Kinerja Pasar Saham Indonesia yang Tergelincir
Pekan lalu, pasar saham Indonesia mengalami penurunan yang signifikan. Dalam rentang 26 hingga 30 Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sebesar 6,94%. Hal ini diiringi dengan adanya trading halt pada dua hari perdagangan beruntun. Penurunan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor dan para pihak terkait.
Untuk menenangkan situasi tersebut, Presiden Prabowo Subianto meminta investor tetap tenang dan menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih solid. Ia juga memberi mandat agar batas investasi saham dana pensiun dan asuransi ditingkatkan menjadi 20%. Selain itu, ia meminta proses demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dipercepat.
Selain dari Presiden, Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir juga memberikan komentar untuk meredam kekhawatiran investor. Sovereign Wealth Fund (SWF) dengan aset lebih dari US$1 triliun tersebut telah memulai kucuran investasinya di pasar saham Indonesia.
Dari sisi penegakan hukum, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri juga menyampaikan pernyataan. Lembaga tersebut menyatakan sedang menelusuri indikasi pidana di balik praktik goreng-menggoreng saham yang memicu amblesnya IHSG pekan lalu.
Hasilnya, IHSG pada perdagangan awal pekan ini, Senin (2/2/2026), melanjutkan koreksi sebesar 4,88% ke 7.922. Namun, indikasi positif terlihat dari neraca transaksi asing yang mencatat net buy sebesar Rp654,83 miliar.
Plt Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan kinerja pasar saham di awal pekan tersebut mencerminkan adanya perbaikan meski indeks komposit masih terpangkas. Ia menjelaskan bahwa secara regional pasar modal di Asia sebenarnya juga tertekan, menunjukkan bahwa koreksi IHSG tak hanya disebabkan oleh dinamika pengumuman pembekuan indeks saham RI oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) semata.
“Jadi kita melihatnya ini juga untuk perspektif yang lebih luas dan lebih global. Jadi market kita hari ini turun tapi ada hal-hal baik yang bisa kita lihat,” ujar Kiki dalam konferensi pers di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (2/2/2026).
Kiki juga mengatakan bahwa pada perdagangan Senin kemarin saham-saham yang turun adalah saham yang secara valuasinya sudah tinggi, mengindikasikan aksi profit taking investor yang melakukan rebalancing portofolio mereka. Sebaliknya, dia mencatat saham-saham berfundamental kuat harganya mulai naik kembali.
“Kami mengimbau kepada seluruh investor pasar modal Tanah Air tetap tenang, tidak panik. Investasi di pasar modal itu melihat jangka panjang, kalau melihat fundamental ekonomi kita juga sangat baik dan prospek ke depan juga sangat baik. Jadi tolong jangan panik,” tandasnya.
Prediksi Analis Pasar Saham
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai koreksi IHSG pada perdagangan Senin (2/2/2026) yang lebih dari 4% menunjukkan kekhawatiran pasar yang belum pulih. Dalam pekan ini, David memprediksi IHSG masih akan bergerak sangat volatil dan cenderung defensif.
“Meskipun ada intervensi dari Istana dan Danantara, investor belum sepenuhnya pulih dari kekhawatiran,” ujar David kepada Bisnis, Senin (2/2/2026). Menurutnya, hasil pertemuan BEI, OJK, KSEI dengan MSCI pada Senin (2/2/2026) sore menjadi penentu arah pasar ke depan. Dia bilang, saat ini pelaku pasar dalam mode wait and see yang ekstrem.
Pasar juga menantikan implementasi delapan rencana aksi reformasi pasar modal yang dicanangkan OJK. David menilai aksi reformasi tersebut adalah obat yang tepat di kondisi pasar sekarang, tetapi butuh waktu untuk bereaksi.
Perspektif Para Analis
Senada, analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mencatat pergerakan IHSG pada awal pekan ini masih berada dalam tekanan lanjutan setelah koreksi tajam pekan lalu dan arus keluar dana asing yang besar. Kondisi ini menurutnya menunjukkan bahwa sentimen investor belum sepenuhnya pulih.
“Delapan rencana aksi reformasi pasar modal yang disiapkan OJK, termasuk penguatan tata kelola, transparansi, dan peningkatan free float, dipandang sebagai langkah positif untuk memperbaiki struktur pasar dalam jangka menengah hingga panjang. Jika implementasinya konsisten dan terukur, kebijakan ini berpotensi memulihkan kepercayaan investor dan mendukung perbaikan kinerja IHSG secara bertahap,” kata Abida.
Sementara itu, Analis Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan memperkirakan dalam pekan ini pasar masih akan cukup volatil. Menurutnya, peluang rebound IHSG tetap ada karena penurunan pekan lalu sudah sangat dalam, tapi setelah itu kemungkinan besar pasar akan cenderung konsolidasi dan masih rawan melemah lagi.
Ekky melihat investor saat ini menantikan seberapa cepat dan seberapa tegas eksekusi perbaikan pasar modal yang dijanjikan pemerintah.




