Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sunday, 1 November 2026
Trending
  • Sumpah Pemuda: Semangat persatuan dan kepedulian sesama
  • Prediksi skor Parma vs Udinese di Liga Italia: Statistik dan head-to-head di Serie A Italia
  • Kredit BMRI dan masuknya Haji Isam ke BYAN, menelusuri jejak aset Low Tuck Kwong
  • Langkah Strategis Toyota: Genjot Mobil Listrik dan Bidik Pasar Australia
  • Opini: Biokapitalisme digital – normalisasi pornografi dan darurat eros
  • Terancam Hukuman Mati,Dwi Bagus Dinilai Penuhi Unsur Perencanan pada Pembunuhan AG Anak Tirinya
  • Gus Lilur bangun jaringan dagang di Vietnam, tetap desak pengusutan dugaan riswah Muktamar ke-35 NU
  • Pesona Tersembunyi Situ Biru Cilembang Sumedang
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Hiburan»Opini: Biokapitalisme digital – normalisasi pornografi dan darurat eros
Hiburan

Opini: Biokapitalisme digital – normalisasi pornografi dan darurat eros

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover31 October 2026No Comments10 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Oleh: Melki Deni, S.Fil.

Sedang Studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol.

Indonesiadiscover.com“Kita sedang hidup di dunia yang dijajah oleh hiperseksualisasi tubuh dan jiwa,” demikian kata Eva Illouz dalam wawancara dengan Alex Vicente (El País, 2 Januari 2021). 

Pornografi tidak lagi dapat dipandang sekadar sebagai kekhilafan moral personal atau konsumsi personal, tetapi telah menjadi mesin raksasa struktural di era biokapitalisme digital ini. 

Keintiman yang autentik kini dikomodifikasi secara radikal. Cinta dan eros pun kehilangan ruang ekspresi!

Tubuh dan hasrat kini tidak lagi dihayati sebagai ruang perjumpaan yang hangat dan sakral antarmanusia, tetapi diperas menjadi aliran data visual instan yang terus diproduksi untuk dikonsumsi berulang kali. 

Hari ini normalisasi pornografi melalui berbagai halaman dan situs internet telah melahirkan atmosfer kebudayaan baru, tempat penelanjangan total terhadap seksualitas justru mencabut akar paling dalam dari kedalaman manusia. 

Kehadiran media digital telah secara perlahan tetapi pasti mengikis lanskap psikologis, sosial, dan ontologis manusia modern. 

Hari ini skala destruksi sosial akibat maraknya pornografi digital tercermin secara nyata dalam ledakan industri seksual ini di ruang digital. 

Lydia Delicado-Mortalla dan Samuel Ortiz-Pérez dalam “El ciberespacio pornógrafico: una reflexión crítica, geográfica y feminista a partir del caso OnlyFans” (2024), mencatat bahwa dalam rentang satu dekade, volume konten porno di internet melonjak drastis dari 26 juta halaman menjadi lebih dari satu triliun halaman. 

Mengikuti Karen Gabriel “El poder de las culturas del porno”, Lydia Delicado-Mortalla dan Samuael Ortiz-Pérez menjelaskan bahwa “situs seperti XVideos mencatat lebih dari tiga miliar kunjungan hanya dalam paruh pertama tahun 2018, sementara konsursium media seperti MindGeek menguasai platform seperti PornHub, RedTube, dan YourPorn bersama dengan ratusan situs terkait lainnya. 

Di Amerika Serikat, produksi film porno eksplisit mencapai 10.000 hingga 11.000 judul per tahun, jauh melampaui output industri sinema Hollywood yang rata-rata hanya merilis sekitar 400 film per tahun. 

Perputaran uang dari bisnis tontonan ini diperkirakan mencapai 2,84 miliar dolar AS per tahun di Amerika Serikat dan melampaui 4,9 miliar dolar AS secara global.” Ini tidak berakhir, karena jumlah halaman dan konsumen makin banyak! 

Khusus di Indonesia dapat dibaca di Qolbi Mujahidillah Adzimat Sukmayadi dkk, “The endless cycle of pornography addiction:  Study among generation Z”, 2025. Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 14, No. 1, pp. 188–205.

Di balik pasar digital yang kian jenuh karena kompetisi yang tidak kendali, industri hasrat atau pornokrasi beroperasi melalui cengkeraman algoritma yang kian agresif. 

Untuk menggaet dan mempertahankan perhatian pengguna yang kian terfragmentasi, algoritma media digital secara aktif mengeksploitasi dan mendorong konten yang semakin ekstrem. 

