Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 13 September 2026
Trending
  • Hasil Liga Champions: Duo Inggris menang tipis, PSG dan Barcelona pesta gol
  • Ketika seni dan budaya hidup dari tepuk tangan
  • Terkuak cara 3 tersangka eksekusi pengusaha Cung Su Liat di Jalan Kopisan Singkawang
  • Klasemen Liga Arab Saudi: Al Nassr menang, Ronaldo cs kembali pepet Al Hilal di puncak
  • SPF 50+ vs PA++++: Apa bedanya dan kenapa keduanya penting?
  • Didakwa rugikan negara Rp268 miliar, ini respons mantan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi
  • Hasil Liga Champions tadi malam: Liverpool comeback, hattrick Ferran Torres warnai pesta gol PSG
  • Ramalan zodiak Cancer besok Minggu, 13 September 2026: Jaga pikiran tetap tenang dan terarah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Daerah»Ketika seni dan budaya hidup dari tepuk tangan
Daerah

Ketika seni dan budaya hidup dari tepuk tangan

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover13 September 2026Tidak ada komentar6 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

ICHSAN, Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh, melaporkan dari Jantho, Aceh Besar

Dewasa kini, sepertinya ada yang keliru dengan cara kita memperlakukan seni dan budaya. Kita begitu mudah bertepuk tangan ketika pertunjukan selesai, juga begitu cepat melupakannya ketika lampu panggung dipadamkan.

Sebuah pertunjukan datang, ditonton, dipuji, lalu selesai. Pameran dibuka, pengunjung datang, mengangguk-angguk, mengambil gambar, kemudian pulang.

Setelah itu, karya dan gagasan yang semestinya terus hidup justru kembali menjadi milik penciptanya sendiri.

Pada akhirnya seni hadir eperti dahaga yang disiram sebentar, menyenangkan mata, menghibur telinga, tetapi tidak selalu meninggalkan pertanyaan, apalagi gagasan.

Apakah tepat jika apresiasi cukup berhenti pada tepuk tangan?

Pertunjukan seni semestinya tidak hanya menghasilkan penonton yang terhibur, tetapi juga pengetahuan yang bertambah. Ia seharusnya melahirkan pertanyaan, penelitian, dokumentasi, kritik, bahkan karya baru.

Pameran pun semestinya bukan sekadar tempat karya dipajang dan ditawarkan kepada calon pembeli. Ia adalah ruang perjumpaan gagasan antara seniman, karya, dan publik.

International Council of Museums (ICOM) misalnya, dalam definisi museum yang disahkan pada  tahun 2022, menempatkan penelitian, interpretasi, pendidikan, refleksi, dan berbagi pengetahuan sebagai bagian penting dari kerja kebudayaan. Artinya, melihat karya bukan sekadar melihat. Ada proses memahami, mempertanyakan, dan membangun pengetahuan di dalamnya.

Maka, penonton seni sebenarnya mempunyai pekerjaan yang tidak kalah penting dari seniman.

Penonton pertunjukan sepatutnya tidak hanya bertanya, “Bagus atau tidak sebuah pertunjukan?” tetapi juga mempertanyakan apa yang sedang dikatakan, nilai apa yang dibawa, masalah sosial apa yang sedang dibicarakan, apa yang dapat diwariskan, dan apa yang bisa dikembangkan.

Kritik jujur berguna

Begitu pula ketika memasuki ruang pamer. Kita tidak harus menyukai semua karya. Bahkan, ketidaksukaan pun dapat menjadi bentuk apresiasi jika disertai argumentasi. Kritik yang jujur jauh lebih berguna daripada diam karena tidak mengerti atau sekadar mengangguk karena sungkan.

Seni membutuhkan penonton yang berpikir, bukan hanya penonton yang hadir.

