:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Kesuma-Anugerah-Yanti-pendiri-yayasan-sosial-lingkungan-Borneo-Urban-Lab.jpg)
Kepulan asap tebal seringkali menjadi pemandangan yang mengkhawatirkan, menyelimuti kawasan yang rentan terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan. Di tengah situasi darurat tersebut, para relawan pemadam kebakaran harus berjuang mati-matian menjinakkan si jago merah, sementara masyarakat sekitar terpaksa bertahan di tengah kepungan asap pekat yang tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-orang, tetapi juga mengancam kesehatan pernapasan mereka. Namun, di balik kerja keras pemadaman di garis depan, terdapat rangkaian tugas krusial lain yang tidak boleh diabaikan, yakni memastikan pasokan bantuan kemanusiaan dapat diterima dengan baik oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.
Bagi sosok pegiat sosial Kesuma Anugerah Yanti, misi kemanusiaan semacam ini tidak selalu harus dieksekusi dengan cara terjun langsung ke titik api. Perkembangan teknologi digital serta jaringan komunikasi modern ternyata menyimpan potensi besar yang sangat vital. Mulai dari menghimpun informasi akurat, melakukan verifikasi terhadap jenis kebutuhan mendesak, hingga menjembatani antara donatur serta penyedia bantuan dengan warga terdampak maupun relawan di lapangan.
Melalui yayasan sosial lingkungan yang ia dirikan dan beri nama Borneo Urban Lab, Yanti mengambil peran aktif untuk mendampingi serta menyokong masyarakat yang menderita akibat paparan asap, sekaligus memberikan perhatian kepada para relawan yang tengah bertaruh nyawa di garda terdepan penanganan karhutla, khususnya di wilayah Kalimantan.
Prosedur penanganan yang diterapkan oleh Yanti dan timnya memiliki standar ketat untuk menghindari salah sasaran. Pendekatan yang mereka gunakan bukan sekadar memantau lini masa media sosial, menelan mentah-mentah informasi yang beredar, lalu buru-buru mendistribusikan logistik.
“Alurnya bukan sekadar menerima informasi dari media sosial lalu langsung menyalurkan bantuan. Kami berusaha menghubungkan informasi digital dengan konfirmasi dari orang-orang yang berada langsung di lokasi,” ungkap Yanti dalam sebuah kesempatan. Sejak fase darurat yang dimulai pada akhir Agustus lalu, tim di bawah komandonya tercatat telah melaksanakan sekitar sembilan kali gelombang penyaluran bantuan ke berbagai titik sasaran.
Bagi Yanti, manajemen bencana karhutla tidak boleh direduksi semata-mata sebagai urusan memadamkan api. Aspek kemanusiaan bagi warga yang mengalami dampak kesehatan akibat polusi udara serta kondisi fisik para relawan yang kelelahan juga menuntut perhatian serius agar kesejahteraan mereka tetap terjaga dengan baik. Di sinilah ekosistem digital berfungsi sebagai fasilitator pertemuan berbagai pihak. Kendati demikian, Yanti mengingatkan bahwa instrumen teknologi tetap harus ditopang oleh komunikasi intensif dan rasa saling percaya agar realisasi bantuan di lapangan benar-benar tepat sasaran.
Jejak langkah Yanti dalam menggerakkan kegiatan sosial dan pelestarian lingkungan bukanlah babak baru dalam lembar hidupnya. Ia mengaku telah mendedikasikan diri sebagai relawan sejak tahun 2014. Sepanjang rentang waktu tersebut, ia konsisten terlibat dalam beragam program pemberdayaan masyarakat akar rumput.
Beberapa inisiatif penting yang pernah digawanginya meliputi program edukasi dan aksi memilah sampah mandiri di kawasan Sungaijingah, Banjarmasin. Tidak hanya berhenti di tingkat lokal, dedikasinya yang tinggi juga mengantarkannya terpilih mengikuti program pertukaran pemuda bergengsi antara Indonesia dan Australia pada tahun 2021 silam.