Aura-Elena Scussler dalam “Pornography as a Biopolitical Phenomenon” (2016) menegaskan bahwa mesin biodigital memetakan dan menangkap potensi informasi hasrat manusia untuk mengarahkan perilaku seksual ke arah pengalaman teknologi yang lebih ekstrem. 

Seksualitas yang sehat dan penuh kehangatan kini didegradasi menjadi konten pornografi nonkonsensual; seksualitas tidak lagi dipahami sebagai bahasa kasih sayang, melainkan panggung peragaan kekuasaan dan penundukan fisik yang ditampilkan tanpa rasa bersalah. 

Dampak dari industri hasrat ini tentu dapat menghancurkan pada generasi muda dan anak-anak di bawah umur. 

Penetrasi materi eksplisit secara terus-menerus mengikis emosi moral dasar manusia, seperti rasa bersalah, rasa malu dan merosotnya empati. 

Jauh sebelumnya, Sheila Jeffreys dalam “Industrial Vagina” (2011) membeberkan bagaimana paparan pornografi sejak awal merusak kepekaan emosional dan mendistorsi cara pandang generasi muda mengenai relasi antarmanusia. 

Masyarakat yang terpapar pornografi sejak usia muda perlahan-lahan memandang keintiman bukan lagi sebagai ikatan emosional yang bernilai transendental, melainkan sebagai transaksi mekanis dan berpusat pada pemuasan fisik semata. 

Pornografi adalah antitesis dari cinta, Eros, dan erotisme. Konsumsi konten digital ini berubah menjadi perilaku kompulsif yang sulit dikendalikan, yang populer dikenal sebagai siklus PMO (Porn, Masturbation, Orgasm). 

Kerusakan yang ditimbulkan tidak lagi terbatas pada ruang privat individu. Perilaku PMO bukan sekadar dorongan biologis biasa, melainkan siklus stimulasi dopaminergik berulang yang dirancang secara presisi oleh industri biokapitalisme digital untuk mengikat perhatian subjek. 

Biokapitalisme digital menajiskan sakralitas dan misteri tubuh telanjang demi menggaet konsumen! 

Di ruang digital, biokapitalisme memerintah bahwa yang telanjang, sensual dan seksual adalah “yang indah”; algoritma membantu mempromosikan konten itu, dan menyebarkannya ke ruang publik tanpa filter.

Agar dapat memahami keretakan sosial ini, kita perlu melihat mekanisme biokapitalisme melalui kacamata sosiolog Eva Illouz dalam “La sexualidad de las mujeres y el capitalismo escópico” (2023). 

Dalam rezim ekonomi visual ini, nilai tambah tidak lagi terutama diproduksi dari kerja manufaktur di pabrik, melainkan diekstrak dari tontonan visual dan eksploitasi citra tubuh yang “terseksualisasi”. 

Kapitalisme skopis mengonversi tubuh, terutama tubuh perempuan, menjadi komoditas visual cair yang terus diproduksi dan disirkulkasikan di pasar digital demi pengerukan keuntungan finansial lebih banyak. 

Lewat platform digital, citra tubuh yang dicabik-cabik menjadi objek parsial yang kehilangan keutuhan kemanusiaannya, memicu ketidakpastian ontologis mengenali nilai diri dan martabat hakiki subjek. 

Jauh sebelumnya, filsuf feminis Ana de Miguel dalam “Neoliberalismo sexual: El mito de la libre elección” (2025) menyingkap terjadinya proses “pornofikasi kebudayaan” (pornoficación cultural) yang diarsiteki oleh aliansi antara neoliberalisme dan patriarki. 

Di bawah selubung retorika “pilihan bebas” dan “narasi pemberdayaan pascafeminisme”, setiap individu didorong untuk menjadi “wirausahawan seksual” yang secara sukarela mentransformasi dirinya menjadi barang dagangan pasar. 

Hari ini pornografi tidak lagi dikritik sebagai industri eksploitasi yang menghancurkan, melainkan dinormalisasi sebagai bagian dari gaya hidup modern, sarana relaksasi, dan hiburan populer. 

Dalam “La agonía del Eros” (2025), Byung-Chul Han menegaskan “pengeksploitasi adala yang dieksploitasi. Yang satu adalah pelaku dan korban sekaligus. 

Eksploitasi diri sendiri lebih efektif dari orang lain, karena disatukan dalam perasaan bebas”. 

Akibatnya, batas antara kebudayaan populer dan pornografi menjadi kabur, sehingga melumpuhkan daya kritis masyarakat terhadap ketimpangan dan subordinasi seksual. 

Bagi Giorgio Agamben, “Profanaciones” (2025), pornografi menghancurkan potensi emansipatoris manusia, karena baginya, pornografi adalah sebuah perangkat kapitalis yang berhasil menciptakan sesuatu yang “tidak dapat diprofanasi”. 