Di sisi lain, berbagai pertanyaan patut diajukan, mulai dari mengapa sejumlah seni tradisi Aceh mampu bertahan dan menjadi referensi lintas generasi, sementara sebagian pertunjukan hari ini selesai bersamaan dengan turunnya tirai.

Rapai Pase misalnya, tidak sekadar dikenal karena bunyinya. Ia melekat dengan kehidupan sosial masyarakat. Data Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencatat rapai Pase sebagai seni pertunjukan yang berasal dari Aceh Utara.

Begitu pula saman Gayo. UNESCO tidak menempatkannya semata sebagai tontonan yang indah. Saman dipahami sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Gayo, dengan syair yang dapat mengandung pesan keagamaan, romantik, maupun humor, sekaligus berfungsi mempererat hubungan antarkampung.

Pada tahun 2011, saman bahkan masuk Daftar Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak UNESCO.

Menariknya, UNESCO tidak berhenti pada pementasan. Dalam rekomendasi terkait saman, UNESCO mendorong transmisi pengetahuan, pelatihan pelatih, dokumentasi, penelitian tentang nilai budaya, agama, dan kesehatan, penguatan sanggar, serta dukungan pemerintah lokal.

Di sinilah kita menemukan perbedaan penting. Seni yang hidup panjang biasanya bukan hanya seni yang dipertunjukkan, melainkan seni yang ditransmisikan, dipelajari, diteliti, didokumentasikan, digunakan, dan dikembangkan.

Sebuah karya baru membutuhkan kesempatan untuk diperdebatkan, dikritik, diteliti, dan ditumbuhkan. Jika setiap pertunjukan hanya diperlakukan sebagai acara sekali selesai, bagaimana mungkin ia menjadi referensi bagi generasi berikutnya?

Kegelisahan serupa muncul di ruang seni rupa. Pameran kadang terasa seperti garis

‘finish’ perjalanan seorang perupa. Karya selesai, dipajang, dibuka, dan dijual. Jika laku mahal, dianggap berhasil. Jika tidak laku, pameran tetap dianggap selesai.

Padahal, pameran seharusnya bukan akhir perjalanan karya. Ia justru dapat menjadi awal percakapan.

Karya seni yang dipamerkan seharusnya membuka ruang untuk bertanya, mengapa karya itu dibuat, dari persoalan apa ia lahir, apa konteks sosialnya, bagaimana proses penciptaannya, dan apa hubungan karya itu dengan tradisi, lingkungan, dan perubahan zaman?

Jika semua berhenti pada transaksi, maka kita sedang mempersempit makna pameran menjadi pasar.

Pasar memang penting. Seniman harus hidup. Karya seni boleh dan bahkan perlu memiliki nilai ekonomi. Namun, seni yang hanya diukur dari harga jual akan kehilangan sebagian dari kemampuannya sebagai pengetahuan.

ICOM sendiri menempatkan museum sebagai institusi yang meneliti, mengumpulkan, merawat, menginterpretasikan, dan memamerkan warisan, serta menyediakan pengalaman untuk pendidikan, refleksi, dan berbagi pengetahuan.

Dengan ukuran seperti itu, ruang pamer mestinya tidak hanya melahirkan pembeli. Ia harus melahirkan pembaca karya.

Ironinya memang. Mungkin seni tidak pernah benar-benar membutuhkan kita untuk hidup. Padahal, jauh sebelum manusia mengenal panggung pertunjukan, suara alam telah menjadi musik pertama. Gemericik air, gesekan daun, dentuman hujan, dan bunyi burung telah mengisi indra pendengaran manusia.

Yang sebenarnya sedang kita pertaruhkan bukan keberlangsungan seni, melainkan kualitas hubungan manusia dengan seni.

Seni akan tetap hidup. Pertanyaannya, apakah ia akan hidup sebagai pengetahuan atau sekadar hiburan, sebagai identitas, atau sekadar dekorasi, sebagai kekuatan sosial atau sekadar acara?

