bikin AI lebih hemat energi

17 October 2026

Stok iPhone Duo diprediksi terbatas, pembeli berpotensi hadapi penundaan

17 October 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?