Deretan pengalaman berharga itulah yang kemudian memotivasi Yanti untuk mendirikan Borneo Urban Lab. Wadah ini dirancang secara khusus sebagai ruang kolaborasi terbuka yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat untuk bergerak bersama. Menurut pandangannya, persoalan lingkungan yang kompleks tidak akan pernah tuntas jika hanya diselesaikan melalui program-program instan berdurasi singkat. Keterlibatan aktif masyarakat mutlak diperlukan sejak hari pertama, mulai dari tahap memahami akar permasalahan hingga merumuskan solusi berkelanjutan yang selaras dengan kebutuhan riil mereka.
Kendati demikian, tantangan di era informasi serba cepat ini kian kompleks. Arus data dapat menyebar ke berbagai penjuru dunia dalam hitungan detik. Sayangnya, kecepatan distribusi informasi tersebut sama sekali tidak menjamin kebenaran isinya.
Terlebih dalam situasi krisis seperti bencana alam, penyebaran hoaks atau informasi keliru justru membawa dampak buruk yang masif. Hal ini berpotensi memicu kepanikan massal, mendorong masyarakat mengambil keputusan yang keliru, hingga menghambat efektivitas proses penyaluran bantuan kemanusiaan.
Di sisi lain, kisah inspiratif tentang bagaimana memaksimalkan potensi era digital juga dibuktikan oleh Muhammad Haitami Aqli. Pemuda berusia 28 tahun asal Sungailulut, Kabupaten Banjar ini berhasil mematahkan anggapan bahwa karya-karya besar di bidang teknologi hanya bisa lahir dari kota-kota besar dengan fasilitas penunjang yang serba lengkap. Berbekal tekad kuat, kemauan belajar yang tinggi, serta kerja sama strategis dengan rekan yang memiliki keahlian teknis di bidang pemrograman, Haitami sukses mengembangkan dua platform digital sekaligus, yakni Alramedia.org yang berfokus pada dunia literasi dan Alfaesport.com yang mewadahi kompetisi olahraga elektronik atau gim daring.
Lulusan Program Studi Tadris Biologi UIN Antasari Banjarmasin tahun 2021 ini awalnya tidak pernah menduga akan berkecimpung di dunia teknologi komputer. Ketertarikan tersebut justru tumbuh secara tidak sengaja ketika ia masih menempuh pendidikan di Madrasah Aliah (MA) Raudhatusysyubban.
“Saya minat dalam hal ini duduk di bangku Madrasah Aliah (MA) Raudhatusysyubban, ketika itu saya bertemu rekan yang memiliki keahlian di bidang tersebut,” kenang Muhammad Haitami Aqli.
Dalam kolaborasi tersebut, pembagian peran berjalan secara sinergis. Haitami menyumbangkan gagasan segar, konsep kreatif, serta arah pengembangan, sementara rekannya bertindak sebagai eksekutor yang mewujudkan ide-ide tersebut melalui barisan kode pemrograman.
Meskipun demikian, jalan merintis usaha rintisan digital tidak pernah lepas dari hambatan. Pada tahun 2018, Haitami dan rekannya sempat mencoba peruntungan dengan membangun platform membaca dan menulis secara daring. Namun, proyek tersebut harus kandas di tengah jalan dan terpaksa dihentikan akibat keterbatasan finansial untuk membiayai server dan hosting, ditambah dengan minimnya jumlah pengguna aktif saat itu.
Belajar dari kegagalan masa lalu, Haitami tidak lantas menyerah. Ia bangkit kembali dengan mengembangkan Alramedia.org yang resmi dirintis pada tahun 2024.
“Platform ini menjadi bagian dari pengembangan distribusi digital Ruang Karya, penerbitan buku yang saya kelola,” jelasnya.
Melalui platform ini, berbagai koleksi bacaan berkualitas disajikan secara luas, mulai dari novel fiksi, kumpulan cerpen, karya puisi, buku-buku pendidikan, referensi akademik, hingga literatur nonfiksi. Guna memperluas aksesibilitas bagi para pembaca dari berbagai kalangan, buku-buku terbitan Ruang Karya kini tidak hanya dicetak dalam bentuk fisik konvensional, tetapi juga dihadirkan dalam format digital.