Di sinilah negara, pemerintah daerah, institusi pendidikan, seniman, budayawan, dan masyarakat memiliki tanggung jawab.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan bahkan menegaskan bahwa pemajuan kebudayaan mencakup pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan. Pemerintah daerah diberi tugas menyediakan prasarana, sarana, dan sumber pendanaan, sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dan menjaga ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan.

Dengan demikian, mendukung seni bukan kemurahan hati pemerintah. Ia adalah mandat kebudayaan.

Dalam konteks Aceh, keberadaan ISBI Aceh menjadi penting. ISBI Aceh yang berdiri pada 6 Oktober 2014 berdasarkan Perpres Nomor 126 Tahun 2014 dan merupakan perguruan tinggi seni satu-satunya di Aceh. Institusi ini mengemban fungsi pendidikan, penciptaan, pengkajian, pelestarian, dan pengembangan seni budaya. Pada 2026, ISBI Aceh juga telah berkembang dengan sebelas program studi, termasuk program studi baru Bahasa Mandarin dan Sejarah.

Karena itu, pertumbuhan ISBI Aceh semestinya tidak berjalan sendirian. ISBI Aceh dan seniman tidak seharusnya berdiri sebagai dua dunia yang saling menunggu. Kampus membutuhkan pengalaman para maestro dan seniman. Seniman membutuhkan ruang penelitian, dokumentasi, laboratorium kreatif, dan generasi baru. Budayawan membutuhkan ruang dialog. Pemerintah membutuhkan pengetahuan untuk menyusun kebijakan kebudayaan yang tidak berhenti pada seremoni.

Tidak perlu lagi muncul pertanyaan, “Bukankah sudah saatnya ISBI Aceh merangkul seniman?” Sebab, merangkul tidak selalu berarti menarik seseorang masuk ke dalam institusi. Terkadang ia berarti membuka pintu. Membuka ruang diskusi. Mengundang maestro untuk mengajar.

Kita perlu merajut kembali benang-benang yang terurai. Mengait kembali pintalan yang pernah patah. Bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk memastikan bahwa generasi berikutnya tidak mewarisi kebudayaan dalam bentuk cerita tentang sesuatu yang pernah ada.

Sebab, pada akhirnya, tepuk tangan memang penting. Ia adalah tanda bahwa kita hadir. Namun, setelah tepuk tangan berhenti, pekerjaan kebudayaan justru dimulai.

Pertunjukan harus diulas dan diteliti. Karya harus dibaca. Pameran harus didiskusikan. Tradisi harus didokumentasikan. Seniman harus diberi ruang. Budayawan harus didengar. Anak muda harus dilibatkan. Pemerintah harus hadir bukan hanya ketika panggung telah dihias, tetapi ketika ekosistem seni sedang dibangun.

Sebab, seni dan budaya tidak membutuhkan kita untuk sekadar membuatnya tetap ada. Yang membutuhkan kita adalah masa depannya. Oleh karena itu, seni dan budaya tidak boleh hidup hanya dari tepuk tangan. (ichsanteuku@yahoo.com)

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Terkuak cara 3 tersangka eksekusi pengusaha Cung Su Liat di Jalan Kopisan Singkawang

13 September 2026

Hasil Liga Champions: Duo Inggris menang tipis, PSG dan Barcelona pesta gol

13 September 2026

Didakwa rugikan negara Rp268 miliar, ini respons mantan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi

13 September 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Hasil Liga Champions: Duo Inggris menang tipis, PSG dan Barcelona pesta gol

13 September 2026

Ketika seni dan budaya hidup dari tepuk tangan

13 September 2026

Terkuak cara 3 tersangka eksekusi pengusaha Cung Su Liat di Jalan Kopisan Singkawang

13 September 2026

Klasemen Liga Arab Saudi: Al Nassr menang, Ronaldo cs kembali pepet Al Hilal di puncak

13 September 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?