Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 2 Maret 2026
Trending
  • Siapkan Gaya Ramadan dengan Nashwa Zahira: Temukan OOTD Menarik di Shopee Big Ramadan Sale
  • Brigade Joxzin Kunjungi Polres Bantul, Tanyakan Perkembangan Kasus Pembunuhan Anggotanya di Sedayu
  • Tamparan Keras Sejarawan Prof Anhar Gonggong pada Dwi Sasetyaningtyas, Orang Pintar yang Bodoh
  • Prediksi Skor Le Havre vs PSG Ligue 1 1 Maret 2026: Head-to-Head dan Streaming Live
  • Retatrutide: Obat Kecil untuk Masalah Besar
  • Foto mesra Jefri Nichol dan Zahwa Massaid jadi sorotan, apakah hubungan?
  • Bukan menggantikan dokter, AI tingkatkan akurasi diagnosis kanker
  • Mengukur Nilai Ekonomi Gas untuk Industri
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Mengukur Nilai Ekonomi Gas untuk Industri
Ekonomi

Mengukur Nilai Ekonomi Gas untuk Industri

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover2 Maret 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Indonesiadiscover.com.CO.ID – JAKARTA.

Pemerintah kembali mempertimbangkan konsep harga gas bumi yang ekonomis bagi industri, mengingat potensi pasokan besar dari proyek Blok Masela. Proyek ini diharapkan mampu menyuplai 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 MMSCFD gas pipa, serta 35 ribu barel kondensat per hari. Namun, harga gas yang terlalu tinggi dapat melemahkan daya saing industri nasional, meskipun proyek hulu migas tetap harus memberikan hasil yang layak bagi investor.

Dalam rapat koordinasi percepatan proyek strategis nasional, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti bahwa harga gas domestik saat ini mencapai US$ 12 per MMBTU. Angka ini dinilai menjadi beban berat bagi pelaku industri dalam negeri. Ia menyatakan, dengan produksi yang akan meningkat, seharusnya harga gas bisa digunakan untuk mendukung industri dengan biaya yang lebih rendah.

Menurut Purbaya, cadangan dan rencana produksi dari Lapangan Abadi Masela bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur biaya energi industri. Ia menegaskan bahwa gas dari proyek tersebut tidak hanya ditujukan untuk ekspor, tetapi juga harus memberi nilai tambah bagi perekonomian domestik melalui harga yang lebih terjangkau.

Dalam forum tersebut, Purbaya secara terbuka menguji batas harga keekonomian gas dari sudut pandang investor. Ia mempertanyakan level harga yang dianggap layak oleh operator proyek agar fasilitas produksi tetap berjalan secara menguntungkan, namun tetap kompetitif bagi konsumen industri. Pertanyaan ini disampaikan kepada manajemen Inpex Corporation Ltd, penggarap utama proyek LNG Abadi Masela.

Blok Masela merupakan salah satu proyek gas terbesar di Indonesia, dengan nilai investasi sekitar USD 21 miliar atau setara Rp 352 triliun. Proyek ini dirancang memiliki kapasitas produksi 9,5 juta metrik ton LNG per tahun (MMTPA) dan 150 MMSCFD gas pipa, dengan potensi cadangan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF) di Laut Arafura.

Menanggapi hal tersebut, Project Director Inpex Masela, Harrad Blinco menyampaikan bahwa penentuan harga keekonomian bukan perkara sederhana. Biaya investasi pembangunan kilang LNG dan fasilitas pendukung terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga memengaruhi perhitungan pengembalian investasi proyek.

Dari sisi pengguna gas, Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), Yustinus Gunawan menilai, arah kebijakan yang disampaikan Menkeu sudah tepat. Ia menyebut Purbaya memahami betul tekanan biaya energi yang dihadapi industri dan bergerak cepat memberi sinyal koreksi harga.

Yustinus mengungkapkan, gas bumi yang dialirkan melalui pipa hasil regasifikasi LNG idealnya dapat ditetapkan pada kisaran USD 9 per MMBTU di titik serah (at plant gate). Menurutnya, secara struktur biaya, harga keekonomian gas bumi tertentu (HGBT) berada di sekitar USD 7 per MMBTU. Jika terjadi gangguan pasokan, maka toleransi maksimal sekitar 15% alokasi masih dinilai ekonomis pada level USD 9 per MMBTU.

Kompleksitas Keekonomian Hulu Migas

Namun, praktisi migas sekaligus Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC), Hadi Ismoyo mengingatkan pembentukan harga gas tidak bisa dilepaskan dari kompleksitas biaya di sektor hulu. Harga gas, menurutnya, merupakan fungsi dari sunk cost, belanja modal (capex), serta biaya operasi (opex) sejak tahap eksplorasi, pengembangan, hingga produksi.

“Semakin besar cadangan dan produksi, serta semakin rendah total biaya, maka proyek gas akan semakin ekonomis. Dalam konteks Masela, total biayanya sangat besar,” ujarnya. Ia menambahkan, perhitungan keekonomian proyek Masela dilakukan sejak kontrak bagi hasil (PSC) ditandatangani pada 1998. Artinya, seluruh biaya yang telah dikeluarkan sejak saat itu harus diperhitungkan agar target internal rate of return (IRR) kontraktor dapat tercapai. Kondisi inilah yang membuat kebutuhan harga gas relatif tinggi.

Infrastruktur Penentu Harga Akhir

Founder & Advisor ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto mengatakan, harga gas yang disebut “ekonomis” sejatinya adalah harga yang mampu menutup seluruh biaya dan memberikan margin usaha yang wajar. Namun, harga gas di tingkat konsumen akhir sangat bergantung pada banyak faktor, mulai dari sumber pasokan, jarak, volume, hingga kesiapan infrastruktur. Tanpa jaringan infrastruktur yang matang dan pasar yang kompetitif, upaya menurunkan harga gas akan sulit terwujud.

“Kalau hanya berharap harga gas murah tanpa dukungan infrastruktur dan keseimbangan suplai–demand, itu tidak akan terjadi,” ujarnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Reaktor Baru, Bahaya Lama: Waspadai Tipu-tipu PLTN Masa Depan

2 Maret 2026

Menteri LH Jelaskan Status Izin Lingkungan CPM, Anak Perusahaan BRMS

2 Maret 2026

Apa Itu Harta PPS di SPT Tahunan Coretax?

2 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Siapkan Gaya Ramadan dengan Nashwa Zahira: Temukan OOTD Menarik di Shopee Big Ramadan Sale

2 Maret 2026

Brigade Joxzin Kunjungi Polres Bantul, Tanyakan Perkembangan Kasus Pembunuhan Anggotanya di Sedayu

2 Maret 2026

Tamparan Keras Sejarawan Prof Anhar Gonggong pada Dwi Sasetyaningtyas, Orang Pintar yang Bodoh

2 Maret 2026

Prediksi Skor Le Havre vs PSG Ligue 1 1 Maret 2026: Head-to-Head dan Streaming Live

2 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?