Dalam citra pornografi, wajah dan tubuh manusia dilucuti dari seluruh ekspresi emosional yang autentik dan dimuati secara penuh dengan “nilai pameran” yang mutlak. 

Di sini pornografi menginterupsi profanasi tubuh dan hasrat, dan menggantikannya dengan konsumsi gambar dan video yang soliter, hampa, dan tanpa harapan emansipatoris. 

Kehampaan dan konsumsi gambar yang soliter ini melahirkan apa yang disebut Byung-Chul Han sebagai agoni Eros. 

Dalam masyarakat kontemporer yang didominasi oleh pameran transparansi total dan hipervisibilitas digital, segala hal diekspos dan ditelanjangi tanpa sisa. 

Pornografi menjadi antagonis paling destruktif bagi Eros, karena memusnahkan seksualitas dengan cara memamerkan “kehidupan telanjang” yang kehilangan seluruh dimensi misteri dan puitisnya. 

Saat ini tidak hanya cinta yang dinajiskan, tetapi kata-kata, gerak, simbol, tanda dan gestikulasi. 

Dalam “La desaparición de los rituales” (2020), Byung-Chul Han menambahkan bahwa kenikmatan pornografik bersifat narsistik karena lahir dari konsumsi seketika atas objek yang ditelanjangi tanpa selubung rahasia. 

Ketika segalanya diubah menjadi objek konsumsi instan di balik layar, ruang fantasi runtuh dan kenikmatan mendalam bergeser menjadi kejenuhan pascseksual yang hambar. 

Dalam ruang publik yang terneoliberalisasi, seksualitas bahkan dikonstruksi ulang sebagai wujud baru dari kapital manusia, sebagaimana diulas oleh Eva Illouz dan Dana Kaplan dalam “El capital sexual en la Modernidad tardía” (2020). 

Di bawah rezim kapital seksual neoliberal, pengalaman dan performa seksual dituntut untuk menghasilkan perasaan harga diri, efikasi, dan daya saing sosial. 

Biokapitalisme digital memberikan banyak tawaran pinjaman (utang) kepada pengguna media sosial, yang membuat pengguna media sosial harus membayar atau menyetor setiap waktu konten yang dibtuhkannya. 

Konten yang disetor harus lebih ekstrem, radikal, dan “terbaru”, karena konten itu akan bersaing dengan miliaran konten lain. 

Agar dapat menang di panggung kompetisi digital atau setidaknya mendapatkan perhatian dari biokapitalis digital, pengguna harus menelanjangkan diri, memamerkan semua yang privat dan membayar semua utang yang tidak pernah habis. 

Seks tidak lagi dihayati sebagai pengalaman transendental yang tidak bernilai, melainkan sebagai aset yang harus diinvestasikan, diukur dan diakumulasikan demi meningkatkan nilai tawar subjek di pasar kerja maupun pasar jodoh. 

Biokapitalisme digital memberikan pinjaman yang tidak bisa dibayar oleh pengguna media sosial, bahkan sampai ia harus jual diri, dan bahkan bunuh diri!

Pornografi menuntut relasi instrumental yang dangkal, tempat manusia memperlakukan sesamanya sebagai objek pemuas libido sekali pakai. 

Pornografi menelanjangkan privasi, estetika tubuh, kesucian, ritual, dan misteri terdalam hidup manusia. 

Sebaliknya, eros adalah prinsip kosmis dan eksistensial yang mengajarkan manusia untuk keluar dari penjara egoistis menuju perjumpaan autentik dengan yang lain. 

Dengan demikian, merawat eros berarti mempertahankan keberanian untuk mengalami kerentanan, keterbukaan emosional, serta penerimaan terhadap penderitaan dan kegembiraan yang menyatu dalam autentisitas relasi cinta sejati. 

Merujuk pada akar pemikiran Platonik yang diangkat kembali oleh Byung-Chul Han dalam “La agonía del Eros”, eros tidak bisa disamakan dengan sekadar nafsu daging (epithunia). 

Eros adalah daya spiritual yang menggerakkan jiwa manusia dari keindahan fisik menuju keindahan gagasan universal, keadilan, dan kebenaran. 

Tanpa sentuhan eros, pikiran manusia akan merosot menjadi sekadar kalkulasi data algoritmik yang dingin, tanpa daya kreatif, dan tanpa keberanian politik (thumos) untuk merobek konvensionalisme. 

Pornografi di sini mengebiri “thumos” dan menjinakkan manusia menjadi konsumen pasif yang terisolasi, sementara eros membakar keberanian revolusioner untuk membayangkan tatanan masyarakat yang lebih adil.