Selain fokus pada pengembangan literasi masyarakat, Haitami juga melahirkan inisiatif di sektor hiburan edukatif melalui Alfa Esport. Proyek ini berakar dari pengalaman pribadinya tatkala kesulitan mencari turnamen eFootball Mobile yang dapat diikuti secara gratis.
Mengingat kesempatan untuk bertanding secara kompetitif masih sangat terbatas bagi kalangan pemain amatir, ia tergerak untuk menginisiasi sendiri penyelenggaraan kompetisi menggunakan dana pribadi. Tujuannya sederhana namun bermakna, yakni menyediakan ruang bertanding yang sehat dan sportif bagi para gamer tanpa harus melibatkan praktik taruhan uang.
Sejak mulai dikembangkan secara serius pada Februari 2026, antusiasme peserta menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan. Jumlah partisipan yang mulanya hanya berkisar 10 orang kini telah membengkak menjadi lebih dari 300 peserta yang berasal dari berbagai provinsi di tanah air. Ragam kompetisi yang dipertandingkan pun semakin bervariasi, mencakup turnamen eFootball Mobile, Mobile Legends, MCGG, hingga turnamen catur daring yang menguji strategi berpikir.
Bersama dengan sebuah tim solid yang terdiri atas Tami sebagai CEO, Zaka yang memegang posisi CTO, Hairin sebagai COO, serta Arsyad selaku CMO, Haitami berinisiatif mengembangkan sebuah portal bernama Alfaesport.com. Kehadiran platform ini bertujuan utama untuk memberikan kemudahan bagi para peserta turnamen dalam mengakses jadwal pertandingan secara real-time, melihat hasil akhir kompetisi, memantau klasemen sementara, serta mendapatkan berbagai informasi penting seputar dunia kompetisi game. Semangat inovasi para pemuda Banua di ranah digital juga dibuktikan secara nyata oleh Muliyadi Saputra melalui pengembangan Ratikita.id, sebuah platform rintisan bank sampah digital yang kini telah terintegrasi dengan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Pengembangan platform yang berpusat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) ini dilakukan bekerja sama dengan pihak Bank Sampah lokal. Tujuannya sangat jelas, yakni untuk mempermudah masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga sekaligus membuka peluang ekonomi baru dari barang-barang bekas yang ternyata masih memiliki nilai jual tinggi. Menyongsong tahun 2026, Ratikita.id bahkan bersiap meluncurkan dua fitur unggulan berbasis AI. Fitur pertama adalah sistem pendeteksi jenis sampah secara otomatis melalui kamera ponsel, dan yang kedua adalah asisten virtual interaktif bernama Ratiki-bot yang siap melayani segala kebutuhan informasi para nasabah. Inovasi cemerlang ini menjadi salah satu potret nyata bagaimana anak-anak muda di daerah mampu memanfaatkan perkembangan teknologi mutakhir guna menjawab berbagai persoalan pelik di lingkungan sekitar mereka.
Langkah progresif yang dihadirkan oleh Ratikita.id sekaligus memberikan pesan mendalam bahwa kontribusi nyata dari generasi muda tidak harus selalu bermula dari kota-kota besar metropolitan atau perusahaan teknologi berskala nasional. Berbagai persoalan nyata yang dijumpai di lingkungan tempat tinggal sendiri justru bisa menjadi titik awal yang sangat baik untuk merumuskan sebuah solusi aplikatif. Sampah yang selama ini kerap dipandang sebelah mata sebagai masalah lingkungan yang pelik, kini berhasil dikelola dan diubah menjadi sumber nilai ekonomi baru melalui sistem digital yang jauh lebih ramah pengguna dan mudah diakses oleh masyarakat luas.
Muliyadi Saputra mengungkapkan pandangannya bahwa sudah saatnya para pemuda mengambil peran aktif dalam memanfaatkan teknologi guna menjawab beragam kebutuhan mendesak di tengah masyarakat. Menurutnya, teknologi tidak boleh hanya dipandang sekadar sebagai tren untuk mengikuti perkembangan zaman yang serba cepat.
- Teknologi harus mampu menjadi instrumen nyata dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di lingkungan terdekat kita.
