Ringkasan Berita:
- Minat umrah di Indonesia tinggi, salah satunya karena masa tunggu haji yang panjang. Masyarakat disarankan merencanakan keuangan sejak awal dan tetap mendaftar haji.
- MES Surakarta mengingatkan calon jamaah tidak tergiur travel murah. Pastikan biro perjalanan bonafide, berizin, memiliki jadwal keberangkatan jelas, dan harga realistis.
- Dana jamaah juga perlu dikelola secara aman. Skema pembayaran sebaiknya jelas, bertahap, serta disertai kepastian visa dan keberangkatan.
Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima
Indonesiadiscover.com, SOLO – Keinginan umat Islam di Indonesia untuk berangkat ke Tanah Suci masih tinggi.
Panjangnya masa tunggu haji yang bisa mencapai puluhan tahun membuat sebagian masyarakat memilih umrah sebagai alternatif untuk lebih dahulu berkunjung ke Tanah Suci.
Wakil Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Surakarta, Karsono, mengatakan tingginya minat masyarakat untuk menjalankan ibadah umrah tidak terlepas dari mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam.
Menurutnya, masyarakat yang memiliki kemampuan finansial sebaiknya tetap mendaftarkan diri untuk ibadah haji sembari menunggu masa keberangkatan.
“Karena umat Islam mungkin juga punya keinginan segera ke Tanah Suci, maka solusinya berangkat umrah dulu,” kata Karsono.
Ia menyarankan masyarakat mulai melakukan perencanaan keuangan sejak jauh-jauh hari. Dengan demikian, keinginan berangkat umrah dapat diwujudkan tanpa mengganggu kebutuhan keuangan keluarga.
“Saya sarankan mendaftar haji dulu. Sambil menunggu 25 atau 30 tahun itu mendaftar umrah. Tentu butuh budget dan perencanaan,” ujarnya.
Peminat Umrah Capai Jutaan Jamaah
Karsono menyebut Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia. Kondisi tersebut membuat potensi pasar perjalanan umrah di Indonesia juga sangat besar.
Menurut data yang disampaikannya dari Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), jumlah masyarakat Indonesia yang berangkat umrah setiap tahun mencapai sekitar 1,5 juta orang.
Ia menyebut angka tersebut menunjukkan besarnya potensi bisnis perjalanan umrah di Indonesia.
“Yang berangkat umrah juga besar setiap tahunnya, tidak kurang dari 1,5 juta,” katanya.
Namun, besarnya pasar umrah tersebut juga perlu diimbangi dengan kewaspadaan masyarakat. Calon jamaah diminta tidak sekadar memilih travel berdasarkan harga murah.
Karsono mengingatkan masyarakat untuk memastikan biro perjalanan yang dipilih benar-benar bonafide dan memiliki izin sebagai penyelenggara perjalanan ibadah umrah.
Jangan Asal Pilih Travel Umrah
Menurut Karsono, salah satu langkah sederhana untuk mengetahui rekam jejak sebuah travel adalah dengan memanfaatkan media sosial.
Calon jamaah dapat melihat akun media sosial travel, membaca pengalaman jamaah sebelumnya, serta memperhatikan berbagai ulasan yang diberikan.
“Kalau sekarang dunia digital, untuk melihat baik atau tidak baik, lihat medsosnya dulu. Pengalaman saya dan istri begitu, melihat review di media sosial, itu menjadi kunci,” jelasnya.
Selain rekam jejak, calon jamaah juga perlu mencermati harga paket yang ditawarkan.
Karsono menyebut kisaran biaya umrah saat ini berada di sekitar Rp25 juta hingga Rp40 juta, tergantung paket dan fasilitas yang dipilih.
Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati jika menemukan penawaran dengan harga yang terlalu murah dan tidak masuk akal.
“Penawaran harga realistis atau tidak. Ukuran sekarang untuk umrah Rp25-40 juta, tinggal mau yang mana,” katanya.
Pastikan Travel Punya Izin dan Jadwal Keberangkatan Jelas
Hal lain yang tidak kalah penting adalah memastikan legalitas travel. Calon jamaah dapat menanyakan apakah biro perjalanan tersebut tergabung dalam asosiasi dan memiliki izin sebagai penyelenggara perjalanan ibadah umrah.
Selain itu, jadwal keberangkatan juga harus jelas sejak awal.
Karsono mengatakan travel yang bonafide umumnya telah memiliki perencanaan keberangkatan yang matang. Bahkan, jadwal perjalanan dapat disiapkan jauh sebelum calon jamaah mendaftarkan diri.
“Yang baik begitu kita daftar sudah ada jadwalnya. Itu sudah direncanakan delapan bulan yang lalu, ditawari jadwal yang mana yang cocok, sudah ada jadwal setahun,” tuturnya.
Sebaliknya, calon jamaah patut waspada apabila travel tidak dapat memberikan kepastian jadwal keberangkatan.
Menurutnya, harga paket juga harus dijelaskan sejak awal dan tidak berubah-ubah secara sepihak.
“Kalau yang tidak bonafide, jadwal tidak jelas. Harga dikunci di depan, tidak berubah,” ujarnya.
Waspadai Pengelolaan Dana Jamaah
Karsono juga menyoroti pengelolaan dana jamaah oleh biro perjalanan. Menurutnya, dana yang telah disetorkan jamaah semestinya tidak digunakan untuk kegiatan investasi berisiko tinggi.
Pengelolaan dana harus dilakukan secara hati-hati dan menggunakan instrumen yang memiliki tingkat keamanan serta likuiditas yang baik.
“Harusnya tidak boleh dialokasi untuk investasi berisiko tinggi. Harusnya investasi yang bisa ditarik, misalnya deposito atau obligasi syariah,” jelasnya.
Untuk menghindari risiko kerugian, calon jamaah juga disarankan memahami mekanisme pembayaran sejak awal.
Karsono mengatakan travel yang baik dapat memberikan skema pembayaran secara bertahap dengan ketentuan yang jelas.
“Kalau mau umrah pastikan travel bonafide. Ada kepastian pemberangkatan, teknis kapan visa keluar dan pembayaran tidak sekaligus. Misalnya bayar di awal 20 persen dulu, ada cicilan yang pasti,” pungkasnya.
(*)