Oleh karena itu, merawat eros merupakan tindakan politik mendasar melawan depolitisasi neoliberal.

Filsuf Jean-Luc Marion dalam karya monumentalnya, “El fenómeno erótico: seis meditaciones” (2005), menegaskan bahwa kemanusiaan kita tidak dapat didefinisikan oleh ego cogito ala Descartes, tetapi oleh “ego amans” (subjek yang mengasihi). 

Dengan demikian, persoalannya bukan “apakah aku ada?”, melainkan “apakah aku dikasihi?” dan “dapatkah aku mengasihi?”. 

Eros menuntut keberanian subjek untuk menyerahkan diri secara tulus, bertaruh di luar kalkulasi rasional, dan menerima kepribadian sesama dalam keutuhan yang tidak tergantikan. 

Menjaga eros berarti mengembalikan harkat manusia sebagai makhluk yang mampu mengasihi secara radikal. 

Sebaliknya, pornografi tidak bisa dilihat hanya sebagai wacana fantasi, tetapi praktik politik yang menstrukturkan dominasi patriarki dan menormalisasi kekerasan seksual dalam kehidupan sehari-hari. 

Pornografi memberikan jawaban palsu atas kerinduan erotis ini dengan menyajikan simulasi instan yang justru memperparah kesepian eksistensial subjek dan kesendirian yang membosankan. 

Upaya untuk mengembalikan dan merebut kembali eros di tengah biokapitalisme digital, membutuhkan langka transformasi kultural dan struktural yang mendasar. 

Langkah pertama, menurut saya, adalah melakukan pendidikan erotis dan eksistensial yang melampaui sekadar higienisme biologis, norma budaya atau moralisme agama. 

Pendidikan di sini harus kembali mengajarkan keindahan bahasa erotis, simbol, gestur, mimik, kepekaan perasaan, estetika godaan, cara pandang, serta membina rasa hormat terhadap rahasia, privasi, dan kedalaman jiwa orang lain. 

Lebih dari itu, diperlukan sikap kritis terhadap retorika “pilihan bebas” neoliberal yang menyamarkan komodifikasi jiwa. 

Langkah kedua, perlu merekonstruksi “jarak asal”, kesabaran, cara memaknai waktu (cinta membutuhkan waktu, bukan sesuatu yang efemer, spontan, instan), serta ritus-ritus simbolik dalam pergaulan sosial, sekaligus mengembalikan etika ke dalam domain seksualitas. 

Selain itu, perlu diajarkan detokfikasi pikiran! Cinta tidak hanya membutuhkan waktu, melainkan juga ruang-ruang ritual, dan penggunaan bahasa yang melindungi keintiman dari tatapan vulgar, sensual, dan seksual. 

Langkah ketiga, pemulihan eros di era biokapitalisme digital bukan hanya panggilan teologi tubuh, filsafat eksistensialisme, moral pribadi, moral sosial, moral ekonomi-politik, atau tuntutan budaya tradisional, tetapi juga panggilan kemanusiaan universal. 

Kita harus merebut kembali esensi terdalam kemanusiaan kita: tubuh, hasrat, dan keintiman dengan segala kesucian dan misterinya. 

Tubuh yang suci adalah tubuh yang saling berelasi secara estetik dan sarak akan ritual yang suci tanpa terjebak dalam logika konsumsi, distraksi, hipertransparansi, dan kalkulasi. 

Merawat dan memperjuangkan eros bukan lagi sekadar pilihan etis individual, melainkan gerakan revolusioner kemanusiaan universal. 

Artinya, negara harus menjadi garda terdepan mengatur, mengendalikan dan mengontrol semua situs dewasa terutama yang mengandung konten pornografi. 

Masa depan negara ada di tangan anak-anak bangsa! Anak-anak kecanduan pornografi akan menodai atau menajiskan bangsa depan negara.(*)

Simak terus berita,  artikel opini dan cerpen Indonesiadiscover.comdi Google News

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Gus Lilur bangun jaringan dagang di Vietnam, tetap desak pengusutan dugaan riswah Muktamar ke-35 NU

31 October 2026

Israel tutup semua perlintasan ke Tepi Barat di hari pemilu

31 October 2026

Pemuda Kalsel Dobrak Era Digital

31 October 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Sumpah Pemuda: Semangat persatuan dan kepedulian sesama

31 October 2026

Prediksi skor Parma vs Udinese di Liga Italia: Statistik dan head-to-head di Serie A Italia

31 October 2026

Kredit BMRI dan masuknya Haji Isam ke BYAN, menelusuri jejak aset Low Tuck Kwong

31 October 2026

Langkah Strategis Toyota: Genjot Mobil Listrik dan Bidik Pasar Australia

31 October 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?