- Melalui inovasi ini, pengelolaan sampah diharapkan bisa menjadi jauh lebih mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
- Pada akhirnya, sistem tersebut mampu memberikan manfaat ganda, baik bagi kelestarian lingkungan hidup maupun dalam mendongkrak perekonomian warga sekitar.
Sementara itu, bergeser ke wilayah Hulu Sungai Utara (HSU), seorang pemuda bernama Ahmad Basuki menyadari bahwa upaya perluasan informasi dan pelestarian budaya lokal dapat dikemas dengan cara yang jauh lebih menarik apabila dibantu oleh sentuhan teknologi modern. Situs Candi Agung, sebuah kawasan cagar budaya yang terletak di Kelurahan Sungai Malang, HSU, berhasil diperkenalkan kembali kepada publik luas oleh sosok Nanang HSU ini dengan wajah baru yang jauh lebih segar dan memikat.
“Saya membuat sebuah dokumentasi video mengenai Candi Agung secara lengkap, termasuk di dalamnya merekam berbagai ritual yang lazim dilakukan oleh para pengunjung saat berada di objek wisata sejarah yang pertama kali ditemukan sejak tahun 1962 tersebut,” ungkapnya penuh antusias. Dalam proses pengambilan gambarnya, ia memanfaatkan teknologi drone yang memungkinkan kamera mengabadikan keindahan visual dari seluruh sudut bagian Candi Agung, termasuk mengambil pemandangan megah dari atas udara.
Teknik pengambilan gambar seperti ini dipandang memiliki nilai jangka panjang yang sangat berharga. Berpuluh-puluh tahun ke depan, generasi mendatang akan tetap memiliki catatan visual yang otentik mengenai bagaimana rupa Candi Agung pada masa kini. Seluruh informasi penting mengenai situs bersejarah tersebut dikemas sedemikian rupa melalui proses penyuntingan video yang sinematik, sehingga mampu menarik minat penonton untuk mengenal lebih dekat berbagai aktivitas yang ada di dalam situs peninggalan era Kerajaan Negara Dipa ini.
Proses penyuntingan video serta pengisian suara latar belakang (voice over) dikerjakan dengan sangat teliti dan penuh perhitungan. Jejak langkah sejak pertama kali pengunjung memasuki gerbang kawasan situs hingga menyaksikan secara langsung prosesi ritual badudus atau mandi-mandi adat direkam secara berurutan dan estetis. Ahmad Basuki mengemas seluruh rangkaian dokumentasi tersebut dengan sentuhan seni yang tinggi sebelum akhirnya diunggah ke berbagai platform media sosial. Konten tersebut juga terhubung langsung dengan akun resmi pawadahan Nanang Galuh yang memiliki kesamaan visi dan misi mulia, yakni melestarikan kekayaan budaya di daerah masing-masing.
Respon publik terhadap karya visual tersebut ternyata sangat luar biasa. Ratusan tanda suka dan belasan ribu tayangan langsung membanjiri unggahan video tersebut. Berbagai komentar positif pun bermunculan, salah satunya menuliskan kalimat “muda dan berbudaya” pada kolom komentar akun resmi pawadahan Nanang Galuh HSU di platform Instagram. Ahmad Basuki meyakini sepenuhnya bahwa melalui publikasi yang dikemas secara kreatif dan menarik, upaya ini tidak sekadar mengingatkan kembali kepada seluruh masyarakat Indonesia tentang keberadaan situs dan budaya Candi Agung yang patut dilestarikan, melainkan juga menumbuhkan rasa cinta tanah air.
Menurut pemuda yang akrab disapa Ibas ini, mengenali akar budaya sendiri merupakan hal yang sangat krusial karena langkah tersebut dapat mengajak generasi muda untuk kembali menemukan identitas diri mereka. Mengingat pada era modern saat ini, masih cukup banyak anak muda yang acuh tak acuh dan belum mengenal secara mendalam budaya yang berasal dari daerahnya sendiri. Melalui kolaborasi antara kreativitas digital, kepedulian lingkungan, dan kecintaan pada budaya lokal, para pemuda daerah kini membuktikan kapasitas mereka sebagai agen perubahan yang sesungguhnya.



